IMM Malang Raya 24 September 2019

Mimpi Kaum Tani

24 September, kemarin pagi
Hari penuh arti
Bagi mereka yang disebut petani
Pun bagi kita yang butuh konsumsi

Sejarah berdarah yang telah dilalui
Perjuangan kaum tani atas negeri ini
Perwujudan reforma agraria sejati
Demi masa depan yang cerah nan berseri

Hingga kini hari itu masih membekas di hati
Harapan besar atas sistem yang dihendaki
Kesejahteraan bersama menjadi misi
Tanpa ada unsur monopoli

Namun hal itu masih menjadi mimpi
Yang senantiasa hadir dalam doa kaum tani
Ketika fisik tak mampu lagi beraksi
Menitip mimpi pada penerus generasi

Hal itu terlihat jelas permainan yang terjadi
Atas dominasi kaum borjuasi
Segalanya dimonopoli
Demi mengakumulasi keuntungan pribadi

Hukum menjadi alat para borjuasi
Melanggengkan kekuasaan atas dominasi
Menindas rakyat yang kini dibodohi
Dengan pendidikan yang bermuara pekerja rodi

Ditambah lagi aturan baru yang kian menghampiri
Rancangan undang-undang yang tidak manusiawi
Bukan mendukung melainkan mengkhianati
Atas esensi reforma agraria sejati

Telah hilang akal sehat beserta nurani
Tak ada lagi jiwa yang manusiawi
Tersisa jasad yang bernafsu tinggi
Begitu tergambar pemimpin bangsa ini

Bertepatan pada Hari Tani Nasional ini
Mengenang perjuangan yang telah dilalui
Mengingat mimpi yang belum terealisasi
Menjadi tugas kaum muda untuk mengeksekusi

Kini kaum muda telah memberi bukti
Dengan aksi massa di berbagai lokasi
Berjuang untuk berontak dari dominasi
Mewujudkan mimpi kamu tani

Memang sejatinya petani ibarat nadi
Yang berperan untuk menghidupi
Dengan merubah tanah menjadi nasi
Tanpanya manusia tak eksis lagi

Oleh: Habibi Cupalo
Kader IMM Supremasi Hukum – UMM

IMM adalah Komitmen

Ikatanku adalah Komitmenku

Saat ini aku memilih langkah
untuk berada dalam satu naungan
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Ikatan yang mengajarkan kita akan kehidupan nyata yang sebenarnya terjadi.
Ikatan yang membuka mata kita akan kondisi bangsa.

Bangunlah, kawan.
Jangan kau menutup telinga dan memejamkan mata akan kondisi yang terjadi.
Jangan hanya bisa meratapi nasib ketidakadilan ini.

Ikatan tak hanya butuh kata-kata.
Tapi ikatan juga butuh bukti nyata.

Dan kita sudah mengambil sebuah pilihan
untuk menjadi bagian dari ikatan.
Menjadi kader yang bisa memegang komitmen yang telah dipilih.

Maka buktikan bahwa kau tak bermain-main
dengan komitmenmu itu kawan.
Dan jangan kau bawa ikatan ini
ke tengah lautan lalu kau tenggelamkan begitu saja.

Ikatan ini tak butuh kader yang hanya bermain-main di dalamnya.
Karena proses tak sebercanda itu dan tak semudah itu kawan.

Maka dari itu mari kita bersatu dalam semangat jiwa
Bergema di jagat nusantara untuk mencari kebenaran yang gemilang.

Untuk bangkit dan berjuang.
Dan untuk sukses yang tak terbayang.

.

.

