Ponorogo

Cerita Kecil Tentang Pembangunan dan Rakyat Kita

“ Konsep negara Indonesia dibangun atas dasar jaminan hak yang sama satu sama lain ”

Indi dilahirkan dari sebuah keluarga yang sederhana dari tiga bersaudara. Mata pencaharian keluarga yang hanya bergantung pada sektor pertanian dengan dua bidang tanah, bagi Indi sudah sangat mencukupi. Indi dan keluarganya telah memperoleh kebahagiaan. Canda dan tawa hampir selalu menyertai kehidupan di desa Indi, meskipun ada perbedaan agama, perbedaan kemampuan ekonomi dan perbedaan tingkat pendidikan. Inilah desanya yang sederhana. Inilah kedamaian, Indi sering membatin demikian. Inilah negeri yang indah.

Indi membantu orang tuanya di rumah seorang diri saja. Karena kedua saudaranya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kampung. Namun Indi tidak pernah bersusah hati. Desanya sudah amat menyenangkan. Usia Indi yang sudah menginjak 19 tahun sementara ibunya berusia 51 tahun, dan ayahnya menginjak usia 73 tahun. Indi sudah cukup dewasa untuk mengerti orang tuanya yang merenta, dan memilih mengabdi pada orang tua.

Tiap kali matahari pagi mengintip bumi, dengan segera Indi menyiapkan semua keperluan ibu dan ayahnya yang hendak pergi ke sawah. Indi menyiapkan sehelai kain membungkus pasok makanan yang terletak di pinggul ibu, dan sekarung peralatan kerja berada di pundak ayah. Indi suka bekerja dan melihat orang bekerja. Bekerja itu mulia.

Hingga suatu hari, desa Indi didatangi ancaman. Mesin-mesin besar! Mesin-mesin itu bertibaan dan beroperasi di sekitar lahan pertanian mereka. Mesin-mesin itu dijaga manusia berseragam yang berdiri tegak mengelilingi pusat operasi. Mesin-mesin itu hendak menghancurkan!

Tidak ada yang tahu muasal kedatangan mesin tersebut. Namun yang pasti adalah tak lama berselang, meledak banyak protes yang berakhir dengan jerit tangis dan gemuruh amarah. Sebab lahan pertanian yang selama ini menjadi sumber kehidupan keluarga dan desa mereka dirusak tanpa ada perundingan dan kesepakatan—sedangkan protes mereka harus ditahan dengan kasar oleh manusia berseragam itu.

Indi mulai menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tidak lama berselang, Indi mulai mengetahui bahwa lahan pertaniannya akan diubah menjadi kawasan industri. Ini adalah kebijakan dari pemerintah yang mengatasnamakan kesejahteraan bagi masyarakat. Ada janji pertumbuhan ekonomi yang pesat bagi masyarakat.

Dalam benak Indi muncul pertanyaan besar kepada negara ini: kenapa perampasan hak oleh segelintir orang dapat dibenarkan dengan alasan memberikan manfaat oleh orang banyak? kenapa perampasan lahan secara paksa dapat dibenarkan dengan alasan akan  membawa pertumbuhan ekonomi yang pesat?

Pertanyaan-pertanyaan ini benar adanya, namun sayangnya, Indi tidak mengetahui duduk perkaranya secara mendalam. Kenyataannya, konsep kenegaraan yang dibangun oleh bapak bangsa tidak mengajarkan perampasan hak. Bila bahkan agama Islam (agama Indi) tidak membenarkan perampasan atas hak beragama orang lain, apalagi perampasan harta?

Sayang sekali Indi tidak mengerti dasar-dasar teoritisnya, bahwa negara Indi dibangun atas dasar jaminan hak yang sama satu sama lain. Tidak ada yang lebih diunggulkan dan juga tidak ada yang direndahkan. Tidak ada jaminan hak yang lebih tinggi bagi seseorang yang terlahir dari keluarga bangsawan dan juga tidak ada pengurangan hak bagi seseorang yang terlahir dari keluarga proletar. Penyetaraan itu demi keutuhan dalam persatuan republik ini tetap terjaga. Sayang sekali Indi hanya merasakan kebenaran tersebut di dalam hatinya, tidak didukung dengan wawasan utuh.

