Doc. IMM Malang Raya

IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja

Tulisan IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja ini dimaksudkan sebagai argumentasi bantahan terhadap esai kawan saya, Akmal di kanal Ibtimes.id (30/10/19) dengan judul Ikatan Mahasiswa Manja.

Akmal yang baik dan para pembaca yang budiman, pinarak setelah membaca esai ini, saya kira pikiran kalian akan berubah. Tapi jangan lupa, siapkan kopi dan rokok sebatang biar tetap santuy.

Kamis kemarin, di sela-sela acara makan malam bersama beberapa kawan Youth Leaders Peace Camp, tak sengaja saya membuka Twitter dan muncul di linimasa saya cuitan dari akun @IBTimesID. Judulnya cukup mengundang penasaran saya sebagai kader IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Judul itu seperti yang ada di paragraf awal tulisan ini.

Awalnya, saya pikir dalam hati “wah tulisan ini sepertinya bagus nih, kayaknya penulisnya cukup kritis melihat IMM. Tak banyak loh kader yang bisa melakukan autokritik terhadap organisasinya sendiri dengan argumentasi naratif seperti ini”. Tapi setelah membacanya tuntas, kiranya tulisan Akmal itu patut diberi bantahan.

Pernyataan Tidak Butuh Jawaban

Untuk itu saya menaruh dua poin penting, yaitu soal logika yang dipakai dan argumentasi pendukung serta evidence (bukti)-nya yang saya kira agak bermasalah.

Pertama, kawan Akmal yang baik, saya apresiasi karena saudara bisa mengkritik organisasi ini dengan esai dan barangkali maksud saudara ada juga yang benar bahwa, sebagian Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) terlalu ‘meninabobokan’ IMM. Sebab, sebagian kader, kritik dengan cara elegan seperti ini mereka tak sanggup.

Kebanyakan dari meraka paling menyek hanya sambat dalam hati dan separuh memilih mundur alon-alon dari IMM setelah tahu organisasinya tidak bebas dari masalah. Itu tidak hanya di IMM, organisasi lain saya kira mengalami hal yang sama. Apalagi menawarkan solusi, saya pikir kok terlalu jarang bagi mereka.

Tapi Akmal, dalam hal ini kita perlu menyusun argumen dengan baik. Di bagian awal saudara mengatakan, ada kawan HMI mengajukan satu pernyataan bahwa ‘IMM itu Ikatan Mahasiswa Manja’ dan saudara sampai saat ini berpikir untuk menjawabnya.

Saudara, secara logika ini keliru. Ingat “pernyataan” itu tidak butuh jawaban, yang dibutuhkan adalah bukti argumentatif (dukungan jika setuju, atau sebaliknya bantahan kalau tidak setuju). Sedangkan, hal itu layak dicari jawabannya jika itu berupa ‘pertanyaan’ (baca buku logika).

Argumen yang Melompat dan Bukti yang Kurang

Kedua, menurut saya, di bagian selanjutnya saudara banyak menyusun argumen yang tidak nyambung, dalam bahasa lain bisa disebut melompat. Misalnya, di sini “… ikatan ini belum dapat sama sekali disebut sebagai organisasi yang mandiri, berdiri di atas kaki sendiri. Dalam banyak kesempatan IMM masih mengekor kepada Muhammadiyah (jika tidak ingin dikatakan menyusu)”. 

Dalam argumen ini, selain gagal menaruh batasan yang jelas, saudara coba menyokongnya dengan dua pendukung yakni soal kebijakan khusus di PTM dan kemandirian ekonomi IMM serta akibat pragmatisme proposal fiktifnya. Namun, secara ide saudara rapuh. Terlihat tertatih-tatih untuk mengatakan sistem ekonomi mandiri adalah kunci kemandirian IMM.

Di samping itu, bukti yang saudara sampaikan tidak tertata dengan baik dan jelas. Padalah hal itu bisa saja benar jika ada data berupa hasil riset terukur yang saudara lampirkan. Maka tidak salah bila esai itu dikatakan sempit, sebuah generalisasi kosong dan mengada-ngada.

Sebetulnya, secara sederhana ada dua masalah mendasar pada esai saudara; Pertama, keburaman maksud. IMM yang disebut mengekor/didikte itu pada PTM atau pada Muhammadiyah. Kedua, keburaman konsep. Saudara tidak mampu membedakan antara “bergantung hidup” dan “berkiblat watak” pada Muhammadiyah.

Studi Kasus: IMM di Malang

Untuk itu, mari memakai kacamata yang jernih melihat IMM secara lebih luas dan kritis. Saudara juga perlu jalan-jalan ke Malang dan beberapa daerah lain untuk lebih dalam memahami IMM.

Di Malang misalnya, ada PTM yang dikenal dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus tercinta-–dan juga banyak masalah–ini tidak ada kata spesial dan manja bagi IMM. Di UMM tidak ada kebijakan khusus seperti mahasiswa wajib Masta (agenda pra-perkaderan) apalagi DAD (agenda perkaderan).

Semua organisasi kemahasiswaan boleh merekrut dan mengadakan perkaderan di UMM. Sehingga di Malang sangat asik kita dengar ada kader IMM-UMM, PMII-UMM, GMNI-UMM, HMI-UMM dan seterusnya. Mereka semua punya Komisariat di UMM namun tidak difasilitasi kampus hatta IMM tidak dikasih ruang khusus di setiap Fakultas.

Tentu alasan di balik tidak diberikannya kebijakan khusus itu supaya IMM sebagai eksponen Muhammadiyah yang ada di kampus bisa lebih mandiri, kritis, maju dan berdaya saing sesuai prinsip fastabiqul khairat. Alasan ini tentu sangat baik.

Oleh karena itu daya kritis para kader tidak hilang. Bahkan, dalam beberapa kesempatan IMM dan jajaran organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek) itu beraliansi untuk melakukan protes (aksi) terhadap kebijakan-kebijakan PTM yang tidak berpihak pada mahasiswa.

IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja

Dalam keterlibatan saya di IMM Malang misalnya, saya lihat gerakan IMM cukup kuat dan mandiri jika dibandingkan dengan berbagai omek lain. Tentu ini klaim saya, namun dalam kurun lima tahun ini saya hitung yang paling banyak secara keorganisasian mengadakan aksi turun ke jalan (vertikal) adalah IMM.

Juga gerakan sosial kemasyarakatan (horizontal) lainya cukup masif dengan sumbangan lewat crowdfunding serta iuran kader. Tentu ini bukan hal buruk seperti merengek di ketiak penguasa. Sekali lagi, IMM bukan Ikatan Mahasiswa Manja.

Jangan disangka saluran dana dari PTM dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Malang itu mudah. Sulitnya minta ampun, urusan administrasi birokrasi, tertib luar biasa kalau ke IMM. Hal ini memicu IMM untuk kreatif mencari dana kegiatan organisasi secara mandiri, misalnya Bidang Ekonomi dan kewirausahaan (Ekowir) Cabang Malang.

Beberapa komisariat membuat inovasi/karya berupa makanan, pakaian, cinderamata untuk dijual saat bazar maupun lewat internet. Langkah itu cukup membantu pendanaan program organisasi. Selain itu ada bantuan suka rela dari saudagar Alumni IMM maupun Muhammadiyah yang dermawan. Tentu tidak terikat.

Walaupun kita semua tahu, sebetulnya secara konstitusional PTM sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sudah kewajibannya membiayai (membina) IMM yang ada di wilayahnya. Itu hak spesial IMM yang seharusnya dipenuhi oleh AUM di mana pun. Berbeda dengan organisasi lain yang tidak punya AUM misalnya.

