kelly-sikkema-YgREE-2uo3k-unsplash

Pak Ketua, Power Tends to Corrupt, Absolute Power, Corrupt Absolutely Loh….

Musycab IMM Malang Raya ke XXII resmi ditutup pada hari Rabu 30 agustus 2017. Ajang Musycab merupakan sebuah “pagelaran” yang sakral bagi IMM Malang Raya. Sebagai perwujudan prinsip “fastabiqul khairat”, Musycab sayangnya “dibumbui” adegan-adegan dramatis dan trik-trik ala politik praktis untuk bersaing menjadi yang terbaik. Bukan politik praktis dalam artian money politic ataupun politik bebas nilai seperti dalam ajang pilpres atau pemilukada, tapi politik berdasarkan kepentingan golongan ataupun kelompok tertentu. Setidaknya itu yang saya lihat setelah mengikuti Musycab selama beberapa hari.

Politik Golongan

Ironi ini saya rasakan ketika mengamati jalannya Musycab yang sepertinya  “panas” diluar forum  tapi malah normatif saja di dalam forum. Dari forum LPJ pengurus periode sebelumnya yang miskin dialektika hingga forum sidang komisi yang nihil adu gagasan karena tidak di bahas bersama. Padahal di forum LPJ, disebutkan bahwa beberapa program kerja dan kebijakan tidak dilaksanakan karena kurang terarahnya rekomendasi musycab periode sebelumnya. Rekomendasi yang sebenarnya dilahirkan dari sidang komisi yang tahun lalu juga tak dibahas itu.

Politik pragmatis untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu itu sebenarnya bukanlah hal yang mutlak salah. Bergabung menjadi suatu “gerbong” yang terdiri dari beberapa bagian kelompok-kelompok tertentu yang dilatarbelakangi oleh kesamaan kepentingan adalah hal yang lumrah dan fitrah. Kesamaan kepentingan yang kemudian hari saya sadari berasal dari  ”local wisdom” yang selama ini kita pelihara dengan dalih kemerdekaan menentukan jati diri masing-masing. Gerbong yang terbentuk akhirnya berkompetisi dengan cara dan strateginya sendri-sendiri. Entah dengan cara elegan maupun frontal, semuanya bisa diidentifikasi dengan mudah. Meskipun punya berbagai macam cara dan strategi, setiap gerbong punya karakter masing-masing yang kembali lagi, di dasari oleh satu hal, yakni “local wisdom”.

Upaya Rekonsiliasi

Maka pada saat penutupan Musycab, tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibanding mendengar kata sinergis. Meskipun sebenarnya cukup miris mendengar kata rekonsiliasi dan akomodir, yang secara tidak langsung menggambarkan terjadi “sesuatu” pada musycab kali ini. Akibat dari politik golongan, kelompok yang kalah berada pada posisi yang sulit. Kualitas individu yang  ada pada golongan tersebut akan lebur oleh identitas golongan yang dilabelkan pada mereka. Maka inisiatif dari ketua baru untuk menyerukan rekonsiliasi dan berjanji untuk mengakomodir kelompok yang “kalah” adalah hal yang sangat perlu di apresiasi. Tujuan mulia untuk memulihkan kembali kondisi internal kita yang seperti terpecah belah menjadi beberapa golongan tidak lain dan tidak bukan, suka atau tidak suka hanya bisa dilakukan melalui satu jalan, rekonsiliasi.

Belajar dari sejarah, tokoh besar seperti Nelson Mandela pernah melakukan itu pada saat krisis akibat dari politik Apartheid di afrika selatan. Hal yang pertama yang ia lakukan setelah menjadi pemimpin baru adalah memaafkan kelompok yang telah memenjarakan dirinya selama berpuluh-puluh tahun. Rekonsiliasi antar kelompok ia lakukan meskipun trauma hebat belum lepas dari ingatan. Dalam konteks ini, upaya rekonsiliasi bukan hanya untuk sekedar “membersihkan” nama ataupun bertujuan untuk “mengasihani” kelompok yang kalah, namun lebih jauh daripada itu, upaya rekonsiliasi adalah usaha untuk men”dewasa”kan proses berpolitik internal kita.

Kepemimpinan Efektif

Salah satu proses tersulit dalam tahapan rekonsiliasi adalah mengakomodir kelompok sebelah, karena proses ini tidak hanya ditentukan oleh satu pihak saja, meskipun itu gerbong “pemenang”. Kedewasaan dan sikap unselfish harus diutamakan. Dalam hal ini, atas nama ikatan, kedua gerbong harus bersinergis demi kepemimpinan yang efektif. Teori manajemen menjelaskan 4 unsur utama dalam mengatur sesuatu. Planning, Organizing, Actuating dan Controlling.   Dan untuk controlling yang efektif itulah rekonsiliasi itu dibutuhkan. Jika kepemimpinan hanya “didominasi” oleh satu pihak saja, maka bisa kita tebak bahwa proses controlling dan evaluasi hanya menjadi mimpi yang kita rindukan.

Harus ada pihak pro dan kontra  dalam proses kepemimpinan kedepannya. Pro dan kontra akan menghasilkan adu gagasan dan dialektika yang akhirnya akan mendorong progresifitas dan produktifitas ikatan kita. Sekali lagi, jika hanya didominasi oleh satu pihak saja, organisasi cenderung mengalami stagnansi. Maka mengutip quotes dari Lord Acton, saya ingin berkata.. “pak ketum baru, power tends to corrupt, absolute power, corrupt absolutely loh…

Oleh: Irsyad Madjid

Ketua Umum PC IMM Malang Raya Periode 2018/2020

Dibuat pada bulan September 2017, menjelang pelantikan PC IMM Malang Raya ke XXIII Periode 2017-2018

 

Tags: No tags

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *