WhatsApp Image 2021-01-23 at 15.30.27

Diskuswati Nasional, Menguatkan Jati Diri Perempuan Yang Sadar Akan Kesetaraan Gender

IMM-MALANG.ORG – Dalam rangka menguatkan jati diri Immawati yang sadar akan kesetaraan gender berbasis Keislaman dan Kemuhammadiyahan, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya menyelenggarakan agenda Pendidikan Khusus Immawati (Diskuswati) Nasional, (23-25/21) di Rumah Baca Cerdas, Malang.

Kegiatan bertemakan “Wacana Kritis Feminisme Muslim” ini, merupakan gagasan dari Bidang Immawati PC IMM Malang Raya untuk menjawab ketimpangan gender yang terjadi di masyarakat serta minimnya kesadaran mengenai permasalahan tersebut.

Uzlifah, Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Malang yang merupakan pembuka acara menyampaikan bahwa agenda ini penting dilakukan karena perempuan dan anak masih tergolong sebagai kelompok rentan yang sering mengalami masalah, seperti kemiskinan, diskriminasi, dan kekerasan.

“Berbicara tentang perempuan, banyak hasil kajian yang menyebutkan bahwa perempuan dan anak rentan mengalami objektifikasi. Hal itu tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga negara-negara di seluruh Dunia”

Uzlifah juga menyampaikan bahwa seiring berjalannya waktu, perempuan mulai menunjukkan peran dalam pembangunan. “Perempuan dapat menjadi aktor strategis dalam pembangunan, tidak hanya pembangunan di desa, tetapi juga pembangunan secara nasional yang dapat mengubah kehidupan masyarakat Indonesia menjadi lebih baik dan sejahtera.”, ujarnya.

Dalam penutup, Uzlifah menyampaikan pesan bagi seluruh peserta Diksuswati Nasional untuk menjadi inspirator, memiliki mimpi besar, percaya diri dan menjadi pribadi yang  mandiri, serta menerapkan nilai-nilai feminisme Muslim bukan hanya sebagai wacana.

Adapun pelatihan ini diikuti oleh perwakilan Cabang IMM se-Indonesia, di antaranya berasal dari Malang, Jambi, Medan, Lampung, Tangerang, Ciputat, Jogja, Salatiga, Samarinda, Bali, Sulawesi tengah,  dan berbagai daerah lainnya.

Setelah Pendidikan berakhir, para peserta akan ditugasi untuk membentuk diskusi-diskusi tentang feminisme dan gender yang mencerahkan serta memasifkan media dengan hashtag #ruangamanperempuan untuk mengedukasi masyarakat sesuai dengan ilmu yang didapat dalam Diskuswati Nasional. (gus)

g1

Catatan Akhir Tahun: “Hasrat Kuasa Muslim Kagetan”

IMM-Malang.org – “Banyak fenomena akhir-akhir ini membuat masyarakat Indonesia kaget dan terkejut sehingga fenomena itu selalu menarik untuk menjadi bahan diskusi. Khususnya mayoritas muslim di Indonesia harus jeli dalam menanggapinya agar tidak mengikuti arus yang ada.”

Demikian pengantar dari moderator Maharina Novia dalam acara Catatan Akhir Tahun dengan tema “ Hasrat Kuasa Muslim Kagetan” yang diselenggarakan Rumah Baca Cerdas (RBC) Institute, Rabu (23/12/2020). Acara ini menghadirkan dua narasumber yaitu Asisten Rektor Universitas Muhammadiyah Malang UMM, Pradana Boy ZTF dan pengasuh Komunitas Padhang Makhsyar, Kiai Nurbani Yusuf.

Pembahasan pertama disampaikan oleh Pradana Boy, “Muslim kagetan menggambarkan satu situasi dalam dunia kita hari ini ada orang yang tiba-tiba memiliki semangat keislaman yang tinggi, sebetulnya itu baik, tapi tiba-tiba lalu semangat keislaman itu diwujudkan dalam bentuk lisan sebagai sesuatu yang asing. sehingga kalau di luar dari yang dipahami menjadi salah, makannya jadi kaget. kaget orang lain berbeda, kaget melihat ada yang berislam tapi tidak pakai jenggot, ada juga kaget orang memahami al-Quran dengan berbagai macam teori.”

“Jadi istilah ini sebenarnya mengandung makna semantik yang sangat baik. Menggambarkan situasi pemihakan terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini. orang gampang kaget nalarnya kurang baik atau kurang pergaulan.” jelasnya.

Menyambung tema yang diangkat yaitu kata sarat kuasa, dalam dunia politik di Indonesia baru saja Presiden tiba-tiba mengadakan reshuffle Kabinet Indonesia Maju Jokowi. Menurutnya, “berita ini mengejutkan, reshuffle kabinet bukan mengejutkan, perang kepentingan itu biasa, dan saling mencari peluang saling mencari kesempatan untuk menjatuhkan menjadi biasa. namun yang menjadi penting adalah ketika kedua yang yang menjadi rival dalam pemilihan umum sudah sama-sama menjadi bagian dari pemerintahan”

“Ini kalau diteorikan demokrasi apa, mungkin sulit mencari teorinya, tapi saya akan mengajukan teori ini yaitu demokrasi gotong royong,” tambahnya.

Pada 10 menit terakhir Asisten Rektor UMM itu menyebut fenomena yang terjadi sebagai “Politik yang cair dan sikap masyarakat yang beku”. Politiknya sudah mencair dengan kedua rival sama-sama menjadi bagian dari pemerintah, sementara di masyarakat beku dengan masih membahas 01 dan 02.