Lebih dari itu, IMM tidak hanya ada di PTM. Walaupun di PTM, IMM berstatus organisasi otonom (Ortom) namun di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lain ia dianggap omek biasa.  Sama dengan omek lainnya, membangun eksistensi IMM di non-PTM sesungguhnya tidak mudah, sebab tidak semua kampus memberi ruang yang sama untuk Omek.

Akibatnya, soal perkaderan dan pendanaan organisasi cukup menantang. Sekali lagi mereka harus lebih kreatif untuk itu. Dalam tantangan yang ada, di Malang IMM berhasil berdakwah bahkan di kampus yang berbasis Nahdlatul Ulama, yang secara kultur pandangan keagamaan berbeda. Itu butuh effort yang tinggi dan untuk melakukan itu saya yakin kader manja tidak mungkin bisa.

Kemandirian dan Wacana BUMI

Terakhir sebagai contoh, lebih luas lagi, di wilayah yang berbeda, beberapa kader dari Papua misalnya, mampu secara mandiri mencari sponsor untuk bisa jauh-jauh datang berjalar ke Pulau Jawa. Dalam banyak temuan, di Jawa mereka ikut DAM, forum JIMM, dan berbagai forum pemikiran lainya dengan jumlah dana cukup besar tapi tidak merengek ke PTM.

Oh iya, perlu diingat bahwa realisasi Badan Usaha Milik Ikatan (BUMI) sebagai sektor usaha mandiri IMM sudah pernah dimulai beberapa tahun lalu oleh DPP namun gagal. Sebab, sebetulnya hal itu tidak mendapat dukungan positif dari Muhammadiyah karena alasan kematangan manajerial dan sustainability. Badan usaha hanya oleh dimiliki oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Pun jika mau dipaksakan fokus ortom selain Aisyiyah sebetulnya bukan pada ekonomi persyarikatan namun pada pembangunan sumber daya manusia Muhammadiyah. Itu sebabnya hatta Pemuda Muhammadiyah yang lebih dewasa dan Nasyiatul Aisyiyah tidak punya badan usaha sendiri. Semoga malam ini ada cuitan baru dari akun Twitter @IBTimesID.

Wallahualam bisshawab.

 

 

Oleh: Rizki Ode Prabtama
*) Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya

 

Pernah dimuat di laman ibtimes.id pada 2 November 2019

IMM Malang

IMM Tuntut Kapolda Sultra Dicopot

IMM-MALANG.ORG – Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) se-Indonesia berduka. Kader terbaik IMM, Immawan Randi, tertembak saat menggelar unjuk rasa di kantor DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9).

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IMM Najih Prastiyo mengungkapkan, Randi tertembak di bagian dada kanan saat bentrokan pecah antara mahasiswa dengan pihak pengamanan.

Najih menyampaikan, turut berbelasungkawa yang begitu dalam atas kejadian tersebut. Baginya, peristiwa gugurnya Randi adalah bukti tindakan represif yang dilakukan oleh pihak keamanan terhadap mahasiswa saat menyampaikan aspirasinya.

“Kami, IMM se-Indonesia menyatakan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya salah satu kader IMM yang tertembak peluru tajam ketika melakukan aksi unjuk rasa di Kendari, Sulawesi Tenggara. Ini adalah kehilangan yang sangat besar bagi kami,” ungkap Najih.

Najih lantas mempertanyakan prosedur pengamanan aksi yang kemudian sampai  menodongkan senjata dan terjadi penembakan meregang nyawa. Menurut dia, tidak dibenarkan prosedur pengamanan aksi sampai dengan terjadi penembakan peluru tajam.

“Secara pribadi saya mengecam atas terjadinya peristiwa ini. Bagaimana bisa dibenarkan prosedur pengamanan unjuk rasa dengan memakai senjata lengkap dengan peluru tajam. Ini mau mengamankan aksi, atau mau perang kepada mahasiswa.

Pihak kepolisian harus bertanggung jawab mengusut kasus ini sampai tuntas, dan kami kader IMM se-Indonesia akan mengawal penuh kasus ini,” kata Najih.

Atas kasus ini, Najih menuntut Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mencopot Kapolda Sulawesi Tenggara yang dinilai telah gagal dan lalai dalam memberikan jaminan keamanan bagi mahasiswa dalam menyuarakan aspirasinya. Menurut Najih, penyampaian aspirasi secara lisan dan tertulis dilindungi oleh undang-undang.

“Mahasiswa itu bukan penjahat negara, yang harus ditembaki dengan seenaknya saja. Kami menuntut kepada Kapolri untuk mengusut kasus ini sampai benar-benar terang dan pelaku penembakan kader kami (Immawan Randi) dapat tertangkap secepatnya,” kata Najih.

Di akhir, Najih menyerukan kepada kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah se-Indonesia untuk melakukan konsolidasi di masing-masing basis dan level pimpinan menyerukan aksi solidaritas atas meninggalnya Randi ketika di medan aksi dan melawan segala bentuk represi dari pihak keamanan terhadap mahasiswa.

“Kepada seluruh kader IMM se-Indonesia, mari kita rapatkan barisan dan melakukan konsolidasi di basis dan setiap level kepemimpinan untuk menyerukan aksi atas tewasnya saudara kita Immawan Randi,” ucap dia. (git)

Peserta Forum Cendekiawan Merah 2019
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang

Nafas Baru Cendekiawan Muda Muhammadiyah

Ada semacam kegelisahan di tengah aktivis muda Muhammadiyah tentang bagaimana organisasi modernis ini di masa depan. Apakah stamina intelektual masih melekat pada Muhammadiyah? Menguatnya gejala fanatisme dan tren –ekonomi, politik dan life style kiwari di akar rumput adalah sebab banyak orang enggan menjawab pertanyaan menukik itu.

Di samping itu, Ahmad Syafii Ma’arif misalnya dalam buku “Menggugat Modernitas Muhammadiyah,” menyebut, energi pemikiran baru banyak ter-aborsi pada pelaksanaan atau implementasi kerja-kerja nyata atau dalam bahasa lain pragmatisme dalam arti yang positif -gerakan amal.

Beberapa hari lalu kami, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya mengadakan short course pemikiran yang kami sebut Forum Cendekiawan Merah (FCM). Selama lima hari, agenda ini sengaja kami desain sebagai upaya menjaga suluh pembaharuan pemikiran di Muhammadiyah.

Sebagaimana telah dicatat oleh banyak peneliti, Robert W. Hafner misalnya mengatakan bahwa Muhammadiyah sudah menjadi salah satu pusat pengembangan pemikiran yang kuat tentang demokrasi, pluralisme, dan syariah. Selain itu bancmark Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern atau gerakan Islam modern dapat kita temui pada karya-karya misalnya, Mitsuo Nakamura, Julian Benda, Deliar Noer William Shepard, James L Peacock dan masih banyak lagi.

Pun agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejak kelahirannya Muhammadiyah identik dengan karakter pembaharu (Tajdid). Hal ini misalnya dapat kita lihat secara jelas bagaimana K.H Ahmad Dahlan sendiri memulai gerakan ini.

Spirit yang digunakan adalah pembaharuan untuk meretas kejumudan umat Islam dan masyarakat pribumi pada saat itu. Hadirnya Sekolah, PKO, dan lembaga filantropi lainnya adalah tanda yang nyata. Mustahil lahirnya gerakan-gerakan kuat seperti demikian itu tidak berangkat dari pemikiran yang kuat pula.