Indi dan warga yang terkena imbas dari pembangunan industri hanya bisa meyakini bahwa kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah kebijakan yang bertentangan dengan kebenaran. Namun Indi bingung kepada siapa ia harus mengadu, sebab pemerintah yang tadinya bertugas menampung keluh kesah rakyat, sekarang malah menggelisahkan.

Indi yakin, membiarkan peristiwa ini berlangsung sama halnya dengan memupuk benih-benih penderitaan yang akan tumbuh subur di masa mendatang. Aksi penolakan harus dilakukan, sembari menyadarkan masyarakat terlebih para pemangku kebijakan tentang seberapa berharganya lahan yang mereka miliki

*****

Suasana berubah, yang semula tenteram, nyaman dan harmonis menjadi gaduh, tegang dan penuh amarah. Terlebih lagi dengan adanya pro dan kontra dalam menilai kebijakan ini.

Namun warga desa Indi tetap memutuskan untuk melawan tanpa memaksa mereka yang tidak ingin. Perlawanan butuh energi, dan berdebat terlalu keras antara pro dan kontra di antara warga hanya akan menghabiskan tenaga. Hari demi hari, Indi dan warga desa melakukan aksi yang konsisten dan nyata, yaitu perlawanan terhadap kebijakan tersebut.

Walau banyak tindak kekerasan yang Indi dan warga desa terima dari manusia berseragam di lapangan, tak sedikit pun semangat juang mereka gentar. Karena Indi dan warga desa yakin, apa yang sedang mereka lakukan saat ini adalah salah satu bentuk jihad di jalan kebenaran. Sayangnya Indi tidak tahu, apa yang dilakukan oleh masyarakatnya lebih dari sekedar merebut lahan pertanian: perjuangan mereka adalah perjuangan menjaga kemanusiaan.

Hingga suatu ketika sampailah Indi dan warga desa pada titik kekalahan yang memaksa mereka menjadi terasing di tengah megah peradaban Industrial.

.

.

Muhammad Andy Purnama S. E.
Anak Petani – Komunitas Pena Emas

images (6).jpeg

Ma, di Perguruan Tinggi Nanti, Aku Ingin Tinggal di Asrama

Rusunawa,
Rumah susun sederhana, dihuni para mahasiswa

Tak pernah kubayangkan, satu atap dengan orang yang berbeda
Tak pernah terpikir, tak terduga datang secara tiba-tiba

Kini bukan lagi alamat yang terlontar,
Melainkan dari mana asal muasal ?
Jombang, blitar, jember , Nganjuk bahkan mancanegarapun juga ada

Kata aku, kamu, kini jadi kita
Hangat, bersemangat meski bukan terikat dari yang paling dekat
Tapi, kasih dan sayang setiap penghuninya

Membuatku memaknai arti “rumah” yang sesungguhnya,
Jauh bukan lagi sambatan, melainkan jauh adalah sebuah pemaknaan

Kubulatkan tekad, kuikhtiarkan niat, rusunawa jadi penjaga hormat
Ku jaga suciku, ku jaga hormatku, dalam atap sederhana yang penuh harap

Harap-harap ibu, bahwa putrinya akan baik-baik saja, misalnya.
Perihal syair lagu, cuci sendiri, masak sendiri, kini aku benar merasakannya.
Sungguh, aku tumbuh dan berkembang disini.

Menjadi pribadi yang harus siap atas segala kondisi.
Bahkan saat keranpun mati.
Atap yang tepat, untuk calon orang-orang bermartabat.

Duhai Ilahi Robbi, sungguh syukur atas segala nikmat.
Maha Besar Allah dengan segala rencananya,

Ma, nyatanya Rusunawa adalah pilihan yang tepat.

.

.

Malang, 7 April 2019

Oleh : Firdaus Faraj Ba-Gharib – Kader IMM Komisariat Fastcho FEB-UMM