Pemimpin Perempuan dalam Islam

Menyoal Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

Islam menyetarakan martabat perempuan dengan laki-laki. Dalam banyak ayat, Allah menyampaikan bahwa Ia tidak melihat manusia dari perbedaan fisik, tetapi dari tingkat ketakwaannya. Semua manusia memiliki hak yang setara dalam mengabdikan diri terhadap-Nya, dan berkewajiban melaksanakannya sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Qur’an menggambarkan persamaan hak memimpin dalam kisah Balqis dan Sulaiman. Balqis dikisahkan sebagai ratu adikuasa, pemimpin negeri Saba’ yang makmur (Q.S. An-Naml/27:23). Sedangkan Sulaiman adalah Raja dengan wilayah kekuasaan yang begitu luas dengan anugerah sebagai Nabi (Q.S. An-Naml/27:17-18). Kemudian keduanya menjalin hubungan diplomatik, menikah dan semakin memperkuat posisi politiknya.

Di sini Qur’an sebetulnya mengisyaratkan bahwa perempuan dan laki-laki sama-sama memiliki potensi untuk memimpin. Kisah tersebut mendukung spirit emansipasi perempuan agar mampu mandiri dalam berpolitik (Q.S. Al-Mumtahanah/60:12), mandiri berekonomi, dan berkehidupan yang layak (Q.S. An-Nahl/16:97), serta setara dengan laki-laki sebagai hamba (Q.S. An-Nisa/4:124) dan khalifah (Q.S. Al-Baqarah/2:30). Allah bahkan mengutuk suatu negeri yang menindas kaum perempuan (Q.S. An-Nisa/4/75).

Perempuan dalam Islam

Islam dalam sejarahnya memang telah banyak mengangkat martabat perempuan. Saat jaman jahiliyah, perempuan dianggap sebagai barang untuk diperjualbelikan dan diwariskan. Laki-laki boleh menikahi perempuan dalam jumlah tak terbatas, lalu boleh menceraikan semaunya. Memiliki anak perempuan adalah aib masyarakat sehingga harus dikubur hidup-hidup.

Islam kemudian menempatkan perempuan sebagai subyek yang setara dengan laki-laki sebagai hamba dan khalifah. Islam pun memberikan perempuan hak dalam mendapatkan warisan keluarga. Saat menikah, mahar sebelumnya hanya diberikan kepada orang tua wali, dan Islam memberikannya kepada mempelai perempuan. Hal ini berarti bahwa Islam tidak saja mengakui hak kepemilikan perempuan atas benda, tetapi juga kepada dirinya sendiri.

Tetapi, walaupun pada prinsipnya setara, sampai saat ini perempuan menghadapi persoalan subordinatif yang lebih banyak ketimbang laki-laki. Baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, negara, bahkan agama. “Perempuan adalah setan yang diciptakan untuk laki-laki, maka berlindunglah aku dari seburuk-buruknya setan”. Sebuah adagium yang akrab dalam masyarakat pesantren. Nyatanya, masih sering dijumpai stereotip tentang perempuan yang lebih lemah dan lebih emosional. Karena itu dianggap wajar untuk dilecehkan, dipukuli, atau bahkan diperkosa. Karena itu juga, dia tidak pantas bekerja di ranah publik, karena berbahaya dan tidak akan mampu, maka lebih baik mengurusi rumah. Bahkan tidak jarang dijumpai kandidat perempuan dalam pemilihan politik yang kandas akibat efektifitas isu agama.

Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

Memang terdapat sejumlah ayat, yang jika dibaca secara parsial dan tidak dikontekstualkan dengan asbabun-nuzul dan asbabul-wurud-nya, akan terlihat subordinatif terhadap perempuan. Salah satu ayat yang sering digunakan yakni; “kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan)….” (Q.S. An-Nisa/4:34). Padahal jika dimaknai lebih mendalam, kata ar-rijal yang merujuk pada laki-laki dalam ayat tersebut adalah gender term dalam Bahasa Arab. Berbeda maknanya dengan ad-dzakar (laki-laki) sebagai sex term.

Fazlur Rahman dan Amina Wadud berpendapat senada, bahwa maksud kepemimpinan laki-laki dalam ayat tersebut tidak bersifat permanen, tetapi fungsional, yaitu saat laki-laki mampu membuktikan kelebihannya dalam memimpin, menafkahi keluarga, serta menjamin dua bagian hak warisnya untuk mendukung perempuan dalam keluarga. Maka jika perempuan lebih memenuhi tiga kriteria tersebut, sang perempuan lebih berhak memimpin. Qur’an dan Sunah tidak saja berlaku saat masa turunnya. Tetapi untuk menjawab persoalan semua jaman, dengan situasi, kondisi, dan kompleksitasnya yang berbeda-beda. Maka, harus secara utuh dan teliti dalam mengkontekstualkan asbabun-nuzul dan asbabul-wurud setiap Ayat Qur’an dan Hadist dalam berbagai persoalan.

Mengoptimalkan perempuan berarti mengoptimalkan sebagian besar potensi sumber daya manusia. Dan saat ini, di jaman yang telah jauh berbeda dari jaman jahiliyah, kepemimpinan perempuan dalam domestik dan publik adalah suatu niscaya. Untuk mengoptimalkan potensi ini, negara perlu lebih pro aktif memberdayakan perempuan dalam sektor pendidikan dan ekonomi, dan menopangnya dengan pembangunan suprastruktur berwawasan keadilan gender. Sudah saatnya perempuan lebih percaya diri untuk tampil memimpin, menunaikan hak dan martabatnya. Kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan tidak ditentukan oleh jenis kelamin, tetapi ditentukan oleh kapabilitas dan kredibiltasnya.