Sebetulnya, FCM hendak mendorong lahirnya para cerdik cendekia baru dengan berbagai disiplin ilmu dari rahim Muhammadiyah. Oleh karena, di abad kedua ini, Muhammadiyah tentu harus terus melangkah maju, memperbarui hasil yang dulu dianggap ‘baru’.

Banyak sekali lahan pembaruan yang punya potensi garap, misalnya ekologi, ekonomi, pendidikan, teknologi, politik dan lain sebagainya. Sebagai contoh, bagaimana pemikiran Muhammadiyah soal ekologi? Jelas, demikian perlu dijawab oleh Muhammadiyah, jika memang Muhammadiyah mengkampanyekan istilah berkemajuan. Biarpun begitu, semuanya itu perlu dilakukan dengan semangat pembaruan yang tinggi. Melihat sejarah bisa jadi salah satu menjaga semangat itu.

Dus, dengan melihat konteks sejarah pemikiran Muhammadiyah yang dinamis itu, short course yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Malang Raya ini, bermaksud menyediakan wadah bagi kader-kader IMM seluruh Indonesia untuk menyelami, menelusuri, dan mengelaborasi jejak pemikiran pembaharuan tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Tema yang diangkat yakni “Dialog Pemikiran Pembaharuan di Muhammadiyah”. Tentu, upaya ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah demi menjaga semangat pembaharuan Muhammadiyah itu sendiri demi menatap 100 tahun ke depan –mengisi abad kedua-nya.

Bagaimana FCM?

Berkolaborasi bersama Suara Muhammadiyah dan Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang, kami memulai FCM dengan Dialog Ilmiah –bedah buku Fresh Ijtihad: Manhaj Pemikiran Keislaman Muhammadiyah di Era Disrupsi. Buku karya Prof. M Amin Abdullah ini setelah membacanya kami rasa senafas dengan ide FCM yang belakangan ini kami gagas.

Seperti, perlunya membincang ulang makna ‘Berkemajuan’ ala Muhammadiyah di Abad 21. Dalam bukunya beliau menyandingkan Islam berkemajuan dengan Islam Progresif yang dalam bahasa pemikir Islam kontemporer Abdullah Saeed disebut dengan “progressive-ijtihadi”.

Di buku spektakuler itu di antaranya Prof. Amin menyebut “adalah tugas para pakar di lingkungan Muhammadiyah, baik di lingkungan Pusat, Wilayah, Daerah dengan berbagai Majelis, Badan, Ortom (Organisasi Otonom) dan lain-lain. Lebih-lebih di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk membuat check list sejauh mana kriteria Islam yang berkemajuan yang termaktub dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua, produk Muktamar ke-46 (2010) tersebut paralel, sehaluan, berbeda atau berseberangan dengan apa yang disebut-sebut sebagai Islam Progresif dalam dunia akademik kajian keislaman kontemporer” Juga membahas gejala populisme Islam yang muncul seperti kebangkitan konservatisme Islam dari Spritualisasi Islam ke Politisasi Islam yang menguat di akar rumput beriringan dengan situasi politik electoral.

Mengutip pendapat Azhar Syahida dalam IBTimes.id  03/08, pada intinya dalam buku itu, jika kita telisik bersama, Prof. M. Amin Abdullah tengah mempertanyakan, bagaimana pembaharuan Muhammadiyah untuk seratus tahun ke depan?

Hadir sebagai pembicara pada bedah buku tersebut adalah Guru Besar UIN Maliki Malang Prof. Imam Suprayogo dan Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah Dr. Pradana Boy ZTF. Selanjutnya para peserta FCM yang merupakan delegasi IMM seluruh Indonesia dikarantina. selama lima hari metode yang gunakan agaknya berbeda dengan forum-forum keilmuan yang umumnya digunakan di berbagai tempat.

Di FCM, sebetulnya yang hendak kami berikan ke peserta bukan hanya cekokan ceramah berjam-jam oleh pemateri namun cara belajar itu sendiri yang kami utamakan. Para peserta yang berjumlah tiga puluh orang kader membaca sumber-sumber ilmiah (buku, jurnal, laporan penelitian) yang kami siapkan secara lengkap, membuat review buku dan paper pemateri setiap harinya, dan merevisi secara detail esai yang telah ditulis oleh mereka sendiri.

Serta mendiskusikan ide-ide baru yang mereka temukan. keseluruhan aktivitas peserta didampingi oleh lima orang fasilitator yang memiliki portofolio sebagai penulis dan pembaca. Dalam bahasa saya, minimal yang dapat dibawa pulang para cendekiawan muda Muhammadiyah itu ialah cara memilih sumber ilmiah, cara membaca, cara menulis dan bagaimana menegosiasikan ide kreatif mereka.

Tak lupa yang juga penting dalam FCM ialah, informasi baru dari para pembicara yang sebelumnya tidak didapatkan oleh peserta di daerahnya masing-masing. Ada empat tokoh muda Muhammadiyah yang memiliki kapasitas, ide-ide segar seputar Muhammadiyah kami undang sebagai pembicara.

Di antaranya Mu’arif, peneliti sejarah di Muhammadiyah sekaligus Redaktur Suara Muhammadiyah; Hasnan Bachtiar, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah; Fajar Riza Ul Haq, Staf Khusus Mendikbud RI, dan Piet Hizbullah Khaidir, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.

Banyak ide segar yang diberikan para pemateri lewat paper dan ceramahnya. Misalnya, Piet Hisullah Khaidir menutur, Muhammadiyah perlu banyak ‘catatan kaki’ untuk menjelaskan secara sederhana pikiran-pikiran maju dari para begawan Muhammadiyah sampai ke akar rumput. Menurut Piet, catatan kaki itulah peran dari para cendekiawan muda –tak lain adalah kader IMM. Sebab, tanpa rujukan, penjelasan, interpretasi (catatan kaki) yang lebih renyah dan dekat dengan akar rumput dari pemikir muda Muhammadiyah itulah ide-ide maju Prof. M Amin Abdullah enggan diterima.

Dengan FCM ini Kami melihat nafas baru cerdik cendekia muda Muhammadiyah tumbuh. Relevan dengan bidang kajian para kader di Kampus sebagai mahasiswa, banyak pemikiran dan ide baru mereka sumbangkan kepada Muhammadiyah kini dan hari esok. Contohnya, di antara mereka ada yang bicara tentang Pengembangan Pendidikan dan Pusat Riset Teknologi di Muhammadiyah, Muhammadiyah dan Pemihakan Ekologi, dan masih banyak lagi.

Penutup

Hemat saya, sejalan dengan pernyataan Prof. Din Syamsuddin bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus menjadi pelopor gerakan ‘Ijtihadis’ yang menawarkan solusi bukan ‘Jihadis’ yang cenderung konfrontatif. Maka para kader IMM harus menjadi cerdik cendekia untuk menerjemahkan ide-ide besar Muhammadiyah hingga terwujudnya praksis keagamaan yang berkemajuan dan progresif di tengah masyarakat.

Para kader muda cendekiawan ini dipersiapkan ke depan akan menjadi generasi baru Jaringan Intelektual Muhammadiyah (JIMM) misalnya.  Juga secara jangka panjang akan mengisi pos-pos kepemimpinan di organisasi induk Muhammadiyah dan amal usahanya sejak ranting hingga pusat. Agar Muhammadiyah dapat memimpin, menuntun kebangkitan Islam berkemajuan yang tidak bertabrakan dengan semangat zaman.

Oleh: Ode R. Prabtama
(Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya)

 

Ardy Renaissance

Meningkatkan Budaya Literasi Melalui Semangat “Gerakan Ruba Dirimu”

“ Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah” tidak asing lagi ditelinga kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Kalimat tersebut sering kita dengar di forum-forum formal maupun diskusi kultural yang sering diadakan oleh IMM dari Level Komisariat hingga pusat.