“cara pandang politik sudah menentukan. Satu melihat politik ini sebagai alat, yang lain yaitu muslim kagetan itu menganggap sebagai bagian dari keyakinan”, sesalnya.

Kemudian, pada gilirannya Nurbani Yusuf memulai dengan menyebut bahwa Muhammadiyah sebagai muslim kagetan dan kelompok gagal move on karena sudah mengalami migrasi ideologi.

“kagetan itu kita (Muhammadiyah), Kyai Dahlan 1920 juga mengambil subsidi untuk sekolah dasar yang dirikannya dari kompeni, bukan menolak. Sejak kapan Muhammadiyah anti rezim? NU tetap dengan loyalitasnya, Muhammadiyah istiqomah dengan sikap kritisnya dan keduanya mendapatkan sesuai dengan amal perbuatannya.”, paparnya.

“Jangan heran kalau misalkan dimana-mana banser sudah jadi Kemenag. Tidak hanya itu, Muslimat di DPR RI hampir 35 orang dan gubernur Jawa Timur orang Fatayat bukan orang Aisyiyah. Ini kan problem-problem besar, artinya dulu NU lebih mengambil sikap oposisi terhadap kompeni ada resolusi Jihad, sementara Muhammadiyah kan tidak.” sambungnya.

Muhammadiyah membangun Universitas dan sekolah dalam bidang pendidikan itu merupakan jihad yang dipahami oleh Islam kosmopolit itu jihad melawan kebodohan, membangun rumah sakit itu jihad melawan kemusyrikan agar orang tidak ke dukun tapi ke rumah sakit dan klinik, ada MDMC dan baitulmal itu jihad melawan kemiskinan agar orang tidak pergi ke rentenir, itu yang dipahami oleh KH ahmad Dahlan tentang jihad dalam menurut islam kosmopolit.

“Dilingkungan masyarakat kita masih banyak yang menyikapi suatu fenomena dengan kaget atau bahkan yakin kebenarannya. Sehingga perlu banyak
forum-forum merawat kemanusian seperti RBC, gazebo literasi, dan padhang masyar itu adalah kanal untuk merawat, tidak hanya merawat kemanusiaan tapi juga merawat pemikiran kyai Ahmad Dahlan. Itu bermuhmmadiyah dengan benar dan kembali pada khitah Muhammadiyah.” Ujar Nurbani pada akhir sesi penyampaiannya. (gus)

diki 1

New Normal Dalam Perspektif Kesejahteraan Sosial

Pemerintah indonesia menghimbau supaya masyarakat menjaga produktifitasnya di tengah pandemi yang melanda. New normal atau tatanan kehidupan baru menjadi alternatif untuk menghindari keterpurukan ekonomi pasca pandemi. Inilah alasan mengapa negara harus menerapkan New Normal.

Tercatat sejak 18 juni 2020, terjadi 42.762 kasus covid-19 di indonesia. Ini menandakan kegagalan pemerintah untuk menerapkan konsep New Normal dan menjamin keselamatan masyarakat di tengah pandemi yang melanda. Hal ini meyebabkan ke khawatiran di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang berjuang mencari nafkah serta memenuhi kebutuhan pokonya.

World Health Organization (WHO) memberikan indikator penerapan new normal, salah satunya yaitu tidak menambah penularan atau semaksimal mungkin mengurangi penularannya. Setelah indikator tersebut terpenuhi alangkah lebih baiknya negara bisa menerapkan New Normal sesuai dengan protokol kesehatan.

Namun kita sama-sama bisa menilai belum ada dampak signifikan dengan diterapkannya new normal, malah setiap hari semakin bertambah orang yang terpapar wabah covid-19. 42.762 menunjukan pemerintah tidak siap melaksanakan New Normal serta gagal penerapannya di Indonesia.

Masyarakat di hadapkan banyak pilihan sulit di tengah pandemi ini. Kalau tidak bekerja maka tidak ada penghasilan tapi misalkan masyarakat keluar rumah dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup pertaruhannya nyawa.

Hal tersebut menjadi renungan bagi pemerintah dan kita bersama.

Masyarakat Indonesia bukan berarti tidak disiplin melainkan ada kebutuhan pokok yang harus di penuhi karena negara sudah tidak mampu menjamin kesejahteraan rakyatnya. Salah satu contohnya yaitu bantuan sembako yang diperuntuhkan terhadap masyarakat masih tumpang tindih serta tidak merata.

Jika jumlah kasus yang terpapar covid-19 terus meningkat, tidak sepenuhnya kesalahan ada di  masyarakat. Karena demi memenuhi kebutuhanya mereka bertaruh untuk anak-anak dan keluarganya, antara hidup dan mati di tengah situasi seperti sekarang.

Sejahtera adalah tujuan hidup

Sejahtera menjadi tujuan hidup semua orang tanpa mengenal wilayah dan kebangsaannya. Semua negara di belahan dunia dibentuk dengan tujuan utama yaitu meraih kesejahteraan bagi para penduduknya. Kalaupun masih ada masyarakat yang belum terpenuhi kebutuhannya maka hal tersebut menjadi tanggung jawab negara.

Konstitusi inggris menyebutkan salah satu tujuan didirikannya negara ialah “To eradicate poverty and want througbout the nation” (menghapus kemiskinan dan kekurangan diseluruh negeri). Begitu juga Indonesia, sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk membuat kebijakan yang menghapus segala kekurangan yang dialami oleh masyarakat di tengah pandemi covid-19. Itulah sebenarnya tujuan dari kesejahteraan.

Konstitusi Indonesia sudah jelas menyatakan negara di dirikan dengan salah satu tujuan utama yaitu untuk mewujudkan kesejahteraan umum sebagaimana yang sudah dituangkan dalam pembukaan undang-undang dasar 1945.

