Ardy Renaissance

Meningkatkan Budaya Literasi Melalui Semangat “Gerakan Ruba Dirimu”

“ Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah” tidak asing lagi ditelinga kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Kalimat tersebut sering kita dengar di forum-forum formal maupun diskusi kultural yang sering diadakan oleh IMM dari Level Komisariat hingga pusat.

Namun, apakah semua kader IMM memahami makna dari kalimat tersebut? Jawabannya ada di masing-masing individu kader IMM. Lantas apa sebenarnya makna dari kalimat tersebut?

Bagi saya, kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat mendalam. “Ilmu Amaliah”, berarti segala ilmu yang kita pelajari dan baik hendaknya kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip sebuah pernyataan dari Imam Syafi’i, beliau menyampaikan bahwa “ Ilmu adalah yang bisa memberi manfaat, bukan hanya sekedar di hafalkan”.

Kalimat tersebut mengajarkan kita bahwa ilmu itu haruslah kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, jangan hanya di konsumsi sendiri (onani intelektual). Hal tersebut menunjukkan pentingnya kita mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari demi meluruskan pemahaman terhadap masyarakat luas.

Sedangkan kalimat, “Amal Ilmiah” berarti segala sesuatu yang kita amalkan harus sesuai dengan fakta, landasan serta mampu dibuktikan secara rasional. Dalam mengamalkan sesuatu kita harus benar-benar menelaah kebenarannya, jangan sampai sesuatu yang kita amalkan membuat orang lain tersesat. Kita sering menemukan beberapa orang yang mengakhiri suatu diskusi dengan debat kusir.

Lantas, apa dampak dari debat kusir tersebut? Dampaknya tentu beragam, mulai dari saling caci sampai adu pukul. Ada dua faktor penyebab terjadinya hal tersebut.

Faktor yang pertama adalah kurangnya pemahaman terkait topik yang dibahas sehingga asal bicara saja. Faktor yang kedua adalah hanya mengacu pada kebenaran individu tidak berusaha untuk melihat dari kebenaran publik.

Jika kita membuka Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) pada halaman X, maka kita akan menemukan kalimat “ Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah”. Kalimat tersebut merupakan salah satu poin dari enam penegasan yang dimiliki oleh IMM. Hal tersebut menunjukkan bahwa IMM harus hadir sebagai organisasi kemahasiswaan yang mampu memberikan pencerahan terhadap masyarakat.

Selain bergerak dirana kemahasiswaan, IMM juga bergerak dirana agama dan masyarakat. Lantas, apa yang harus dimiliki oleh kader sebelum melakukan dakwa atau memberikan pencerahan ke tiga rana di atas? Dalam SPI ada tiga hal yang mendasar yang harus dimiliki oleh setiap kader, di antaranya adalah Regiulitas, Humanitas dan Intelektualitas.

Namun, sampai hari ini peran IMM masih dipertanyakan di tengah masyarakat. IMM belum mampu menunjukkan taringnya di tengah permasalahan yang ada di Indonesia saat ini. Banyak persoalan yang melanda bangsa kita saat ini, mulai dari disparitas politik yang menyebabkan disintegrasi di tengah masyarakat.

Hal tersebut mengingatkan kita pada awal kelahiran IMM, di mana pada saat itu banyak organisasi yang berafiliasi dengan beberapa partai politik. Sehingga menjadi keharusan IMM hadir untuk menjawab persoalan bangsa pada era orde lama.

Sudah lebih dari setengah abad IMM ada di tengah masyarakat, banyak hal yang menjadi tantangan bangsa kita ke depannya. Dengan melihat polarisasi politik yang cenderung membuat masyarakat terpecah belah, ditambah lagi adanya kelompok-kelompok tertentu yang menginginkan suatu konsep negara baru.

Kurangnya kedewasaan serta pemahaman terhadap suatu masalah yang terjadi, membuat masyarakat gampang terprovokasi. Hal tersebut sangatlah disayangkan, di mana masyarakat menjadi korban atas perang kepentingan para elit politik yang sedang berlaga. Kurangnya budaya literasi semakin mempertajam perpecahan di akar rumput. Masyarakat terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian yang ada tanpa melihat latar belakang dan dampak dari masalah yang sedang terjadi.

Berbicara budaya literasi, Indonesia masih terpuruk di level bawah. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU), Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei.

Indonesia hanya mampu unggul dari negara Botswana, sedangkan di urutan pertama di raih negara Finlandia. Tidak hanya Sektor pendidikan yang menjadi indikator dalam survei tersebut. Indikator lain dalam survei ialah jumlah dan kemudahan mengakses perpustakaan.

Lantas bagaimana dengan hasil penelitian lembaga lain? berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Program For International Student Assessment (PISA). Berdasarkan hasil penelitian dari PISA, menunjukkan minat baca dari masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Dari 70 negara yang memenuhi kualifikasi Indonesia hanya berada pada rangking 62 dengan skor 397.