Namun, apakah semua kader IMM memahami makna dari kalimat tersebut? Jawabannya ada di masing-masing individu kader IMM. Lantas apa sebenarnya makna dari kalimat tersebut?

Bagi saya, kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat mendalam. “Ilmu Amaliah”, berarti segala ilmu yang kita pelajari dan baik hendaknya kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip sebuah pernyataan dari Imam Syafi’i, beliau menyampaikan bahwa “ Ilmu adalah yang bisa memberi manfaat, bukan hanya sekedar di hafalkan”.

Kalimat tersebut mengajarkan kita bahwa ilmu itu haruslah kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, jangan hanya di konsumsi sendiri (onani intelektual). Hal tersebut menunjukkan pentingnya kita mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari demi meluruskan pemahaman terhadap masyarakat luas.

Sedangkan kalimat, “Amal Ilmiah” berarti segala sesuatu yang kita amalkan harus sesuai dengan fakta, landasan serta mampu dibuktikan secara rasional. Dalam mengamalkan sesuatu kita harus benar-benar menelaah kebenarannya, jangan sampai sesuatu yang kita amalkan membuat orang lain tersesat. Kita sering menemukan beberapa orang yang mengakhiri suatu diskusi dengan debat kusir.

Lantas, apa dampak dari debat kusir tersebut? Dampaknya tentu beragam, mulai dari saling caci sampai adu pukul. Ada dua faktor penyebab terjadinya hal tersebut.

Faktor yang pertama adalah kurangnya pemahaman terkait topik yang dibahas sehingga asal bicara saja. Faktor yang kedua adalah hanya mengacu pada kebenaran individu tidak berusaha untuk melihat dari kebenaran publik.

Jika kita membuka Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) pada halaman X, maka kita akan menemukan kalimat “ Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah”. Kalimat tersebut merupakan salah satu poin dari enam penegasan yang dimiliki oleh IMM. Hal tersebut menunjukkan bahwa IMM harus hadir sebagai organisasi kemahasiswaan yang mampu memberikan pencerahan terhadap masyarakat.

Selain bergerak dirana kemahasiswaan, IMM juga bergerak dirana agama dan masyarakat. Lantas, apa yang harus dimiliki oleh kader sebelum melakukan dakwa atau memberikan pencerahan ke tiga rana di atas? Dalam SPI ada tiga hal yang mendasar yang harus dimiliki oleh setiap kader, di antaranya adalah Regiulitas, Humanitas dan Intelektualitas.

Namun, sampai hari ini peran IMM masih dipertanyakan di tengah masyarakat. IMM belum mampu menunjukkan taringnya di tengah permasalahan yang ada di Indonesia saat ini. Banyak persoalan yang melanda bangsa kita saat ini, mulai dari disparitas politik yang menyebabkan disintegrasi di tengah masyarakat.

Hal tersebut mengingatkan kita pada awal kelahiran IMM, di mana pada saat itu banyak organisasi yang berafiliasi dengan beberapa partai politik. Sehingga menjadi keharusan IMM hadir untuk menjawab persoalan bangsa pada era orde lama.

Sudah lebih dari setengah abad IMM ada di tengah masyarakat, banyak hal yang menjadi tantangan bangsa kita ke depannya. Dengan melihat polarisasi politik yang cenderung membuat masyarakat terpecah belah, ditambah lagi adanya kelompok-kelompok tertentu yang menginginkan suatu konsep negara baru.

Kurangnya kedewasaan serta pemahaman terhadap suatu masalah yang terjadi, membuat masyarakat gampang terprovokasi. Hal tersebut sangatlah disayangkan, di mana masyarakat menjadi korban atas perang kepentingan para elit politik yang sedang berlaga. Kurangnya budaya literasi semakin mempertajam perpecahan di akar rumput. Masyarakat terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian yang ada tanpa melihat latar belakang dan dampak dari masalah yang sedang terjadi.

Berbicara budaya literasi, Indonesia masih terpuruk di level bawah. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU), Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei.

Indonesia hanya mampu unggul dari negara Botswana, sedangkan di urutan pertama di raih negara Finlandia. Tidak hanya Sektor pendidikan yang menjadi indikator dalam survei tersebut. Indikator lain dalam survei ialah jumlah dan kemudahan mengakses perpustakaan.

Lantas bagaimana dengan hasil penelitian lembaga lain? berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Program For International Student Assessment (PISA). Berdasarkan hasil penelitian dari PISA, menunjukkan minat baca dari masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Dari 70 negara yang memenuhi kualifikasi Indonesia hanya berada pada rangking 62 dengan skor 397.

Data tersebut membuktikan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Hal tersebut menjadi renungan buat kita semua. Lantas bagaimana dengan budaya literasi di internal IMM? Memang belum ada penelitian khusus terkait budaya literasi di lingkungan IMM. Namun, hal tersebut bisa terjawab dengan melihat peran IMM dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam berbagai forum misalnya, cenderung kader IMM hanya sekedar hadir untuk memenuhi undangan saja atau hanya terlihat eksis saja. Tidak banyak kader yang mampu mengeluarkan gagasan-gagasannya, hampir proses dialektika dalam forum IMM sangatlah rendah.

Namun hal tersebut masih bisa kita debatkan. Lantas apa yang harus dilakukan IMM agar meningkatkan budaya literasi di Indonesia?

Untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia, IMM harus memperkuat gerakan intelektul di internalnya terlebih dahulu. Gerakan intelektual harus mulai dibumingkan oleh kader IMM.

Lantas, apakah IMM harus fokus membumikan gerakan intelektual dalam internalnya saja? Tentu tidak, IMM harus hadir sebagai pelopor untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Sembari memperkuat gerakan intelektual dirana internal, IMM juga harus memperkuat gerakan dirana eksternal.

Lantas gerakan intelektual yang seperti apa yang harus diperkuat? Dengan melihat permasalahan di atas, ada tiga aspek yang harus disiapkan. Yang pertama adalah menyediakan ruang baca, dengan menyediakan ruang baca dapat membuat masyarakat mudah mengakses buku-buku yang mereka cari.

Dengan memanfaatkan ruang publik, IMM bisa hadir di tengah masyarakat. Seperti membuka lapak baca buku gratis di taman-taman Kota dan ruang terbuka lainnya.

Yang kedua adalah membuka ruang diskusi atau rung pikir, dengan adanya ruang-ruang diskusi diharapkan mampu meningkatkan daya kritis masyarakat. IMM harus bersinergis dengan LSM, Pemerintah Desa dan memanfaatkan ruang publik lainnya.

IMM harus hadir membuka cakrawala berpikir masyarakat. Diskusi-diskusi mengenai isu kontemporer dan permasalahan yang ada diharapkan mampu membuka nalar kritis masyarakat.

Yang ketiga adalah membuka ruang tulis, tentu tidak semua masyarakat suka menulis. Tidak hanya masyarakat saja, kader IMM juga tidak semuanya suka menulis. Dengan adanya ruang menulis diharapkan memperkuat gerakan intelektual, serta mampu menyampaikan keresahan-keresahan yang dialami oleh masyarakat. Tidak hanya sekedar memberikan pelatihan-pelatihan kepenulisan kepada masyarakat, IMM harus mampu menyediakan ruang untuk mempublikasi hasil tulisan.