Secara umum, kesejahteraan sosial di Indonesia masih sangat di dominasi permasalahan yang sama. Seperti adanya kemiskinan dan ketimpangan kesenjangan sosial. Tentunya persoalan tersebut menunjukan keprihatinan, ditambah lagi dengan adanya pandemi covid-19, masyarakat semakin sengsara.

Model Dan Desain Welfare State

Dalam mengatasi situasi yang sangat genting, New Normal bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan berbagai persoalan dewasa ini. Masih banyak cara yang bisa ditempuh, salah satunya menerapkan model dan desain negara kesejahteraan yang diterapkan di berbagai negara sebelum pandemi covid-19 melanda.

Secara umum, konsep negara kesejahteraan terbagi menjadi dua pokok pembahaasan. Pertama model universal, dengan ketentuan general mencakup semua orang dari kalangan mana pun. Kedua, menerapkan konsep selektif dengan sebuah ketentuan hal mendasar apa yang paling dibutuhkan oleh masyarakat.

Menurut sosiolog Denmark Gosta Esping-Anderson ada tiga model negara kesejahteraan. Salah satunya “The Social-Democratic Welfare State”. Adalah model yang didasarkan pada sebuah prinsip universal dengan memberikan akses pelayanan dan bantuan di tengah pandemi covid-19 berdasarkan kewarganegaraan tanpa melihat jumlah penghasilan.

Model dan desain ini menyediakan kebebasan terhadap warga negara serta membatasi ketergantungan yang sangat tinggi terhadap keluaga dan pasar. Pada intinya negara bertanggung jawab atas segala bentuk kebutuhan bagi masyarakat demi mencapai sebuah kesejahteraan.

Desain tersebut mengeluarkan berbagai opsi pilihan asuransi pribadi dan keluarga serta menekankan pekerjaan penuh bagi seluruh warga negara. Serta tak lupa mengklasifikasikan sistem perpajakan melalui penghasilan masing-masing, sehingga menciptakan gotong royong satu dengan yang lainnya untuk membantu negara dan dikembalikan terhadap masyarakat.

Memang pada dasarnya konsep ini membutuhkan pemasukan pajak yang tinggi karena skala layanannya sangat tinngi juga, namun desain ini juga sesuai dengan penghasilan yang diperoleh di keluarga masing-masing. Desain tersebut di terapkan oleh negara-negara skandinavia seperti Denmark yang terkenal maju.

Konsep atau desain tersebut dapat memberikan manfaat yaitu meningkatkan keamanan ekonomi serta memperluas kesempatan dan memastikan peningkatan standard hidup bagi seluruh warga negara. Tak lupa memfasilitasi kebebaasan, fleksibilitas dan dinamisme pasar. Bukan berarti desain terebut bergantung terhadap pasar.

Pada dasarnya negara mampu menerapkan konsep tersebut demi kesejahteraan masyarakat. Negara-negara maju sudah menerapkan konsep tersebut sebelum pandemi covid-19 menyerang, sehingga pada saat mengalami persoalan saat ini negara tidak lagi beralasan akan terpuruknya keadaan ekonomi.

New Normal bukan satu-satunya cara untuk menyelesaikan berbagai persoalan sekarang, karena nyawa masyarakat indonesia dipertaruhkan demi menyelamatkan perekonomian negara. Namun yang paling utama adalah kehidupan serta bagaimana pemerintah lebih bijak lagi dalam menerapkan kebijakannya.

Konsep negara kesejahteraan bagi penulis menjadi alternatif dari carut marutya berbagai persoalan mulai dari pendidikan, jaminan kesehatan, kebutuhan pokok serta jaminan pekerjaan dan lainnya. Tinggal bagaimana pemerintah meramu sebuah konsep tersebut demi mencapai tujuan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat Indonesia. (gus)

 

Oleh: Diki Wahyudi

Wakil Presiden UMM 2019-2020 dan Sekertaris Bidang Seni, Budaya Dan Olahraga IMM Malang 

Doc. IMM Malang Raya

IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja

Tulisan IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja ini dimaksudkan sebagai argumentasi bantahan terhadap esai kawan saya, Akmal di kanal Ibtimes.id (30/10/19) dengan judul Ikatan Mahasiswa Manja.

Akmal yang baik dan para pembaca yang budiman, pinarak setelah membaca esai ini, saya kira pikiran kalian akan berubah. Tapi jangan lupa, siapkan kopi dan rokok sebatang biar tetap santuy.

Kamis kemarin, di sela-sela acara makan malam bersama beberapa kawan Youth Leaders Peace Camp, tak sengaja saya membuka Twitter dan muncul di linimasa saya cuitan dari akun @IBTimesID. Judulnya cukup mengundang penasaran saya sebagai kader IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). Judul itu seperti yang ada di paragraf awal tulisan ini.

Awalnya, saya pikir dalam hati “wah tulisan ini sepertinya bagus nih, kayaknya penulisnya cukup kritis melihat IMM. Tak banyak loh kader yang bisa melakukan autokritik terhadap organisasinya sendiri dengan argumentasi naratif seperti ini”. Tapi setelah membacanya tuntas, kiranya tulisan Akmal itu patut diberi bantahan.

Pernyataan Tidak Butuh Jawaban

Untuk itu saya menaruh dua poin penting, yaitu soal logika yang dipakai dan argumentasi pendukung serta evidence (bukti)-nya yang saya kira agak bermasalah.