Oleh: Rafiatul Husna

Kader IMM Komisariat Aufklarung Teknik-UMM

IMM

Sajak Tawa Tangisku di Seberang

Harap kita , generasi cerdas dan mencerdaskan
Mimpi kita , pemberian berarti untuk bangsa
Muda , Merah bergelimang idealisme usang
Hahaha

Bolehkah aku tertawa ?
Abu muda mengkoyak-koyak sayat demi sayat kita punya kulit
Membara hanguskan mangsa dari rasa sakit
Cemas terusik kantong kering,
Berjalan tegak berkepala miring

Melihat sang pembunuh dan penindas sejati
bertepuk dada mendapati penghormatan tertinggi
Impikan massa pejuang yang tak arang
Tapi srikandi dan dara dara masih dihalang
Pemikiran yang dianggap dewasa tak sesuai bahasa
Seksis otaknya slahkan nafsunya
hahaha

Masih bimbang, gencar Idamkan gelar akademisi
Padahal visi tak elok terbentur dan kalah dengan kondisi
Melainkan tindakan didasari hati masih terbuai ambisi
Masih khayalkan posisi tinggi
Ha ha

Ingin kita, membebaskan jiwa-jiwa
Mendasarkan gerak pada ayat ilahi sejatinya
Tapi enggan” berjibaku masih ada
Siapkan manusia-manusia bertalikan keikhlasan

Tapi.. Masih sering ketenaran dan nama besar berkenalan
Bolehkah aku sela?
Dosakah aku tertawakan raga di depan kaca?
Hahaha

Air mataku jatuh bukan dalam ruang gelap
Melainkan mengalir dalam hati gelap tak berdekap
Sirna
Sebuah isi
Gelas kaca berdasar emas
pantas

Oleh: Muhammad Prasetyo Lanang
Kader IMM Komisariat Aufklarung Teknik-UMM 2016

Angkara

Angkara

Bu, aku hanya berbicara
Berbicara apa adanya
Berkata dengan hati-hati
Lalu saudaraku mati

Bu, aku hanya tertawa
tertawa melihat tangis
tangis primata dengan jas dan kemeja
Tapi aku ditampar api

Bu,aku hanya menangis
Ketika lengking orok ratapi harga pokok

Bu, aku hanya membaca
Membaca tanda-tanda
Tapi kawanku harus pecah kepala

Aku hanya berkata-kata
Aku bertemu dengan amarah
yang sedang rangkai bunga kematian
Dibalik tangan kejinya

Aku hanya mencoba pahami mereka
Baginya tetes nestapa adalah jaya

Bu, kawan kawanku lari
Terbirit hindari cemeti
Ketika aku hanya memberitahu mereka
Hanya menyapa

Aku hanya bersuara
Aku hanya bertanya tanya
Aku hanya duduk disamping mereka
Yang coba lindungi kediaman anak istri

Tapi padanya, tendangan dan pentungan tak terhindar
Di hari esok, tanah moyang tersiram modal
Adik-adik tak lagi punya sendal

Aku hanya bercerita
Tapi aku harus menderita
Tatkala coba berdongeng tentang bara dendam
Dikumandangkan sang asa propaganda

Aku sumpal telinga dengan ganja
Kututup mata dengan debu kereta
Tapi Sawit berduri memanjang dihadapkanku
Disayatkan perlahan dan dinikmatinya setiap kucur darah dan tetes tangisku
Lalu tak lupa  disiramnya air perasan lemon impor dari supermarket

Kubuka mata dan kulihatnya
Kawanku tersita mata pencahariannya
Tak punya lagi pohon kelapa
diantara tanaman beton baru
diatas tanah leluhurku

Bu, aku hanya melanjutkan gumam
Serupa sajak
Tapi ayahku harus pamit, asingkan diri dan tak pulang lagi

Bu, aku hanya bernyanyi
Diatas kerangka langit
Tapi aku diruntuhkan

Bu, aku hanya berbisik
Serupa desis-desis sanca
Tapi aku dipenjarakannya

Bu,aku hanya bernyanyi
Serupa kenari dalam sangkar terbuka
Tapi aku harus korbankan hati

Bu, aku hanya berpuisi..!
Kenapa aku harus mati…!

 

 

Oleh: Muhammad Prasetyo Lanang
3 Maret 2019