Konsep gerakan intelektual di atas dapat kita sebut “Gerakan Ruba Dirimu” yaitu gerakan yang mengarah pada ketiga aspek di atas, yaitu ruang baca, ruang diskusi atau ruang pikir dan ruang menulis. Dengan “Gerakan Ruba Dirimu” diharapkan mampu meningkatkan budaya literasi yang ada di internal IMM maupun di tataran masyarakat secara umum.

Harapannya “Gerakan Ruba Dirimu” tidak hanya menjadi sebuah konsep semata. Mulai dari sekarang, saya mengajak kepada semua lapisan IMM mulai dari level komisariat sampai pusat untuk membumikan dan mengaplikasikannya. Saatnya IMM hadir diruang-ruang publik sebagai bentuk dari mengamalkan nilai-nilai “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar”.

Mengutip moto dari Koran Partai Sosialis Italia dalam buku “pijar-pijar pemikiran Gramsci”yang ditulis oleh A Pozzolini. Koran yang diberi nama L’ Ordine Nuovo ( Majalah Mingguan Kebudayaan Sosialis) mempunyai moto sebagai berikut“ Belajarlah karena kita akan membutuhkan segenap kecerdasan kita.

beragitasilah karena kita akan membutuhkan segenap antusiasme kita. berorganisasilah karena kita akan membutuhkan segenap kekuatan kita”.

Dari moto tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa dalam memperjuangkan sesuatu kita harus memiliki kecerdasan, semangat dan kekuatan.

Bahwa dalam memperjuangkan “Gerakan Rubah Dirimu” kita tidak bisa bekerja sendiri, kita memerlukan semangat dan kekuatan besar untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Oleh karena itu, dengan kekuatan, semangat dan kecerdasan yang dimiliki setiap kader IMM, maka “Gerakan Ruba Dirimu” harus direalisasikan dalam bentuk nyata.

.

Ditulis oleh: Muhammad Ardi Firdiansyah
Sekretaris Bidang Keilmuan IMM Komisariat Renaissance FISIP-UMM

Bendera IMM

Kampus Muhammadiyah Harusnya Melindungi Ortom, Bukan Sebaliknya

Viralnya kasus pembakaran bendera organisasi IMM di Universitas Muhammadiyah Sorong (UM Sorong) mengundang reaksi keras dari beberapa kalangan ortom, khususnya IMM. Mulai dari DPP IMM, DPD IMM, hingga Pimpinan Cabang IMM di Indonesia bersama-sama mengeluarkan pernyataan sikap yang di dalamnya mendesak diselenggarakannya evaluasi terhadap PTM yang terindikasi berbenturan dengan Ortom yang aktif melakukan kegiatan di Universitas Muhammadiyah.

Sebua ironi tentunya, mengingat UM Sorong adalah salah satu instansi pendidikan yang sekaligus amal usaha milik Muhammadiyah. Artinya, sebagai amal usaha Muhammadiyah, UM Sorong memilih kewajiban untuk membesarkan Ortom yang ada di dalamnya agar proses kaderisasi tetap berjalan di level grassroot Muhammadiyah. Maka sangat wajar ketika aksi pembakaran bendera IMM Sorong yang dilakukan oleh oknum omek lain disoroti dan mengundang reaksi keras dari aktivis muda Muhammadiyah di berbagai daerah.

Sesuai dengan kaidah PTM yang tercantum di Bab 10 Pasal 39 ayat 3 yang berbunyi organisasi dilingkungan PTM terdiri dari 1) Senat Perguruan Tinggi Universitas Muhammadiyah, dan 2) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Bahwasanya PTM dengan kaidah PTM yang telah disahkan pada tahun 1999 ini memliki kewajiban untuk mendukung jalannya aktivitas organisasi IMM. Artinya, PTM harus menyediakan tempat untuk setiap aktivitas organisasi IMM karena menjadi tangan kanan dakwah Muhammadiyah di ranah kemahasiswaan.

Kasus yang menimpa IMM Sorong menjadi salah satu bukti betapa UM Sorong masih tidak terlalu peduli kewajibannya sebagai amal usaha Muhammadiyah sebagaimana yang telah diatur di dalam kaidah PTM. Oleh sebab itu, selain PP Muhammadiyah atau pihak berwajib memberikan teguran, kaidah PTM harus dipahami dan diimplementasikan secara menyeluruh sesuai dengan kemampuan PTM itu sendiri. Jangan sampai hanya karena soal background organisasi di masa lampau menjadi alasan akhirnya Ortom tidak diperhatikan kebutuhan dan eksistensinya di PTM.

Dalam konteks ini, kewajiban PTM adalah menghidupkan IMM dan memberikan wadah yang layak bagi seluruh proses perkaderan IMM. Ketika itu tidak ditunaikan, maka PTM harus dikritik dan diluruskan oleh PP Muhammadiyah dan IMM sebagai organisasi yang sah dan diakui di PTM. Kalau perlu, di berhentikan dari jabatan sebagai pengurus PTM dan digantikan oleh kader-kader Muhammadiyah yang lebih peduli dan paham mekanisme yang berlaku di amal usaha Muhammadiyah.

 

 

Oleh: Nur Alim M.A.
Sekretaris Jendral Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IMM Jawa Timur

Tulisan ini pernah diterbitkan di laman kulitinta.co pada Jumat, 12 Juli 2019
dengan link: https://kulitinta.co/2019/07/12/kampus-muhammadiyah-harusnya-melindungi-ortom-bukan-sebaliknya/

Kuntowijoyo Muhammadiyah

Pendidikan Profetik: Solusi Pendidikan Abad 21

Yang hendak dikaji dalam tulisan ini ialah profetisme sebagai satu paradigma pendidikan di abad 21. Profetisme sebagai satu paradigma layak diamini oleh semua umat beragama (agama samawi). Sebab, bagi umat yang mengaku sebagai pengikut para nabi, mewarisi nilai-nilai kenabian = prophetic dalam setiap kepercayaannya (Baca: profetisme).

Kuntowijoyo, seorang intelektual kebanggaan Indonesia telah lama menarasikan profetik dalam kajian-kajian ilmu sosial. Salah satu bukunya yang cukup populer di kalangan akademisi ialah “Islam Sebagai Ilmu”.

Di buku itu pada halaman 81-108 Kuntowijoyo sedikit banyak mengulas tentang narasi profetik. Sebetulnya, gagasan profetisme ditemukan Kuntowijoyo lewat kajian mendalam mengenai diskursus tentang islam yang dekat dengan transformasi sosial.

Baginya, maksud tuhan mengutus para nabi ke muka bumi ialah dengan visi pembebasan. Pembebasan yang dimaksud adalah yang merepresentasi spirit stransendensi dan tidak berkiblat pada sekularisme seperti pembebasan yang dikampanyekan sejak dulu di dunia Barat.

Pendidikan profetik tidak dengan sederhana dipahami sebagai pendidikan yang di dalamnya terkandung nilai-nilai moral agama. Tetapi lebih dari itu, pendidikan yang berangkat dari paradigma hingga praksis gerakan yang menyeru pada pembebasan umat manusia. Artinya, pendidikan pofetik yang dimaksud adalah yang melingkupi secara keseluruhan pendidikan mengenai orientasi dan praktik kebijakan.

Sebab, pendidikan adalah proses trasformasi etis yang membangkitkan akal budi dan tindakan manusia yang humanis. Maksud ini kiranya sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, terkandung dalam BAB II Pasal 3 UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003.

Bahwa, Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warganegara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Dalam konteks pendidikan profetik, pertama, humanisasi berarti pendidikan semestinya berorientasi pada proses memanusiakan manusia. Menempatkan peserta didik sebagai subjek pendidikan bukan sebagai objek. Artinya, pendidikan tidak mencetak peserta didik sebagai robot pekerja. Di samping itu, pendidikan juga resisten terhadap bentuk bentuk dehumanisasi.

