WhatsApp Image 2020-08-21 at 19.59.21

Hasil Tanwir IMM Tetapkan Muktamar Diundur Dan Tegas Menolak Omnibus Law Hingga Penembakan Immawan Randi

IMM-MALANG.ORG – Tanwir yang dihadiri oleh Pengurus Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) dan  Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) seluruh Indonesia, usai dilakukan. (20/08/20)

Jalannya persidangan yang dipimpin oleh Immawan Baikuni Alshafa mendapatkan tanggapan yang berisi narasi–narasi positif dari sebagian besar peserta musyawarah saat mengikuti jalannya persidangan Tanwir.

Baikuni Alshafa, juga memberikan gambaran kenapa muktamar diundur, selain gambaran dari putusan PP Muhammadiyah, kondisi pandemi, serta tidak memungkinkannya dilaksanakan mukatamar secara daring.

Adapun hasil Tanwir IMM yang ke XXIX memutuskan hal berikut:

Pertama, mengesahkan penundaan Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ke-19 di Sulawesi Tenggara.

Kedua, Muktamar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar / Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dilaksanakan pada bulan Agustus 2021.

Ketiga, apabila situasi pandemi telah aman, dalam tinajuan kesahatan, maka Muktamar IMM dapat dilaksanakan sebelum bulan Agustus 2021.

Keempat, segala konsekuensi atas penundaan Muktamar IMM yang berkaitan dengan regulasi organisasi, dan perpanjangan masa jabatan ditetapkan secara sah.

Kelima, kaitan dengan penundaan Muktamar maka Muyawarah Daerah (Musyda) DPD IMM dengan sendirinya ditunda atau dimundurkan (seperti halnya dalam masa jabatan di dalam AD/ART IMM). Adapun Musyawarah setingkat Pimpinan Cabang, dan Pimpinan Komisariat dapat dilaksanakan dengan memperhatikan Protokol Kesehatan.

Keenam, sesuai dengan kewenangan yang ada, DPP IMM dapat segera menindaklanjuti hal-hal yang berkaitan dengan persiapan Muktamar, Steering Comitte, Organizing Comitte, dan Panitia pemilihan serta melakukan sosialisasi lanjutan dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kesiapan Muktamar.

Ketujuh, Forum Musyawarah Tanwir Mengamanahkan kepada DPP IMM untuk merumuskan panduan permusyawaratan tingkat Cabang dan Komisariat, serta merumuskan Sistem Operasional Prosedur (SOP) Perkaderan Utama, Darul Arqam Dasar, Darul Arqam Madya, dan Darul Arqam Paripurna di masa pandemi dan mentanfidzkan untuk menjadi panduan permusyawaratan dan perkaderan.

Tanwir XXIX IMM yang diselenggarakan secara daring ini juga membahas situasi terkini dan peran-peran yang dapat dimaksimalkan oleh IMM se-Indonesia. Pembahasan itu akan dituangkan dalam rekomendasi.

Beberapa hal yang disoroti IMM, di antaranya RUU Omnibus Law. IMM di setiap tingkatan agar terlibat aktif melakukan penolakan terhadap RUU kontroversial tersebut. Selain itu, Forum Tanwir juga meminta pihak kepolisian agar menuntaskan kasus penembakan pada kadernya, Randi. Yang tewas ketika melakukan aksi demonstrasi di Sulawesi Tenggara, September 2019.

Dalam kegiatan Tanwir yang dilaksanakan DPP IMM tersebut, turut hadir, memberikan sambutan dan membuka acara, Prof. Dr. Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah),  Drs. Mohamad Agus Samsudin, M.M (Anggota Konsil Kedokteran Indonesia), dan dr. Ahmad Muttaqin Alim (Wakil Ketua MCCC Muhammadiyah).

Prof. Haedar Nashir berpesan dalam pidatonya, yang disampaikan antara lain mengenai kaderisasi IMM. Beliau menekankan, untuk dapat meningkatkan kaderisasi secara sistematis dan intensif.

