Grand Design Pimpinan Cabang IMM Malang Raya 2018-2019

 

Oleh: Imm. Irsyad Madjid, SE

1. Pendahuluan

 Regenerasi kepemimpinan adalah sebuah keharusan dalam sebuah organisasi perkaderan. IMM Malang Raya sebagai wadah perkaderan kader-kader Muhammadiyah di malang raya harus terus memproduksi kader-kader yang memiliki kualitas yang mumpuni untuk melanjutkan periodisasi kepemimpinan di internal ikatan. Selaras dengan kepentingan perkaderan, jenjang perkaderan pun menjadi salah satu faktor penting yang harus diperhatikan dalam proses regenerasi kepemimpinan. Jenjang perkaderan yang tidak sistematis akan memiliki pengaruh yang cukup signifikan dalam proses keberlangsungan organisasi. Dipandang dari segi internal organisasi, jenjang perkaderan yang tidak sistematis akan membuat transisi perpindahan kepemimpinan menjadi tidak mulus, pun dari aspek eksternal organisasi, bargaining power antar sesama organisasi kepemudaan akan tereduksi jika terjadi kesenjangan yang terlalu jauh.

 Namun, tentu persoalan regenerasi bukan cuma soal jenjang perkaderan. Aspek fundamental berada pada kemampuan kepemimpinan selanjutnya untuk menganalisis kondisi objektif IMM Malang raya sehingga mampu menghasilkan resolusi yang tapat bagi organisasi. Tawaran sinergitas dakwah yang menjadi visi utama periode lalu telah mampu memberikan warna baru dalam perjalanan organisasi IMM Malang Raya. Berangkat dari kegelisahan atas reduksi makna gerakan dakwah yang selalu mengedepankan simbol perlawanan dan prasangka buruk semata, sinergitas dakwah hadir untuk merangkul bentuk-bentuk dakwah lain yang juga hadir dalam kultur IMM Malang raya. Namun, sinergitas gerakan dakwah mempunyai kekurangan pada aspek “core value” sebagai pondasi utama untuk bergerak. Sinergitas gerakan dakwah hanya di desain untuk hadir sebagai fasilitator yang bertugas merangkul dan memoderasi kultur-kultur majemuk di ikatan.

Hasilnya, terjadi kebingungan di berbagai aspek internal IMM Malang Raya, dijabarkan sebagai berikut :

a. Analisis Singkat Permasalahan
Ada beberapa catatan kecil yang menjadi beberapa permasalahan yang tengah dihadapi oleh IMM malang saat ini

1) Ideologi
Fungsi sinergitas tak mampu hadir sebagai “basic value” yang menentukan arah dan tujuan organisasi.

2) Perkaderan
Tidak adanya nilai utama yang menjadi dasar organisasi membuat aspek perkaderan pada imm malang raya menjadi kehilangan arah.

3) Organisasi
Di aspek organisasi, ketidakstabilan organisasi akibat masalah internal yang terjadi membuat periode ini lemah dalam hal konsolidasi organisasi, serta pendampingan yang massif terhadap komisariat.

4) Gerakan
Seperti halnya pada aspek perkaderan, pembangunan gerakan menjadi sulit karena tidak ada platform yang jelas mengenai arah gerak IMM Malang Raya.

b. Tingkat pencapaian

1) Branding Organisasi
Kemampuan IMM Malang Raya periode ini untuk membuat mayoritas program kerja berskala nasional menjadi benefit khusus di aspek brand equity IMM Mlang Raya.

2) Konstruksi Keilmuan
Hadirnya program breakthrough Forum Cendekiawan Merah yang fokus untuk membangun pondasi keilmuan lewat kajian intensif membawa gairah baru dalam tradisi intelektualitas IMM Malang Raya

3) Program yang berkelanjutan
Hadirnya komunitas-komunitas kreatif (Creative Minority) yang lahir dari program kerja momentual seperti Kapas Merah, Komite mampu mendekonstruksi pandangan ikatan soal program kerja yang seringkali bersifat sekali jalan.

4) Ekspansi Organisasi
Kepemimpinan periode ini mampu melanjutkan tradisi positif untuk melebarkan sayap pada aspek familiarisasi ikatan melalui pembangunan komisariat baru di kampus UNISMA.

Berangkat dari analisis mengenai kondisi objektif IMM Malang Raya baik di aspek kekurangan dan kelebihan, dipandang perlu sebuah gagasan yang membawa sebuah “basic value” agar mampu memperbaiki aspek ideologi yang tereduksi pada periode sebelumnya.

Jika melakukan refleksi sejenak terhadap tujuan ikatan, maka pemahaman akan hakikat hadirnya ikatan akan berakhir pada sebuah cita-cita mulia untuk mewujudkan masyarakat ilmu. Menurut kuntowijoyo, masyarakat ilmu adalah kondisi ilmiah yang bersifat rasional,terbuka dan mampu melakukan praksis kemanusiaan. Hal ini tentu menjadi sebuah tugas yang sangat berat jika melihat realitas makro maupun mikro yang menjadi tantangan ikatan kedepannya.