Data tersebut membuktikan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Hal tersebut menjadi renungan buat kita semua. Lantas bagaimana dengan budaya literasi di internal IMM? Memang belum ada penelitian khusus terkait budaya literasi di lingkungan IMM. Namun, hal tersebut bisa terjawab dengan melihat peran IMM dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam berbagai forum misalnya, cenderung kader IMM hanya sekedar hadir untuk memenuhi undangan saja atau hanya terlihat eksis saja. Tidak banyak kader yang mampu mengeluarkan gagasan-gagasannya, hampir proses dialektika dalam forum IMM sangatlah rendah.

Namun hal tersebut masih bisa kita debatkan. Lantas apa yang harus dilakukan IMM agar meningkatkan budaya literasi di Indonesia?

Untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia, IMM harus memperkuat gerakan intelektul di internalnya terlebih dahulu. Gerakan intelektual harus mulai dibumingkan oleh kader IMM.

Lantas, apakah IMM harus fokus membumikan gerakan intelektual dalam internalnya saja? Tentu tidak, IMM harus hadir sebagai pelopor untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Sembari memperkuat gerakan intelektual dirana internal, IMM juga harus memperkuat gerakan dirana eksternal.

Lantas gerakan intelektual yang seperti apa yang harus diperkuat? Dengan melihat permasalahan di atas, ada tiga aspek yang harus disiapkan. Yang pertama adalah menyediakan ruang baca, dengan menyediakan ruang baca dapat membuat masyarakat mudah mengakses buku-buku yang mereka cari.

Dengan memanfaatkan ruang publik, IMM bisa hadir di tengah masyarakat. Seperti membuka lapak baca buku gratis di taman-taman Kota dan ruang terbuka lainnya.

Yang kedua adalah membuka ruang diskusi atau rung pikir, dengan adanya ruang-ruang diskusi diharapkan mampu meningkatkan daya kritis masyarakat. IMM harus bersinergis dengan LSM, Pemerintah Desa dan memanfaatkan ruang publik lainnya.

IMM harus hadir membuka cakrawala berpikir masyarakat. Diskusi-diskusi mengenai isu kontemporer dan permasalahan yang ada diharapkan mampu membuka nalar kritis masyarakat.

Yang ketiga adalah membuka ruang tulis, tentu tidak semua masyarakat suka menulis. Tidak hanya masyarakat saja, kader IMM juga tidak semuanya suka menulis. Dengan adanya ruang menulis diharapkan memperkuat gerakan intelektual, serta mampu menyampaikan keresahan-keresahan yang dialami oleh masyarakat. Tidak hanya sekedar memberikan pelatihan-pelatihan kepenulisan kepada masyarakat, IMM harus mampu menyediakan ruang untuk mempublikasi hasil tulisan.

Konsep gerakan intelektual di atas dapat kita sebut “Gerakan Ruba Dirimu” yaitu gerakan yang mengarah pada ketiga aspek di atas, yaitu ruang baca, ruang diskusi atau ruang pikir dan ruang menulis. Dengan “Gerakan Ruba Dirimu” diharapkan mampu meningkatkan budaya literasi yang ada di internal IMM maupun di tataran masyarakat secara umum.

Harapannya “Gerakan Ruba Dirimu” tidak hanya menjadi sebuah konsep semata. Mulai dari sekarang, saya mengajak kepada semua lapisan IMM mulai dari level komisariat sampai pusat untuk membumikan dan mengaplikasikannya. Saatnya IMM hadir diruang-ruang publik sebagai bentuk dari mengamalkan nilai-nilai “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar”.

Mengutip moto dari Koran Partai Sosialis Italia dalam buku “pijar-pijar pemikiran Gramsci”yang ditulis oleh A Pozzolini. Koran yang diberi nama L’ Ordine Nuovo ( Majalah Mingguan Kebudayaan Sosialis) mempunyai moto sebagai berikut“ Belajarlah karena kita akan membutuhkan segenap kecerdasan kita.

beragitasilah karena kita akan membutuhkan segenap antusiasme kita. berorganisasilah karena kita akan membutuhkan segenap kekuatan kita”.

Dari moto tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa dalam memperjuangkan sesuatu kita harus memiliki kecerdasan, semangat dan kekuatan.

Bahwa dalam memperjuangkan “Gerakan Rubah Dirimu” kita tidak bisa bekerja sendiri, kita memerlukan semangat dan kekuatan besar untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Oleh karena itu, dengan kekuatan, semangat dan kecerdasan yang dimiliki setiap kader IMM, maka “Gerakan Ruba Dirimu” harus direalisasikan dalam bentuk nyata.

.

Ditulis oleh: Muhammad Ardi Firdiansyah
Sekretaris Bidang Keilmuan IMM Komisariat Renaissance FISIP-UMM