Insaf Nasional

Makhluk Sosial dan Keinsafan Nasional

Negara kita Indonesia ini adalah negara yang besar dan dihuni oleh ratusan juta penduduk dan mempunyai sumber daya alam melimpah dan memiliki keberagaman. Untuk itu, Satukan kesadaran dan pandangan untuk tolong menolong dan gotong royong antar sesama warga masyarakat yang menderita kesusahan atau musibah. Karena dengan kesadaran itulah kita dapat mewujudkan negara Indonesia yang bersatu dan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Singkirkan moral individualisme, kekerasan, persekusi, saling membenci dan mencaci antar sesama anak bangsa.

Di tengah kondisi bangsa yang  sangat carut-marut dengan banyaknya kasus. Narkoba, korupsi, konflik kepentingan, penyebaran informasi palsu (HOAX), isu SARA, dll. Dengan kondisi carut marut dan kesembronoan tersebut akan menjadi bom waktu (konflik, perpecahan, kekerasan, keretakan sendi-sendi negara) bagi Indonesia, Maka dibutuhkan kesadaran atau keinsafan seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Saat ini negara Indonesia termasuk negara berkembang. Tantangan yang dihadapi oleh negara berkembang adalah banyaknya rakyat miskin, tingkat pendidikan rendah dan akses kesehatan atau angka kematian sangat tinggi. Dan yang menjadi bahan renungan adalah penderita kemiskinan, kriminal, korupsi, saling memfitnah, mencemooh, konflik intra agama itu adalah umat Islam sendiri selaku masyarakat mayoritas di negara Indonesia.

Saat ini aset atau kekayaan di Indonesia di kuasai oleh asing dan segelintir konglomerat. Para pengusaha dan konglomerat hidup semakin kaya dan sejahtera, Sedangkan warga masyarakat hidup semakin lemah tak berdaya dan sulit mengakses kesehatan, pendidikan, dll. Untuk menjawab persoalan yang dihadapi negara Indonesia saat ini. Setiap elemen masyarakat perlu saling gotong royong, tolong-menolong dengan menyedekahkan (berderma), menjalin persatuan dan persaudaraan antar sesama untuk mencapai negara Indonesia yang adil, damai makmur dan sejahtera sesuai cita-cita kita hidup bernegara.

Ketika seluruh rakyat Indonesia sudah memenuhi kebutuhan dasar (primer) hidupnya, maka sebagian masyarakat Indonesia akan lebih mudah bekerja menafkahi hidup maupun mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lainnya. Selain itu, ketika rakyat sudah memenuhi kebutuhan dasar, maka masyarakat akan mampu berinteraksi, berkreasi dan mengaktualisasi diri dalam menjalani kehidupan dengan harmonis dan sejahtera dalam bermasyarakat dan bernegara. Maka dengan kondisi itulah, dalam proses penyelengaraan kenegaraan dan kemasyarakatan akan tercapai kemajuan, harkat dan martabat bagi rakyat dan  negara itu sendiri.

Eksistensi Manusia

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Allah SWT., seperti jin dan malaikat. Dikatakan makhluk yang sempurna karena manusia di karunia oleh Allah SWT berupa akal dan nafsu. Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin diciptakan dari api. Allah SWT menciptakan malaikat agar senantiasa beribadah kepada-Nya. malaikat selalu taat dan tidak pernah bermaksiat pada Allah. Sedangkan jin diberikan pilihan untuk taat atau bermaksiat pada Allah. kebanyakan jin kufur kepada Allah, bahkan golongan jin yang kafir lebih banyak dari golongan manusia.

Manusia adalah makhluk sosial, karena manusia hidup bertetangga dengan manusia lainnya. Manusia tidak akan bisa dan susah hidup tanpa ada orang di sekitar yang membantu ketika mengalami musibah. Berbicara mengenai manusia sebagai makhluk sosial. Manusia di ciptakan dengan berbagai macam agama, suku, ras dan kepercayaan. Maka manusia harus mampu hidup harmonis dengan segala perbedaan dan keberagaman.

Manusia Sosial.

DRS, H, Ishomuddin,MS. Dalam buku Sosiologi Perspektif Islam. Mengatakan bahwa, sejak lahir manusia ada ditengah-tengah manusia yang melahirkannya dan yang mengurusinya sampai isi dapat berdiri sendiri sebagai suatu pribadi. Hidup ditengah-tengah kelompok atau di dalam kelompok, menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat. Kelompok inilah yang mematangkan seorang individu menjadi suatu pribadi. Dari kenyataannya yang demikian, hakikatnya manusia merupakan makhluk yang unik, yang merupakan perpaduan antara aspek individu sebagai perwujudan dirinya sendiri dan merupakan makhluk sosial sebagai perwujudan anggota kelompok atau anggota masyarakat. (Hal:42).

Segi utama lainnya yang perlu diperhatikan ialah bahwa manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendirian, karena ia memang makhluk sosial. Secara naluriah, manusia hidup dalam masyarakat, dan apabila ada dalam kelompok ia akan mampu berbuat lebih. Ia jelas tidak dapat dipisahkan dari induknya, familinya, ataupun dari pribadi lain dan kelompok masyarakatnya. Manusia tidak akan pernah dapat melawan sifatnya sendiri.

Allah berfirman dalam Al-Qur’uran surah Al-Hujurat ayat ke 113. “hai manusia! Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu berbagai bangsa dan berbagai puak. Supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu islah yang paling takwa di antara kamu. Sungguh Allah maha mengetahui, maha sempurna pengetahuannya”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menurut Al-Quran manusia secara fitri adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan bagi mereka. (Hal:47).