Pertama, kawan Akmal yang baik, saya apresiasi karena saudara bisa mengkritik organisasi ini dengan esai dan barangkali maksud saudara ada juga yang benar bahwa, sebagian Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) terlalu ‘meninabobokan’ IMM. Sebab, sebagian kader, kritik dengan cara elegan seperti ini mereka tak sanggup.

Kebanyakan dari meraka paling menyek hanya sambat dalam hati dan separuh memilih mundur alon-alon dari IMM setelah tahu organisasinya tidak bebas dari masalah. Itu tidak hanya di IMM, organisasi lain saya kira mengalami hal yang sama. Apalagi menawarkan solusi, saya pikir kok terlalu jarang bagi mereka.

Tapi Akmal, dalam hal ini kita perlu menyusun argumen dengan baik. Di bagian awal saudara mengatakan, ada kawan HMI mengajukan satu pernyataan bahwa ‘IMM itu Ikatan Mahasiswa Manja’ dan saudara sampai saat ini berpikir untuk menjawabnya.

Saudara, secara logika ini keliru. Ingat “pernyataan” itu tidak butuh jawaban, yang dibutuhkan adalah bukti argumentatif (dukungan jika setuju, atau sebaliknya bantahan kalau tidak setuju). Sedangkan, hal itu layak dicari jawabannya jika itu berupa ‘pertanyaan’ (baca buku logika).

Argumen yang Melompat dan Bukti yang Kurang

Kedua, menurut saya, di bagian selanjutnya saudara banyak menyusun argumen yang tidak nyambung, dalam bahasa lain bisa disebut melompat. Misalnya, di sini “… ikatan ini belum dapat sama sekali disebut sebagai organisasi yang mandiri, berdiri di atas kaki sendiri. Dalam banyak kesempatan IMM masih mengekor kepada Muhammadiyah (jika tidak ingin dikatakan menyusu)”. 

Dalam argumen ini, selain gagal menaruh batasan yang jelas, saudara coba menyokongnya dengan dua pendukung yakni soal kebijakan khusus di PTM dan kemandirian ekonomi IMM serta akibat pragmatisme proposal fiktifnya. Namun, secara ide saudara rapuh. Terlihat tertatih-tatih untuk mengatakan sistem ekonomi mandiri adalah kunci kemandirian IMM.

Di samping itu, bukti yang saudara sampaikan tidak tertata dengan baik dan jelas. Padalah hal itu bisa saja benar jika ada data berupa hasil riset terukur yang saudara lampirkan. Maka tidak salah bila esai itu dikatakan sempit, sebuah generalisasi kosong dan mengada-ngada.

Sebetulnya, secara sederhana ada dua masalah mendasar pada esai saudara; Pertama, keburaman maksud. IMM yang disebut mengekor/didikte itu pada PTM atau pada Muhammadiyah. Kedua, keburaman konsep. Saudara tidak mampu membedakan antara “bergantung hidup” dan “berkiblat watak” pada Muhammadiyah.

Studi Kasus: IMM di Malang

Untuk itu, mari memakai kacamata yang jernih melihat IMM secara lebih luas dan kritis. Saudara juga perlu jalan-jalan ke Malang dan beberapa daerah lain untuk lebih dalam memahami IMM.

Di Malang misalnya, ada PTM yang dikenal dengan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Di kampus tercinta-–dan juga banyak masalah–ini tidak ada kata spesial dan manja bagi IMM. Di UMM tidak ada kebijakan khusus seperti mahasiswa wajib Masta (agenda pra-perkaderan) apalagi DAD (agenda perkaderan).

Semua organisasi kemahasiswaan boleh merekrut dan mengadakan perkaderan di UMM. Sehingga di Malang sangat asik kita dengar ada kader IMM-UMM, PMII-UMM, GMNI-UMM, HMI-UMM dan seterusnya. Mereka semua punya Komisariat di UMM namun tidak difasilitasi kampus hatta IMM tidak dikasih ruang khusus di setiap Fakultas.

Tentu alasan di balik tidak diberikannya kebijakan khusus itu supaya IMM sebagai eksponen Muhammadiyah yang ada di kampus bisa lebih mandiri, kritis, maju dan berdaya saing sesuai prinsip fastabiqul khairat. Alasan ini tentu sangat baik.

Oleh karena itu daya kritis para kader tidak hilang. Bahkan, dalam beberapa kesempatan IMM dan jajaran organisasi mahasiswa ekstra kampus (omek) itu beraliansi untuk melakukan protes (aksi) terhadap kebijakan-kebijakan PTM yang tidak berpihak pada mahasiswa.

IMM Bukan Ikatan Mahasiswa Manja

Dalam keterlibatan saya di IMM Malang misalnya, saya lihat gerakan IMM cukup kuat dan mandiri jika dibandingkan dengan berbagai omek lain. Tentu ini klaim saya, namun dalam kurun lima tahun ini saya hitung yang paling banyak secara keorganisasian mengadakan aksi turun ke jalan (vertikal) adalah IMM.

Juga gerakan sosial kemasyarakatan (horizontal) lainya cukup masif dengan sumbangan lewat crowdfunding serta iuran kader. Tentu ini bukan hal buruk seperti merengek di ketiak penguasa. Sekali lagi, IMM bukan Ikatan Mahasiswa Manja.

Jangan disangka saluran dana dari PTM dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah di Malang itu mudah. Sulitnya minta ampun, urusan administrasi birokrasi, tertib luar biasa kalau ke IMM. Hal ini memicu IMM untuk kreatif mencari dana kegiatan organisasi secara mandiri, misalnya Bidang Ekonomi dan kewirausahaan (Ekowir) Cabang Malang.