Kedua, liberasi berarti pendidikan adalah proses pembebasan manusia dari cengkraman kebodohan dan dari segala bentuk penindasan. Bahwa, pendidikan semestinya adalah upaya sistematis untuk meretas ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Olehnya itu, peserta didik dilatih berfikir secara kritis supaya sadar akan persoalan di sekitarnya dan kreatif merumuskan jalan keluar.

Ketiga. Transendensi berarti, pendidikan sebagai locus atau sarana yang menjembatani peserta didik dengan tuhannya. Sebab, sisi transendental dalam pendidikan itulah yang menjadi tenaga masyarakat modern untuk “melawan” arus kapitalisme dan neoliberalisme. Nilai transendensi juga berupaya menanamkan moralitas dan budi pekerti kepada peserta didik.

Situasi pendidikan kita hari ini menyimpan banyak persoalan yang perlu diselesaikan. Di balik semangat perubahan abad 21, tersimpan paradigma kapitalistik dan noeliberal yang diderifasi menjadi kebijakan di lingkungan pendidikan.

Sebagai contoh misalnya, kebijakan standarisasi dan poin penilai akreditasi perguruan tinggi yang mengukur seberapa banyak sebaran lulusan sebuah kampus yang bekerja di korporasi-korporasi ternama.

Jelas, bahwa standarisasi semacam ini menghamba pada kekuatan kapitalis. Sehingga peserta didik dilatih di kampus-kampus hanya bagaimana hidup sebagai seorang pekerja yang melayani kepentingan pasar industri di kemudian hari. Bukan menjadi manusia yang kreatif, mandiri dan berahlak mulia.

Di samping itu, lembaga-lembaga pendidikan terjebak pada logika pasar, bahwa semakin mahal tarif pendidikan maka semakin bagus pula kualitas pendidikan tersebut. oleh karenanya banyak lembaga pendidikan berlomba-lomba menaikkan biaya pendidikan.

Padahal, sebetulnya bukan berarti tarif pendidikan murah bahkan gratis identik dengan kualitas pendidikan rendah. Persoalan ini menampakkan pendidikan sebagai momok bagi kaum papa dan tren bagi kaum berada. Akibatnya, ketimpangan semakin nyata.

Di lingkungan yang berbeda, di sekolah dasar dan menengah, masih banyak persoalan yang nyata. Misalnya, baru-baru ini kasus penganiyayaan Audrey di Kalimantan dan Pencabulan oleh guru terhadap siswa di salah satu SD Negeri di Kota Malang. Hal ini menjelaskan, bahwa dinding moralitas dan ketuhanan semakin keropos pada bangunan pendidikan nasional kita, tidak hanya terhadap peseta didik pun juga para guru dan pelaku kebijakan stakeholder.

Tentu, masalah pendidikan di atas tidak terlepas dari persoalan paradigmatik. Artinya kerangka berfikir pendidikan hari ini perlu dievaluasi secara menyeluruh supaya ancaman dehumanisasi dan gejala disrupsi abad 21 tidak lagi merong-rong tubuh pendidikan kita.

Oleh karena itu, Profetisme sebagai paradigma pendidikan dapat menjadi solusi. Sebab, Pendidikan profetik adalah pendidikan yang humanis (memanusiakan), liberatif (membaskan) dan transenden (berketuhanan) serta sejalan dengan amanah pendidikan nasional Indonesia.

Oleh: Ode Rizki Prabtama, S.Pd
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan
PC IMM Malang Raya

Artikel ini pernah diterbitkan di laman geotimes.co.id. Kamis, 2 Mei 2019
dengan link: https://geotimes.co.id/opini/pendidikan-profetik-solusi-pendidikan-abad-21/

Foto: Istimewa https://alif.id/wp-content/uploads/2019/06/Kuntowijoyo.jpg

Sang Surya Air

Menggagas Sang Surya Air, Solusi Mahalnya Tiket Pesawat

Masyarakat di tanah air sedang mengalami kegelisahan yang disebabkan oleh mahalnya harga tiket pesawat di tengah musim mudik lebaran. Sebagai Negara kepulauan yang bergantung pada sistem penerbangan sebagai penghubung 17 ribu pulau yang tercatat, persoalan ini sesungguhnya amat serius.

Bayangkan saja, Kemenhub melaporkan pada tahun 2018 total 18,7 juta penduduk Indonesia yang melakukan mudik lebaran, 4,8 juta orang/25.6 % diantaranya menggunakan pesawat terbang. Angka ini merupakan yang paling tinggi dibanding moda transportasi yang lainnya.

Alhasil, kenaikan harga tiket pesawat sangat berefek pada jumlah pemudik tahun ini. Data terakhir dari Kemenhub tertanggal 07 Juni 2019, jumlah pemudik tahun ini ternyata turun sekitar 1 juta orang dan penurunan terbesar hingga 37 % terjadi pada pos penerbangan.

Celakanya, pemerintah seolah tak bisa berkutik dan ingin mengambil langkah praktis yang terkesan populis namun tak mampu menyelesaikan masalah. Presiden misalnya, meminta Pertamina untuk menurunkan harga Avtur sedangkan menhub akhirnya hanya menekan maskapai lewat penurunan Tarif Batas Atas (TBA) tiket pesawat.

Masalah yang tak kunjung selesai

Namun setelah harga Avtur dan TBA turun pun, belum ada perubahan yang signifikan. Padahal, jika tak segera diselesaikan, hal ini akan memunculkan kegaduhan yang akan mengganggu stabilitas nasional. Misalnya saja, ekonom senior INDEF malah menilai bahwa strategi tiket mahal penerbangan dilakukan agar jalan tol dipergunakan oleh masyarakat.

Prasangka liar ini pun semakin berkembang, karena beberapa kali kita melihat keputusan-keputusan konyol sekaligus lucu yang dilakukan pemerintah karena gugup dan gagap menghadapi problem ini. Mulai dari menteri perhubungan yang menegur agen travel hingga wacana Presiden untuk mendatangkan maskapai asing demi menekan struktur duopoli pasar yang ternyata melanggar UU No. 1 Tahun 2009.

Masalah duopoli menjadi salah satu sebab yang patut dicurigai. Struktur pasar yang saat ini hanya dikuasai oleh dua perusahaan yakni Lion Air dan Garuda Indonesia dengan total market sharefantastis: 96 %. Hal ini menjadi riskan, karena kekuatan terkait penentuan harga berada sepenuhnya pada tangan produsen bukan lagi melalui dari konsensus tak langsung produsen dan konsumen yang menghasilkan titik ekuilibrium.

Terlebih, aroma kartel akibat duopoli pasar sudah tercium dengan hilangnya ketersediaan tiket AirAsia pada beberapa agen tiket yang ditengarai karena mendapat tekanan dari Lion dan Garuda. Padahal, sebagai satu-satunya maskapai yang masih menggratiskan bagasi penerbangan domestik, AirAsia sebenarnya berpotensi menjadi market leader pada kelas penerbangan berbiaya hemat.

Melihat struktur pasar yang seperti ini, nampaknya tiket murah penerbangan seperti dulu akan berakhir menjadi mimpi. Hal ini pun diamini oleh Menko Perekonomian dan juga KPPU yang sudah menginvestigasi kasus ini, meskipun belum ada hasil.

Sederet problematika ini menjadi semakin ironi karena masyarakat tak mempunyai opsi lain dalam memilih maskapai. Padahal, sebelum melonjaknya sekitar 40-120 % harga tiket pesawat penerbangan domestik secara bersamaan yang dimulai akhir tahun lalu, masih terdapat banyak opsi dalam kelas penerbangan murah (Low Cost Carrier).