Manusia itu pada hakikatnya tidak dapat hidup sendiri atau menyendiri. Manusia kata orang Yunani “zoon pooliticon” yaitu manusia itu makhluk yang bersosial, politik, dan bergaul. Manusia tidak dapat hidup dengan mengucilkan diri atau memisahkan diri dari orang lain. Seperti: seorang anak sangat memerlukan asuhan dan rawatan yang cukup lama agar menjadi bayi yang sehat, baik dan tumbuh besar.

Begitu pun, dengan manusia harus bergabung menjadi anggota suatu kelompok yang bernama masyarakat. Hidup berkelompok dan bermasyarakat itu suatu kebutuhan yang mutlak bagi manusia, karena dapat bekerja sama, tolong menolong, gotong-royong dan membagi fungsi dan peran sesuai dengan pekerjaan dan minat masing-masing individu.

Agar suatu warga masyarakat dapat hidup aman, damai, harmonis, dan sejahtera. Maka manusia dengan manusia lain mengadakan pertemuan atau musyawarah bersama untuk membuat persetujuan, menentukan norma-norma, dan nilai-nilai luhur di masyarakat yang dapat menunjang kedamaian dan kesejahteraan sesuai tujuan hidup antar sesama masyarakat.

Dan juga, karena individu dan kelompok masyarakat telah membentuk nilai-nilai dan norma-norma tersebut, nilai-nilai dan norma itu tidak hanya sebagai slogan pemanis yang berhenti pada ucapan belaka. Melainkan setiap masyarakat harus menginternalisasikan nilai-nilai dan norma-norma luhur tersebut yaitu perkataan harus selaras dengan perbuatan, dan ketika berinteraksi dengan sesama saling memberikan nasehat, pencerahan dan kebermanfaatan bagi diri sendiri dan masyarakat luas.

Keinsafan Bersama

Mungkin, kita perlu mencermati nasehat dari tokoh bangsa, sang proklamator RI dan Wakil Presiden pertama yaitu Bung Hatta mengenai kesadaran atau keinsafan nasional dalam hidup bermasyarakat dan bernegara yang masih relevan dengan kondisi negara hari ini.

Tiga macam keinsafan sekurang kurangnya harus ada pada kita, supaya kedudukan negara kita di mata dunia kelihatan kokoh. Pertama, keinsafan nasional, yaitu keyakinan bahwa kita adalah satu bangsa, bangsa yang merdeka, dan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air kita dengan segala jiwa dan raga. Tentang keinsafan nasional rakyat kita, kita boleh merasa bangga, semangat kebangsaan tetap meluap-luap.

Keinsafan yang kedua ialah keinsafan bernegara, yaitu pengertian bahwa kita ini mempunyai negara, yang ada hukumnya, ada peraturannya, dan mempunyai susunannya yang tertentu. Dalam hal ini kita boleh bertanya: cukup dalamkah keinsafan bernegara itu dalam jiwa rakyat seluruhnya dan juga dalam kalbu berbagai pemimpin? Berbagai-bagai tindakan yang merugikan negara di mata asing, memberi keyakinan kepada kita, bahwa keinsafan itu belum merata dan belum cukup mendalam. (Lihat Karya Lengkap Bung Hatta, Pada bab 17 Agustus 1947, Halaman: 72-73).

Keinsafan yang ketiga ialah keinsafan berpemerintah. Kita harus mempunyai pengertian, bahwa pemerintah negara kita itu adalah pemerintah kita sendiri, yang patut kita hormati. Negara yang tak punya pemerintah bukanlah negara lagi di mata dunia internasional. Dalam negeri yang berdemokrasi, pimpinan pemerintah itu boleh di kritik. Tetapi cara mengkritik itu harus terbatas dalam garis kesopanan. Juga dalam melakukan kritik itu kita harus insaf akan tanggung jawab kita sendiri. (Lihat Karya Lengkap Bung Hatta, Hal: 73).

Dengan demikian, Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Allah SWT, seperti jin dan malaikat. Dikatakan makhluk yang sempurna karena manusia di karunia oleh Allah SWT berupa akal dan nafsu. Manusia tidak akan susah hidup tanpa ada orang di sekitar yang membantu ketika mengalami musibah. Berbicara mengenai manusia sebagai makhluk sosial. Manusia di ciptakan dengan berbagai macam agama, suku, ras dan kepercayaan. Maka manusia harus mampu hidup harmonis dengan segala perbedaan dan keberagaman. Sang proklamator RI dan Wakil Presiden pertama yaitu Bung Hatta mengenai kesadaran atau keinsafan nasional dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Pertama, keinsafan nasional, yaitu keyakinan bahwa kita adalah satu bangsa, bangsa yang merdeka, dan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air kita dengan segala jiwa dan raga.

Keinsafan yang kedua ialah keinsafan bernegara, yaitu pengertian bahwa kita ini mempunyai negara, yang ada hukumnya, ada peraturannya, dan mempunyai susunannya yang tertentu.

Keinsafan yang ketiga ialah keinsafan berpemerintah. Kita harus mempunyai pengertian, bahwa pemerintah negara kita itu adalah pemerintah kita sendiri, yang patut kita hormati.

Cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia harus di perjuangkan. Marilah kita mulai sekarang bersatu padu, bahu membahu, gotong royong untuk mempertinggi harkat dan martabat negara Indonesia dengan negara-negara tetangga. Sekali Merdeka, tetap Merdeka!.

.

.

*Penulis adalah Fitratul Akbar, Mahasiswa Program Studi, Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.