Beberapa komisariat membuat inovasi/karya berupa makanan, pakaian, cinderamata untuk dijual saat bazar maupun lewat internet. Langkah itu cukup membantu pendanaan program organisasi. Selain itu ada bantuan suka rela dari saudagar Alumni IMM maupun Muhammadiyah yang dermawan. Tentu tidak terikat.

Walaupun kita semua tahu, sebetulnya secara konstitusional PTM sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sudah kewajibannya membiayai (membina) IMM yang ada di wilayahnya. Itu hak spesial IMM yang seharusnya dipenuhi oleh AUM di mana pun. Berbeda dengan organisasi lain yang tidak punya AUM misalnya.

Lebih dari itu, IMM tidak hanya ada di PTM. Walaupun di PTM, IMM berstatus organisasi otonom (Ortom) namun di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) lain ia dianggap omek biasa.  Sama dengan omek lainnya, membangun eksistensi IMM di non-PTM sesungguhnya tidak mudah, sebab tidak semua kampus memberi ruang yang sama untuk Omek.

Akibatnya, soal perkaderan dan pendanaan organisasi cukup menantang. Sekali lagi mereka harus lebih kreatif untuk itu. Dalam tantangan yang ada, di Malang IMM berhasil berdakwah bahkan di kampus yang berbasis Nahdlatul Ulama, yang secara kultur pandangan keagamaan berbeda. Itu butuh effort yang tinggi dan untuk melakukan itu saya yakin kader manja tidak mungkin bisa.

Kemandirian dan Wacana BUMI

Terakhir sebagai contoh, lebih luas lagi, di wilayah yang berbeda, beberapa kader dari Papua misalnya, mampu secara mandiri mencari sponsor untuk bisa jauh-jauh datang berjalar ke Pulau Jawa. Dalam banyak temuan, di Jawa mereka ikut DAM, forum JIMM, dan berbagai forum pemikiran lainya dengan jumlah dana cukup besar tapi tidak merengek ke PTM.

Oh iya, perlu diingat bahwa realisasi Badan Usaha Milik Ikatan (BUMI) sebagai sektor usaha mandiri IMM sudah pernah dimulai beberapa tahun lalu oleh DPP namun gagal. Sebab, sebetulnya hal itu tidak mendapat dukungan positif dari Muhammadiyah karena alasan kematangan manajerial dan sustainability. Badan usaha hanya oleh dimiliki oleh Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Pun jika mau dipaksakan fokus ortom selain Aisyiyah sebetulnya bukan pada ekonomi persyarikatan namun pada pembangunan sumber daya manusia Muhammadiyah. Itu sebabnya hatta Pemuda Muhammadiyah yang lebih dewasa dan Nasyiatul Aisyiyah tidak punya badan usaha sendiri. Semoga malam ini ada cuitan baru dari akun Twitter @IBTimesID.

Wallahualam bisshawab.

 

 

Oleh: Rizki Ode Prabtama
*) Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya

 

Pernah dimuat di laman ibtimes.id pada 2 November 2019

Peserta Forum Cendekiawan Merah 2019
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang

Nafas Baru Cendekiawan Muda Muhammadiyah

Ada semacam kegelisahan di tengah aktivis muda Muhammadiyah tentang bagaimana organisasi modernis ini di masa depan. Apakah stamina intelektual masih melekat pada Muhammadiyah? Menguatnya gejala fanatisme dan tren –ekonomi, politik dan life style kiwari di akar rumput adalah sebab banyak orang enggan menjawab pertanyaan menukik itu.

Di samping itu, Ahmad Syafii Ma’arif misalnya dalam buku “Menggugat Modernitas Muhammadiyah,” menyebut, energi pemikiran baru banyak ter-aborsi pada pelaksanaan atau implementasi kerja-kerja nyata atau dalam bahasa lain pragmatisme dalam arti yang positif -gerakan amal.

Beberapa hari lalu kami, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya mengadakan short course pemikiran yang kami sebut Forum Cendekiawan Merah (FCM). Selama lima hari, agenda ini sengaja kami desain sebagai upaya menjaga suluh pembaharuan pemikiran di Muhammadiyah.

Sebagaimana telah dicatat oleh banyak peneliti, Robert W. Hafner misalnya mengatakan bahwa Muhammadiyah sudah menjadi salah satu pusat pengembangan pemikiran yang kuat tentang demokrasi, pluralisme, dan syariah. Selain itu bancmark Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern atau gerakan Islam modern dapat kita temui pada karya-karya misalnya, Mitsuo Nakamura, Julian Benda, Deliar Noer William Shepard, James L Peacock dan masih banyak lagi.

Pun agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejak kelahirannya Muhammadiyah identik dengan karakter pembaharu (Tajdid). Hal ini misalnya dapat kita lihat secara jelas bagaimana K.H Ahmad Dahlan sendiri memulai gerakan ini.

Spirit yang digunakan adalah pembaharuan untuk meretas kejumudan umat Islam dan masyarakat pribumi pada saat itu. Hadirnya Sekolah, PKO, dan lembaga filantropi lainnya adalah tanda yang nyata. Mustahil lahirnya gerakan-gerakan kuat seperti demikian itu tidak berangkat dari pemikiran yang kuat pula.

Sebetulnya, FCM hendak mendorong lahirnya para cerdik cendekia baru dengan berbagai disiplin ilmu dari rahim Muhammadiyah. Oleh karena, di abad kedua ini, Muhammadiyah tentu harus terus melangkah maju, memperbarui hasil yang dulu dianggap ‘baru’.