Namun, dengan bergeraknya harga kelas penerbangan murah ke ekuilibrium baru yang sulit dijangkau oleh masyarakat, pilihannya terpaksa menjadi : siapa yang menyediakan opsi harga paling murah. Sesuai dengan statement Rusdi Kirana ketika di wawancarai oleh Majalah Angkasa “pesawat saya adalah  yang terburuk di dunia, but you have no choice”. 

Urgensi Muhammadiyah untuk hadir

Oleh karena itu, melihat potensi krisis yang akan terjadi, nampaknya Negara kembali butuh sang penyelamatnya. Layaknya 100 tahun yang lalu ketika Negara mengalami krisis intelektual karena pendidikan dan kesehatan hanya milik mereka yang ningrat dan bangsawan, kali ini pun pesawat seakan hanya milik mereka yang ningrat dan bangsawan.

Sehingga, ide akan hadirnya maskapai penerbangan Muhammadiyah pun menjadi hal yang serius untuk diwujudkan. Hal ini juga selaras jika merujuk pada amanat Muktamar ke 47 yakni pengembangan amal usaha dan gerakan sosial lewat program ekonomi sebagai modal kekuatan strategis Muhammadiyah. Ekspansi di industri penerbangan adalah salah satu cara memainkan peran strategis ekonomi lewat inisiatif untuk memperbaiki struktur pasar.

Pun ternyata pengembangan amal usaha pada bidang transportasi sebenarnya bukanlah hal baru. Dalam catatan KH. Syoedja diceritakan bahwa Kiai Dahlan pernah sangat geram ketika ingin memberangkatkan warga Muhammadiyah untuk berhaji pada tahun 1922, akibat mahalnya biaya tiket kapal laut yang masih tergantung pada pelayaran asing milik Belanda dan India.

Maka bagi Muhammadiyah, ekspansi amal usaha ke bidang transportasi sebenarnya adalah dorongan ideologis dan merupakan hutang sejarah.

Nilai plus dari semua ini adalah, di luar dari aturan yang ketat, industri penerbangan adalah bisnis yang berpotensi menguntungkan bagi Muhammadiyah. Di tengah kondisi pasar domestik yang sedang jengah, rakyat merindukan hadirnya pihak ketiga yang merusak potensi kartel pada industri ini. Apalagi mengingat  laporan Tirto.id yang mengutip sumber dari CAPA-Centre for Aviation bahwa pasar domestik Indonesia adalah salah satu yang terbesar dan akan terus berkembang.

Data membuktikan, hanya dalam waktu 12 tahun, pengguna angkutan udara tumbuh drastis dari angka 30 Juta orang di 2005 menjadi total 97 juta orang pada tahun 2017. Maskapai Sang Surya Air nama maskapai imajiner saya, sebaiknya masuk pada kelas Low Cost Carrier untuk mendorong pergerakan harga ke titik ekuilibrium baru yang lebih terjangkau.

Tantangannya pasti berat, karena duo pemilik singgasana akan melakukan segala hal untuk menghalangi upaya ini. Namun dari segi market, Muhammadiyah tak akan memulai pencarian konsumen dari nol.

Selain masyarakat golongan menengah ke bawah yang ingin CLBK dengan harga tiket yang murah, basis dari anggota dan simpatisan Muhammadiyah yang ditaksir lebih dari 30 juta orang adalah kekuatan tersendiri. Bandingkan dengan total penumpang Citilinkyang hanya 14,6 Juta pertahun dan mendekati jumlah konsumen penguasa di kelas penerbangan murah, yakni Lion Air di angka 33,4 juta penumpang pertahun.

Apalagi, mengutip tulisan Pak M. Pakanna, terdapat 15 triliun dana likuid (jangka pendek) persyarikatan yang belum terpakai. Idle cash yang hanya tersimpan di rekening giro atau deposit pada bank konvensional itu lebih baik diputar pada bisnis ini dibanding hanya mengharapkan return yang ditaksir hanya sekitar 0,5-1 %. Terlebih, modal itu sudah melebihi syarat Menhub yakni minimal modal 8 triliun untuk mendirikan maskapai penerbangan.

Pada akhirnya, dibanding duduk diam menyaksikan kegugupan pak Budi Karya memarahi agen travel atau kegagapan kontra nasionalis pak Jokowi memanggil maskapai asing hanya untuk melayani penerbangan domestik, sebaiknya Muhammadiyah kembali datang (sekali lagi) sebagai penyelamat.

.

.

Oleh: Irsyad Madjid
Ketua Umum PC IMM Malang Raya

Tulisan ini telah dipublish sebelumnya di laman Geotimes.com 11 Juni 2019 dengan link:
https://geotimes.co.id/opini/menggagas-sang-surya-air-solusi-mahalnya-tiket-pesawat/

Debat Calon Ketua dan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas di Auditorium BAU. (Foto: Mirza/Humas)

PEMIRA, IMM UMM: Kampus Laboratorium Terapkan Tri Kompetensi Dasar

Komisi Pemilu Raya Universitas Muhammadiyah Malang (KPR-UMM) mengumumkan pasangan Abdul Aziz Pranata dan Diki Wahyudi dari Partai Aspirasi Sejati (Pasti) sebagai pemenang Pemilihan Raya (Pemira) UMM, Sabtu sore (2/6).

Dengan meraih 5.976 dari 11.503 suara pemilih tetap, hasil rekapitulasi suara yang diumumkan di GKB IV Kampus III UMM tersebut menghantarkan keduanya sebagai Presiden dan Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UMM.

Koordinator Komisariat (Korkom) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) UMM Sandy Riyanto, memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas keberhasilan tersebut.

“Ini pencapaian yang sangat baik. Kader-kader terbaik IMM harus kita dorong untuk terus menjadi pelopor dalam proses perubahan progresif Mahasiswa. Khususnya di UMM,” ungkap Sandy.

Sandy menyampaikan, banyak pihak yang harus diapresiasi dalam pesta demokrasi kampus kali ini, baik panitia penyelenggara Pemira dan seluruh mahasiswa UMM yang telah menggunakan hak suaranya.

“Saya mengapresiasi semua pihak yang telah memberikan hak  suaranya. Terutama kader-kader IMM yang telah berhasil menunjukkan dirinya sebagai kader Ikatan yang mengedepankan kemaslahatan bersama,”ucap mahasiswa asal Palembang tersebut.

Ia juga menegaskan, Pemira merupakan momen dalam menunjukkan sinergisitas komisariat-komisariat IMM di UMM dalam mendelegasikan kader terbaiknya di lembaga intra kampus. Baginya, UMM sebagai kampus besar merupakan laboratorium ideal untuk menerapkan Tri Kompetensi Dasar IMM, yakni Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas.

“Saya berharap, kader-kader IMM yang telah terpilih dapat mengemban amanah dengan baik dan dapat merealisasikan visi-misi sesuai dengan nilai perjuangan Ikatan dan Muhammadiyah,”tuturnya. (Git)

 

Reporter : Fitrah Kharisma M.
Foto         : Mirza/Humas UMM

 

Ponorogo

Cerita Kecil Tentang Pembangunan dan Rakyat Kita

“ Konsep negara Indonesia dibangun atas dasar jaminan hak yang sama satu sama lain ”

Indi dilahirkan dari sebuah keluarga yang sederhana dari tiga bersaudara. Mata pencaharian keluarga yang hanya bergantung pada sektor pertanian dengan dua bidang tanah, bagi Indi sudah sangat mencukupi. Indi dan keluarganya telah memperoleh kebahagiaan. Canda dan tawa hampir selalu menyertai kehidupan di desa Indi, meskipun ada perbedaan agama, perbedaan kemampuan ekonomi dan perbedaan tingkat pendidikan. Inilah desanya yang sederhana. Inilah kedamaian, Indi sering membatin demikian. Inilah negeri yang indah.