 

Oleh: Imam Achmad Baidlowi*
Ketua Umum IMM Renaissance FISIP – UMM 2019/2020

Perempuan dan Hijab

Empati pada Korban Pelecehan Seksual?

Pelecehan seksual merupakan segala bentuk tindakan seksual yang tidak diinginkan, termasuk di dalamnya permintaan atau perilaku seksual yang dilakukan baik secara fisik, lisan, isyarat, atau cara lainnya yang membuat korban merasa malu, terintimidasi, terganggu, dan tersinggung.

Akhir-akhir ini pelecehan seksual sering kali terjadi, dilansir dari web online liputan 6 menunjukkan bahwa terdapat dua puluh dua kasus terkait pelecehan seksual, sementara berdasarkan data yang bersumber dari catatan tahunan 2018 (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2018 menjelaskan bahwa terdapat kasus perkosaan sebanyak 619 dan kasus persetubuhan atau eksploitasi seksual sebanyak 555.

Sejumlah 266 kasus dilaporkan kepada polisi, dan 160 kasus masuk dalam proses pengadilan. Kasus-kasus pelecehan seksual tersebut adalah yang terlaporkan, belum termasuk kasus lainnya yang masih tidak diketahui.

Maraknya kasus pelecehan seksual kemungkinan besar akan menimbulkan dampak-dampak yang tidak diinginkan bagi korban. Dampak fisik yang terjadi dapat berupa luka pada tubuh, kerusakan  organ, kehamilan, bahkan kematian. Sementara dampak psikis dapat berupa trauma yang merupakan respons terhadap rasa takut, kehilangan harga diri dan perasaan tak berdaya dalam kondisi yang mendadak dan mengejutkan.

Korban pelecehan seksual membutuhkan pertolongan, tetapi sayangnya terdapat beberapa berita yang menyatakan jika ada pihak yang justru menyalahkan korban saat mereka berusaha untuk melapor. Selain itu, penegakan hukum yang masih bias terkait kasus pelecehan seksual juga kerap kali menjadi akar masalah. Sehingga, bukan tidak mungkin lagi jika masih banyak korban pelecehan seksual yang memilih untuk bungkam.

Sejauh ini dapat ditemukan banyak komunitas atau organisasi yang bertujuan untuk melindungi perempuan, seperti contohnya koalisi perempuan Indonesia, komnas perempuan, Samahita Bandung, Hollaback Jakarta, dan Lentera Sintas Indonesia.

Menurut hemat penulis, komunitas-komunitas tersebut tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan pihak-pihak perempuan lain yang tersebar di daerah-daerah sekitar Indonesia. Sekecil atau sebesar apapun perkumpulan-perkumpulan perempuan, formal maupun non-formal, penting rasanya menyuarakan tentang perlindungan bagi korban pelecehan seksual.

Immawati sebagai sosok-sosok perempuan yang menjadi bagian dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memegang peranan penting untuk memahami lebih dalam lagi terkait isu-isu perempuan terutama tentang pelecehan seksual.

Di antara cara-cara yang dapat dilakukan adalah sosialisasi tentang apa itu pelecehan seksual, bagaimana mengambil sikap jika menjadi korban, dan bagaimana menempatkan diri saat dipercaya menjadi pendengar korban pelecehan seksual.

Penempatan diri yang tepat saat dipercaya menjadi pendengar cerita korban pelecehan seksual akan sedikit menurunkan tingkat stres korban, dan salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi pendengar yang baik adalah meningkatkan rasa empati, yaitu mampu menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan berusaha ikut merasakan bagaimana jika seandainya ia berada dalam posisi seperti korban.

Oleh: Relung Fajar Sukmawati
Sekretaris Umum PK IMM Reformer UIN Maulana Malik Ibarahim Malang


FDK Renaissance

Tingkatkan Peran Immawati dalam Organisasi, IMM Gelar Forum Diskusi Keperempuanan

Mendorong kader perempuannya atau biasa dikenal Immawati untuk terlibat aktif di masyarakat, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat (PK) Renaissance Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM laksanakan Forum Diskusi Keperempuanan (FKD), Jumat-Ahad (22-24/2).

Agenda bertemakan “Memaksimalkan Peran Immawan dan Immawati dalam Organisasi Melalui Wacana Gender dan Keperempuanan” tersebut, dihadiri Uzlifah Majelis Kader Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Malang sebagai Stadium Generale.

Dalam pembukaannya, Uzlifah mengungkapkan, bahwa Immawati harus menjadi eksekutor gagasan. Baginya, perempuan saat ini sudah banyak yang baik dalam berwacana, namun kurang dalam mengeksekusi.

Uzlifah juga berharap, agar FDK dapat menjadi sarana belajar Immawan dan Immawati sebagai mitra yang serasi dalam berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, sosial dan politik. “Kedepan perempuan  harus progresif dan memaksimalkan peluang dalam ranah publik,” ujarnya.

Selain itu, Rio Andhika, Ketua Umum PK IMM Renaissance FISIP UMM berharap agar FDK dapat menjadi sarana saling memahami peran antara Immawan dan Immawati. “FDK bukan hanya diperuntukan Immawati, tapi juga Immawan. Mereka harus paham terkait wacana ini (red. Gender),” jelas Rio.

“Dengan itu, Immawan dan Immawati  dapat memahami yang menjadi hak dan kewajibannya dalam organisasi tanpa ada yang membedakannya,” Jelasnya. (git)