Banyak sekali lahan pembaruan yang punya potensi garap, misalnya ekologi, ekonomi, pendidikan, teknologi, politik dan lain sebagainya. Sebagai contoh, bagaimana pemikiran Muhammadiyah soal ekologi? Jelas, demikian perlu dijawab oleh Muhammadiyah, jika memang Muhammadiyah mengkampanyekan istilah berkemajuan. Biarpun begitu, semuanya itu perlu dilakukan dengan semangat pembaruan yang tinggi. Melihat sejarah bisa jadi salah satu menjaga semangat itu.

Dus, dengan melihat konteks sejarah pemikiran Muhammadiyah yang dinamis itu, short course yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Malang Raya ini, bermaksud menyediakan wadah bagi kader-kader IMM seluruh Indonesia untuk menyelami, menelusuri, dan mengelaborasi jejak pemikiran pembaharuan tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Tema yang diangkat yakni “Dialog Pemikiran Pembaharuan di Muhammadiyah”. Tentu, upaya ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah demi menjaga semangat pembaharuan Muhammadiyah itu sendiri demi menatap 100 tahun ke depan –mengisi abad kedua-nya.

Bagaimana FCM?

Berkolaborasi bersama Suara Muhammadiyah dan Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang, kami memulai FCM dengan Dialog Ilmiah –bedah buku Fresh Ijtihad: Manhaj Pemikiran Keislaman Muhammadiyah di Era Disrupsi. Buku karya Prof. M Amin Abdullah ini setelah membacanya kami rasa senafas dengan ide FCM yang belakangan ini kami gagas.

Seperti, perlunya membincang ulang makna ‘Berkemajuan’ ala Muhammadiyah di Abad 21. Dalam bukunya beliau menyandingkan Islam berkemajuan dengan Islam Progresif yang dalam bahasa pemikir Islam kontemporer Abdullah Saeed disebut dengan “progressive-ijtihadi”.

Di buku spektakuler itu di antaranya Prof. Amin menyebut “adalah tugas para pakar di lingkungan Muhammadiyah, baik di lingkungan Pusat, Wilayah, Daerah dengan berbagai Majelis, Badan, Ortom (Organisasi Otonom) dan lain-lain. Lebih-lebih di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk membuat check list sejauh mana kriteria Islam yang berkemajuan yang termaktub dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua, produk Muktamar ke-46 (2010) tersebut paralel, sehaluan, berbeda atau berseberangan dengan apa yang disebut-sebut sebagai Islam Progresif dalam dunia akademik kajian keislaman kontemporer” Juga membahas gejala populisme Islam yang muncul seperti kebangkitan konservatisme Islam dari Spritualisasi Islam ke Politisasi Islam yang menguat di akar rumput beriringan dengan situasi politik electoral.

Mengutip pendapat Azhar Syahida dalam IBTimes.id  03/08, pada intinya dalam buku itu, jika kita telisik bersama, Prof. M. Amin Abdullah tengah mempertanyakan, bagaimana pembaharuan Muhammadiyah untuk seratus tahun ke depan?

Hadir sebagai pembicara pada bedah buku tersebut adalah Guru Besar UIN Maliki Malang Prof. Imam Suprayogo dan Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah Dr. Pradana Boy ZTF. Selanjutnya para peserta FCM yang merupakan delegasi IMM seluruh Indonesia dikarantina. selama lima hari metode yang gunakan agaknya berbeda dengan forum-forum keilmuan yang umumnya digunakan di berbagai tempat.

Di FCM, sebetulnya yang hendak kami berikan ke peserta bukan hanya cekokan ceramah berjam-jam oleh pemateri namun cara belajar itu sendiri yang kami utamakan. Para peserta yang berjumlah tiga puluh orang kader membaca sumber-sumber ilmiah (buku, jurnal, laporan penelitian) yang kami siapkan secara lengkap, membuat review buku dan paper pemateri setiap harinya, dan merevisi secara detail esai yang telah ditulis oleh mereka sendiri.

Serta mendiskusikan ide-ide baru yang mereka temukan. keseluruhan aktivitas peserta didampingi oleh lima orang fasilitator yang memiliki portofolio sebagai penulis dan pembaca. Dalam bahasa saya, minimal yang dapat dibawa pulang para cendekiawan muda Muhammadiyah itu ialah cara memilih sumber ilmiah, cara membaca, cara menulis dan bagaimana menegosiasikan ide kreatif mereka.

Tak lupa yang juga penting dalam FCM ialah, informasi baru dari para pembicara yang sebelumnya tidak didapatkan oleh peserta di daerahnya masing-masing. Ada empat tokoh muda Muhammadiyah yang memiliki kapasitas, ide-ide segar seputar Muhammadiyah kami undang sebagai pembicara.

Di antaranya Mu’arif, peneliti sejarah di Muhammadiyah sekaligus Redaktur Suara Muhammadiyah; Hasnan Bachtiar, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah; Fajar Riza Ul Haq, Staf Khusus Mendikbud RI, dan Piet Hizbullah Khaidir, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.

Banyak ide segar yang diberikan para pemateri lewat paper dan ceramahnya. Misalnya, Piet Hisullah Khaidir menutur, Muhammadiyah perlu banyak ‘catatan kaki’ untuk menjelaskan secara sederhana pikiran-pikiran maju dari para begawan Muhammadiyah sampai ke akar rumput. Menurut Piet, catatan kaki itulah peran dari para cendekiawan muda –tak lain adalah kader IMM. Sebab, tanpa rujukan, penjelasan, interpretasi (catatan kaki) yang lebih renyah dan dekat dengan akar rumput dari pemikir muda Muhammadiyah itulah ide-ide maju Prof. M Amin Abdullah enggan diterima.