Indi membantu orang tuanya di rumah seorang diri saja. Karena kedua saudaranya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kampung. Namun Indi tidak pernah bersusah hati. Desanya sudah amat menyenangkan. Usia Indi yang sudah menginjak 19 tahun sementara ibunya berusia 51 tahun, dan ayahnya menginjak usia 73 tahun. Indi sudah cukup dewasa untuk mengerti orang tuanya yang merenta, dan memilih mengabdi pada orang tua.

Tiap kali matahari pagi mengintip bumi, dengan segera Indi menyiapkan semua keperluan ibu dan ayahnya yang hendak pergi ke sawah. Indi menyiapkan sehelai kain membungkus pasok makanan yang terletak di pinggul ibu, dan sekarung peralatan kerja berada di pundak ayah. Indi suka bekerja dan melihat orang bekerja. Bekerja itu mulia.

Hingga suatu hari, desa Indi didatangi ancaman. Mesin-mesin besar! Mesin-mesin itu bertibaan dan beroperasi di sekitar lahan pertanian mereka. Mesin-mesin itu dijaga manusia berseragam yang berdiri tegak mengelilingi pusat operasi. Mesin-mesin itu hendak menghancurkan!

Tidak ada yang tahu muasal kedatangan mesin tersebut. Namun yang pasti adalah tak lama berselang, meledak banyak protes yang berakhir dengan jerit tangis dan gemuruh amarah. Sebab lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarga dan desa mereka dirusak tanpa ada perundingan dan kesepakatan—sedangkan protes mereka harus ditahan dengan kasar oleh manusia berseragam itu.

Indi mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tidak lama berselang, Indi mulai mengetahui bahwa lahan pertaniannya akan diubah menjadi kawasan industri. Ini adalah kebijakan dari pemerintah yang mengatasnamakan kesejahteraan bagi masyarakat. Ada janji pertumbuhan ekonomi yang pesat bagi masyarakat.

Dalam benak Indi muncul pertanyaan besar kepada negara ini: kenapa perampasan hak oleh segelintir orang dapat dibenarkan dengan alasan memberikan manfaat oleh orang banyak? kenapa perampasan lahan secara paksa dapat dibenarkan dengan alasan akan  membawa pertumbuhan ekonomi yang pesat?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, namun sayangnya, Indi tidak mengetahui duduk perkaranya secara mendalam. Kenyataannya, konsep kenegaraan yang dibangun oleh bapak bangsa tidak mengajarkan perampasan hak. Bila bahkan agama Islam (agama Indi) tidak membenarkan perampasan atas hak beragama orang lain, apalagi perampasan harta?

Sayang sekali Indi tidak mengerti dasar-dasar teoritisnya, bahwa negara Indi dibangun atas dasar jaminan hak yang sama satu sama lain. Tidak ada yang lebih diunggulkan dan juga tidak ada yang direndahkan. Tidak ada jaminan hak yang lebih tinggi bagi seseorang yang terlahir dari keluarga bangsawan dan juga tidak ada pengurangan hak bagi seseorang yang terlahir dari keluarga proletar. Penyetaraan itu demi keutuhan dalam persatuan republik ini tetap terjaga. Sayang sekali Indi hanya merasakan kebenaran tersebut di dalam hatinya, tidak didukung dengan wawasan utuh.

Indi dan warga yang terkena imbas dari pembangunan industri hanya bisa meyakini bahwa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah kebijakan yang bertentangan dengan kebenaran. Namun Indi bingung kepada siapa ia harus mengadu, sebab pemerintah yang tadinya bertugas menampung keluh kesah rakyat, sekarang malah menggelisahkan.

Indi yakin, membiarkan peristiwa ini berlangsung sama halnya dengan memupuk benih-benih penderitaan yang akan tumbuh subur di masa mendatang. Aksi penolakan harus dilakukan, sembari menyadarkan masyarakat terlebih para pemangku kebijakan tentang seberapa berharganya lahan yang mereka miliki

*****

Suasana berubah, yang semula tenteram, nyaman dan harmonis menjadi gaduh, tegang dan penuh amarah. Terlebih lagi dengan adanya pro dan kontra dalam menilai kebijakan ini.

Namun warga desa Indi tetap memutuskan untuk melawan tanpa memaksa mereka yang tidak ingin. Perlawanan butuh energi, dan berdebat terlalu keras antara pro dan kontra di antara warga hanya akan menghabiskan tenaga. Hari demi hari, Indi dan warga desa melakukan aksi yang konsisten dan nyata, yaitu perlawanan terhadap kebijakan tersebut.

Walau banyak tindak kekerasan yang Indi dan warga desa terima dari manusia berseragam di lapangan, tak sedikit pun semangat juang mereka gentar. Karena Indi dan warga desa yakin, apa yang sedang mereka lakukan saat ini adalah salah satu bentuk jihad di jalan kebenaran. Sayangnya Indi tidak tahu, apa yang dilakukan oleh masyarakatnya lebih dari sekedar merebut lahan pertanian: perjuangan mereka adalah perjuangan menjaga kemanusiaan.

Hingga suatu ketika sampailah Indi dan warga desa pada titik kekalahan yang memaksa mereka menjadi terasing di tengah megah peradaban Industrial.

.

.

Muhammad Andy Purnama S. E.
Anak Petani – Komunitas Pena Emas

Kajian Dasar Logika IMM Tamaddun

Tingkatkan Keilmuan Kader, IMM Tamaddun Awali dengan Kajian Dasar Logika

IMM-MALANG.ORG – Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Tamaddun menggelar kajian prinsip dasar logika. Kegiatan yang berlangsung di Masjid AR. Fachruddin Universitas Muhammadiyah Malang ini diikuti oleh sejumlah kader usai shalat terawih, Senin malam (6/5).

Yusuf Afrizal selaku pemateri menyampaikan, materi tentang prinsip dasar logika ini berisikan tentang proposisi dan silogisme. Proposisi dan silogisme adalah suatu pernyataan mengenai antara sesuai dan tidak sesuai. Iya atau tidak.

Yusuf menjelaskan, proposisi dibagi menjadi dua macam berdasarkan bentuknya, yaitu proposisi tunggal dan proposisi majemuk. Contoh dari proposisi tunggal, misalnya “Ali adalah mahasiswa berprestasi”. Sedangkan “Ali dan Umar adalah mahasiswa berprestasi,” merupakan proposisi majemuk yang ditandai dengan kata “dan”.

Salim Akbar Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM komisariat Tamaddun menyampaikan, dasar-dasar logika harus dipahami oleh setiap pembelajar dan kader IMM khususnya.

“Silabus mengenai kajian ini telah ada dan akan berlangsung secara bertahap. Saya berharap kader-kader konsisten mengikuti kajian dan tidak ketinggalan materi setiap pekannya,” ungkap Salim.

Taufik Hidayat, peserta kajian menganggap, memahami dasar-dasar logika sangat penting. “Belajar dasar-dasar logika bagi saya sangat dibutuhkan. Agar saat kita belajar tidak salah dalam menyerap ilmu tersebut,” ucap Taufik.

Ia juga berharap agar kader-kader yang lain dapat mengimplementasikan ilmu dari kajian yang telah diikuti dalam belajar setiap harinya. (Hafizh)