Di aspek realitas makro, kondisi sosial-politik Indonesia yang sedang mengalami masa-masa krisis akibat panasnya kontestasi politik yang akan terjadi pada tahun 2019 menjadi ujian besar bagi ikatan agar tidak terjebak pada lingkaran politik praktis kekuasaan. Di aspek ekonomi, monopoli kekuasaan (hegemoni) membuat praktek korupsi, kolusi dan nepotisme pada wilayah ekonomi semakin tak terbendung yang mengakibatkan konsentrasi kekayaan oleh pihak-pihak tertentu. Hasilnya, masih terdapat kesenjangan yang lebar (dualisme ekonomi) pada tatanan kehidupan masyarakat Indonesia. Pada aspek budaya, perkembangan teknologi yang memicu lahirnya globalisasi dan modernisasi pada aspek kehidupan mereduksi interaksi sosial masyarakat dan membuat ketergantungan pada kecanggihan teknologi.

Selanjutnya, kondisi realitas mikro yang terjadi pada internal ikatan adalah daya militansi serta konsistensi kader-kader malang raya yang masih belum mampu membaca dan merespon permasalahan sosial yang terjadi di ruang lingkup masyarakat malang. Selain itu, jurang yang lebar antara kultur komisariat yang berada pada wilayah perguruan tinggi Muhammadiyah maupun non-muhammadiyah yang bukan hanya cukup dipelihara sebagai bagian dari local wisdom, namun perlu dijembatani oleh “basic value” yang berasal dari paradigma internal ikatan sendiri. Sehingga, akhirnya keberagaman itu tidak hanya berhenti pada tahap sinergis, namun juga kolaboratif dan berakhir pada sebuah tujuan yang sama, yakni cita-cita mulia organisasi.

Oleh karena itu, gagasan yang ditawarkan untuk menjawab penjabaran diatas adalah :

2. Visi
“Manifestasi Gerakan Intelektual Profetik dengan basis nilai humanisasi, liberasi dan transedensi menuju IMM malang raya sebagai Organisasi Transformatif.”

Manifestasi yang berarti perwujudan atas suatu gagasan.

Gerakan Intelektual Profetik adalah sebuah penegasan akan fungsi pengetahuan sebagai alat untuk menyelesaikan problematika yang terjadi di masyarakat. Kesadaran intelektual profetik berawal dari kegelisahan dan keprihatinan akan kondisi sosial yang muncul karena integrasi antara spirit perjuangan kenabian yang anti status-quo dan pengetahuan yang komprehensif atas realita sosial.

Humanisasi adalah sebuah respon atas gejala dehumanisasi yang menjangkiti organisasi akibat sistem yang menindas maupun perkembangan teknologi yang mengakibatkan ketergantungan.
Liberasi memiliki makna penolakan terhadap semua hal yang bersifat senjang, tidak adil dan menghegemoni demi kepentingan parsial yang akan berujung pada pembebasan terhadap dominasi struktur yang pragmatis, kebodohan, kemiskinan dan ketertindasan.

Transendensi kesadaran ilahiah yang menjadi dasar pemikiran dan perilaku dalam setiap kebijakan yang diputuskan oleh organisasi.
Organisasi Transformatif adalah tujuan akhir untuk mengupayakan organisasi agar selalu berpihak dan berjalan di jalur prubahan yang progressif.

3. Misi
1) Menguatkan pola komunikasi organisasi (Struktural dan kultural) yang intensif di lingkup IMM cabang malang raya .

Perpaduan harmonis yang muncul dari komunikasi yang massif baik struktural maupun kultural kepada barisan internal dan eksternal merupakan kunci kemajuan. Dalam hal ini barisan internal meliputi Badan Pimpinan Harian maupun Otonom dan Komisariat se-malang raya. Sedangkan barisan eksternal meliputi, Pimpinan IMM yang berada lebih di atas (DPD, dan DPP), Amal usaha dan Organisasi Otonom Muhammadiyah (AMM), Lembaga dan Pusat Kajian (PSIF, JIMM, Kalimetro, dll), Organisasi Mahasiswa yang tergabung dalam KNPI (HMI, PMII, KAMMI, GMNI, dll), alumni, bapak-bapak Muhammadiyah dan berbagai instansi atau organisasi yang dapat memacu kemajuan komisariat.

2) Pembenahan dan perapian langgam organisasi yang sesuai dengan aturan dan prinsip pembangunan organisasi.

a. Metode memimpin
 Ada dua metode yang harus di gunakan dalam melakukan kerja organisasi. Pertama, memadukan antara yang umum dengan khusus. Kedua, ialah memadukan pemimpin dan yang dipimpin. Dengan adanya seruan umum yang terpropaganda secara luas dan merata ke seluruh jajaran pimpinan cabang dan komisariat, maka organisasi dapat mempermudah dalam melakukan mobilisasi untuk bertindak. Seruan umum harus di mulai dari bagina organisasi tertinggi hingga terendah. Dengan demikian, seruan umum yang lahir dari pimpinan cabang menjadi panduan umum bagi setiap langkah yang telah di rumuskan.

b. Prinsip Pembangunan Organisasi :
i. Kesatuan Teori Praktek

 Dalam Perkaderan teori dan praktek tidak dapat dipisahkan. Ia merupakan kesatuan yang utuh dan tidak dapat di pisahkan. Dalam penegasan IMM poin ke empat “ Ilmu adalah amaliyah IMM dan amal adalah ilmiah IMM”. Setiap bagian organisasi harus memahami penjelasan teoritik dari tugas yang diamanahkan dan memiliki pengalaman berpraktek langsung dari pekerjaannya. Pemahaman atas teori hanya dapat di ukur dari kesesuaian dalam menjalankan prakteknya.

ii. Inisiatif-Aktif
Insiatif-aktif adalah berperan dalam menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama tanpa menunggu. Tidak sebatas itu, setiap elemen organisasi harus mempunyai inisiatif untuk mengembangkan organisasinya maupun mendidik setiap bagian organisasi dengan menyadarkannya. Inisiatif-Aktif bukan hanya banyak solusi yang di keluarkan tapi harus juga melakukan pekerjaan kongkrit agar solusi tersebut bisa terealisasi.

iii. Bergaris Massa
Organisasi harus memiliki hubungan erat dengan pimpinan dibawahnya dan tidak ekslusif. Organisasi harus peka akan kondisi sosial, baik dari sektor kecil maupun sektor besar. Merupakan kewajiban untuk membaca dan menganalisa persoalan dari internal sampai dengan eksternal organisasi dan menyelesaikan semua itu dengan kolektif.

iv. Kritik Outo Kritik
Dalam setiap keputusan dan pekerjaan organisasi yang telah dijalankan haruslah dilakukan proses penilaian dan koreksi terhadap kekurangan, kesalahan-kesalahan, segi-segi negatif, maupun keberhasilan-keberhasilan. Dan tidak di perbolehkan membesarkan-besarkan keberhasilam maupun membesar-besarkan kesalahan.

v. Kolektif Kolegial.
Dalam menjalankan aktivitas organisasi, elemen organisasi dituntut untuk bekerja bersama, dalam artian saling membantu dengan mengarahkan dan memahamkan agar kerja-kerja organisasi bisa lebih efektif. sesama anggota organisasi untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya.

3) Mendirikan Lembaga-lembaga otonom yang berfungsi untuk membantu tugas bidang, lahan aktualisasi baru yang mampu mengakomodasi sumber daya kader sebagai salah satu usaha regenerasi kepemimpinan.

4) Mengintensifkan persiapan, pendampingan dan pengembangan komisariat sebagai upaya dalam menguatkan pondasi keorganisasian komisariat-komisariat yang ada di lingkup cabang malang raya.

5) Melakukan pembenahan dan edukasi intensif pada aspek administrasi organisasi agar sesuai dengan pedoman organisasi yang berlaku.

6) Menancapkan karakter profetik sebagai nilai utama dalam pelaksanaan pembinaan dan pendidikan perkaderan malang raya.

7) Memaksimalkan peran instruktur cabang dalam mengawal proses perkaderan malang raya.

8) Mensinergikan basis keilmuan dan membangun pijakan kerangka berfikir kader sebagai langkah pembaruan pemikiran dan dan peningkatan produktivitas kader malang raya.

9) Memperluas jaringan dan memperkuat penggiringan opini publik, branding organisasi dan publikasi kegiatan melalui optimalisasi media sosial.

10) Mengambil peran aktif melalui gerakan kolektif dalam ranah sosial-politik untuk membangun bargaining position guna mempengaruhi kebijakan agar pro pembebasan dan kaum mustadh’afin.

11) Melakukan pembinaan yang sinergis dan berkelanjutan melalui metode-metode baru untuk menyelesaikan akar permasalahan sebagai langkah konkrit dalam menjawab permasalahan sosial-kemasyarakatan.

12) Membangun daya saing Immawati berbasis keadilan gender agar mampu berkiprah pada ranah-ranah keorganisasian.

13) Mengkokohkan wacana islam dan kemuhammadiyahan dalam diri kader yang bertujuan pada massifikasi dakwah yang mencerahkan.

14) Meningkatkan daya seni, budaya dan keolahragaaan serta pembangunan paradigma multikultural untuk memperkaya metode dakwah ikatan dalam merespon isu kebangsaan dan kebhinekaan.

15) Menginisiasi usaha kemandirian ekonomi organisasi dan pembangunan kapasitas kewirausahaan pada diri kader.

16) Melakukan pembinaan yang intensif serta pembuatan rencana tindak lanjut yang strategis terhadap komunitas-komunitas yang telah terbentuk.

Share This Post