Dengan FCM ini Kami melihat nafas baru cerdik cendekia muda Muhammadiyah tumbuh. Relevan dengan bidang kajian para kader di Kampus sebagai mahasiswa, banyak pemikiran dan ide baru mereka sumbangkan kepada Muhammadiyah kini dan hari esok. Contohnya, di antara mereka ada yang bicara tentang Pengembangan Pendidikan dan Pusat Riset Teknologi di Muhammadiyah, Muhammadiyah dan Pemihakan Ekologi, dan masih banyak lagi.

Penutup

Hemat saya, sejalan dengan pernyataan Prof. Din Syamsuddin bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus menjadi pelopor gerakan ‘Ijtihadis’ yang menawarkan solusi bukan ‘Jihadis’ yang cenderung konfrontatif. Maka para kader IMM harus menjadi cerdik cendekia untuk menerjemahkan ide-ide besar Muhammadiyah hingga terwujudnya praksis keagamaan yang berkemajuan dan progresif di tengah masyarakat.

Para kader muda cendekiawan ini dipersiapkan ke depan akan menjadi generasi baru Jaringan Intelektual Muhammadiyah (JIMM) misalnya.  Juga secara jangka panjang akan mengisi pos-pos kepemimpinan di organisasi induk Muhammadiyah dan amal usahanya sejak ranting hingga pusat. Agar Muhammadiyah dapat memimpin, menuntun kebangkitan Islam berkemajuan yang tidak bertabrakan dengan semangat zaman.

Oleh: Ode R. Prabtama
(Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya)

 

Pembekalan Volunter Dakwah - PC IMM Malang Raya

Pembekalan Volunter Dakwah, IMM Malang Siapkan Mubalig Muda

IMM-MALANG.ORG – Menjelang Ramadhan, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya adakan pembekalan volunter dakwah di padepokan Hizbul Wathan, Malang, Sabtu sore (4/5).

Kegiatan ini merupakan persiapan para mubalig muda IMM untuk berdakwah selama Ramadhan. Dalam pebekalannya, peserta diberikan pemahaman seni dan strategi berdakwah di masyarakat.

Joko Susilo, pembicara dari Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang menyampaikan, dalam dakwah perlu memperhatikan cara menyampaikan pesan dengan baik.

“Karena dakwah kebanyakan adalah bil lisan (secara lisan) yang diperlukan adalah kemampuan menyampaikan agar pendengar dapat memahami, menghayati dan menjalankan,” ujarnya.

Selain itu dalam pesannya Joko memberikan arahan dalam berdakwah, bahwa para mubalig harus dapat memberikan kesan atas pesan yang disampaikan.

“Pesan yang disampaikan dengan baik akan berkesan, terlebih didukung dengan gestur saat menyampaikan untuk memperjelas. Jangan lupa juga dibarengi humor atau hal lain yang dapat suasana lebih cair,” tambahnya.

Sementara pembicara kedua Hendra Sukma Wijaya Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Dakwah Muhammadiyah (PDM) Kota Batu menjelaskan strategi dalam dakwah.

Hendra menuturkan, ada hal-hal yang harus dipahami oleh mubalig. Yakni, memahami lawan bicara, rancangan pembahasan, harus berdasar dengan ilmu.

Ia menambahkan “Sebagai mubalig harus kuat tauhid dan ilmunya. Kedua mau mengamalkan ilmu dan ketiga harus bersabar, itu kunci sebagai mubalig,” ungkapnya. (Fizh/Git)

Angkara

Angkara

Bu, aku hanya berbicara
Berbicara apa adanya
Berkata dengan hati-hati
Lalu saudaraku mati

Bu, aku hanya tertawa
tertawa melihat tangis
tangis primata dengan jas dan kemeja
Tapi aku ditampar api

Bu,aku hanya menangis
Ketika lengking orok ratapi harga pokok

Bu, aku hanya membaca
Membaca tanda-tanda
Tapi kawanku harus pecah kepala

Aku hanya berkata-kata
Aku bertemu dengan amarah
yang sedang rangkai bunga kematian
Dibalik tangan kejinya

Aku hanya mencoba pahami mereka
Baginya tetes nestapa adalah jaya

Bu, kawan kawanku lari
Terbirit hindari cemeti
Ketika aku hanya memberitahu mereka
Hanya menyapa

Aku hanya bersuara
Aku hanya bertanya tanya
Aku hanya duduk disamping mereka
Yang coba lindungi kediaman anak istri

Tapi padanya, tendangan dan pentungan tak terhindar
Di hari esok, tanah moyang tersiram modal
Adik-adik tak lagi punya sendal

Aku hanya bercerita
Tapi aku harus menderita
Tatkala coba berdongeng tentang bara dendam
Dikumandangkan sang asa propaganda

Aku sumpal telinga dengan ganja
Kututup mata dengan debu kereta
Tapi Sawit berduri memanjang dihadapkanku
Disayatkan perlahan dan dinikmatinya setiap kucur darah dan tetes tangisku
Lalu tak lupa  disiramnya air perasan lemon impor dari supermarket

Kubuka mata dan kulihatnya
Kawanku tersita mata pencahariannya
Tak punya lagi pohon kelapa
diantara tanaman beton baru
diatas tanah leluhurku

Bu, aku hanya melanjutkan gumam
Serupa sajak
Tapi ayahku harus pamit, asingkan diri dan tak pulang lagi

Bu, aku hanya bernyanyi
Diatas kerangka langit
Tapi aku diruntuhkan

Bu, aku hanya berbisik
Serupa desis-desis sanca
Tapi aku dipenjarakannya

Bu,aku hanya bernyanyi
Serupa kenari dalam sangkar terbuka
Tapi aku harus korbankan hati

Bu, aku hanya berpuisi..!
Kenapa aku harus mati…!

 

 

Oleh: Muhammad Prasetyo Lanang
3 Maret 2019

 

 

Kemah Riset

SCORE, Teguhkan Tradisi Riset Kader IMM Malang Raya

IMM-MALANG.ORG – Dalam rangka menggali dan meningkatkan potensi riset kader, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya selenggarakan Kemah Riset, Jumat-Ahad (15-17/3) di Omah Budaya Slamet, Batu.

Kegiatan bertemakan “Ragam Orientasi Ide dan Gerakan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Malang 2008-2018” ini, merupakan serangkaian dari School of Research (SCORE) yang digagas oleh Bidang Riset Pengembangan Keilmuan (RPK) PC IMM Malang Raya.

Program SCORE ini dimaksudkan untuk pengembangan kultur ilmiah di wilayah Malang Raya. Kemudian secara khusus sebagai instrumen untuk melestarikan tradisi ilmiah di kalangan kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Ketua Bidang RPK PC IMM Malang Raya, Ode Rizki Prabtama menyampaikan, bahwa agenda ini merupakan langkah strategis bagi PC IMM Malang Raya dan para peserta untuk menjadi trendsetter tradisi ilmiah berbasis penelitian.

“Terselenggaranya agenda ini menjadi spirit baru bagi dinamika intelektual IMM Malang Raya. Diperiode sebelumnya bidang RPK sudah mencapai tahap penguatan literasi dan banyak kader menuliskan karyanya di berbagai media. Nah, sekarang kita tingkatkan levelnya pada tingkat riset,” ungkapnya.

Selain itu, Ode mengungkapkan bahwa peserta akan terus didampingi secara masif, agar proposal yang telah dibentuk berlanjut pada tahap pelaksanaan penelitian, baik penelitian lapang maupun kajian pustaka.

Miftahul Khusna salah satu peserta SCORE menyebutkan, bahwa agenda ini semoga dapat membawanya semakin semangat dan percaya diri dalam melakukan riset ke depannya.

“Saya berharap dengan adanya kegiatan ini bisa membuat saya percaya diri dan siap untuk turun ke lapangan. Terlebih saya mahasiswa jurusan Kesejahteraan Sosial yang banyak melakukan riset di masyarakat,” tukasnya. (git)

Sekolah Riset IMM Malang Raya

SCORE Bekali Kader IMM Lakukan Gerakan Transformatif

Dalam rangka mengembangkan tradisi ilmiah kader, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya usung program School of Research (SCORE). Agenda dengan rangkaian panjang ini, mulai diselenggarakan Sabtu malam (2/3) di Gazebo Literasi, Malang.

Agenda bertemakan “Kaidah Ilmiah dan Tradisi Riset” ini selain bekali tradisi riset kader, IMM Malang Raya juga ingin mendorong kadernya agar riset menjadi acuan dalam melakukan gerakan.

A.S Rosyid sebagai pembicara berharap, supaya kader-kader IMM menjadi agen intelektual yang sebenarnya, sebagaimana termaktub dalam Tri Kompetensi Dasar (TKD).

“IMM memiliki tri kompetensi dasar yang terdiri dari Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas. Ini adalah identitas organisasi, jangan sampai hanya menjadi klaim. Kader-kader harus mampu menyelaraskan antara klaim dengan realitas atau antara identitas organisasi dengan perilaku ilmiah kadernya,” ungkap Rosyid.

Sementara itu Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Malang Raya, Ode Rizki Prabtama menyampaikan, agenda ini adalah awal untuk mendorong gerakan IMM yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

“SCORE bertujuan untuk membangun tradisi ilmiah kader, dengan bekal tradisi ilmiah ini, tentu akan melahirkan kader yang benar-benar memahami masalah di masyarakat. Dari itu gerakan-gerakannya adalah jawaban akan masalah yang terjadi,” ungkapnya.

FDK Renaissance

Tingkatkan Peran Immawati dalam Organisasi, IMM Gelar Forum Diskusi Keperempuanan

Mendorong kader perempuannya atau biasa dikenal Immawati untuk terlibat aktif di masyarakat, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat (PK) Renaissance Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM laksanakan Forum Diskusi Keperempuanan (FKD), Jumat-Ahad (22-24/2).

Agenda bertemakan “Memaksimalkan Peran Immawan dan Immawati dalam Organisasi Melalui Wacana Gender dan Keperempuanan” tersebut, dihadiri Uzlifah Majelis Kader Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Malang sebagai Stadium Generale.

Dalam pembukaannya, Uzlifah mengungkapkan, bahwa Immawati harus menjadi eksekutor gagasan. Baginya, perempuan saat ini sudah banyak yang baik dalam berwacana, namun kurang dalam mengeksekusi.

Uzlifah juga berharap, agar FDK dapat menjadi sarana belajar Immawan dan Immawati sebagai mitra yang serasi dalam berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, sosial dan politik. “Kedepan perempuan  harus progresif dan memaksimalkan peluang dalam ranah publik,” ujarnya.

Selain itu, Rio Andhika, Ketua Umum PK IMM Renaissance FISIP UMM berharap agar FDK dapat menjadi sarana saling memahami peran antara Immawan dan Immawati. “FDK bukan hanya diperuntukan Immawati, tapi juga Immawan. Mereka harus paham terkait wacana ini (red. Gender),” jelas Rio.

“Dengan itu, Immawan dan Immawati  dapat memahami yang menjadi hak dan kewajibannya dalam organisasi tanpa ada yang membedakannya,” Jelasnya. (git)