“Tingkatkan kaderisasi agar bisa berjalan dengan baik, juga bisa menghasilkan kader ikatan yang sesuai harapan peryarikatan, umat, dan bangsa. Sehingga ke depan, kader IMM bukan hanya dapat berdiaspora di dalam struktur internal maupun eksternal, tetapi juga memainkan peran strategis di kancah nasional” Imbuhnya.

Terahir beliau berpesan kepada seluruh kader IMM dimasa mendatang akan lebih berat dibandingkan tugas kami sekarang.

“Tugas anda lebih berat dimasa mendatang dibandingkan tugas kami sekarang,”pungkasnya. (gus)

miguel-bruna-TzVN0xQhWaQ-unsplash

Meneropong Sumbangsih IMM untuk Indonesia : Usaha untuk Mengatasi Kegagalan Mengendalikan Sejarah

IMM “ide” dari masa depan.

Suatu pagi, di Whatsapp grup PC IMM Malang, seorang kawan mengirimkan potongan gambar tulisan dari Pak Djazman al-Kindi, seorang cendekia Muhammadiyah, yang juga merupakan salah satu pendiri IMM. Tulisan yang bersejarah ini berisi tentang penjelasan akan differensiasi IMM dengan organisasi mahasiswa lainnya merujuk pada “orientasi genetik” organisasi ini didirikan. Pak Djazman gusar, melihat pesimisme yang kerap dilontarkan oleh sebagian pihak yang mendiskreditkan IMM karena soal kuantifikasi dan tingkat popularitasnya.

Menurut beliau, kuantifikasi akan menjadi tidak penting, jika melihat pada masa depan yang bisa dihasilkan dari perkaderan IMM. Koherensi antara intelektualitas dan akidah dalam diri kader yang menjadi goal perkaderan IMM, meskipun minim secara kuantitas namun optimal secara kualitas, akan menjadi cara yang tepat untuk mencapai titik kulminasi peradaban.

Untuk itu, IMM menurut beliau adalah sebuah produk “ide” yang didatangkan dari masa depan. Disaat mayoritas organisasi kemasyarakatan dan kemahasiswaan cenderung berorientasi pada “jumlah” karena kondisi politik yang menuntut untuk menuntaskan revolusi melalui aksi massa, IMM secara visioner menarik batas dirinya sebagai organisasi perkaderan yang fokus pada pengayaan individu kader, melalui konsep: Tekun dalam studi, taat dalam ibadah dan mengabdikan diri pada masyarakat sebagai “Trilogi Gerakan”.

Jika disimpulkan, setting organisasi ini mengarahkan pada kontribusi para kader IMM untuk berfungsi sebagai guardian bagi peradaban. Secara pribadi, saya menganggap pandangan futuristik ini inheren dengan karakter “khas” Gerakan Muhammadiyah yang bersifat moderasi dan progressif.

Kegagalan mengendalikan sejarah.

Namun di dalam perjalanannya, IMM hampir selalu gagal dan gagap dalam mengenali momentum. Argumentasi ini dapat dikonfirmasi melalui tulisan Najib Burhani, yang mengkategorisasi proses pertumbuhan ikatan kedalam 4 tahap. Periode pertama dari tahun (1964-1971) disebutnya sebagai periode pergolakan dan pemantapan.

Meminjam istilah dari salah seorang mantan Ketua DPP IMM pasca kevakuman, Farid Fathoni, pergolakan di tubuh internal IMM tidak jauh dari kontroversi kelahirannya yang dianggap sebagai safe boat bagi rekan sejawatnya, HMI. Alhasil, pada momentum revolusi “angkatan 66”, IMM gagal mendeterminasi laju perkembangan revolusi melalui gagasan-gagasan khas Muhammadiyah-nya, meskipun salah seorang Ketua DPP IMM pada saat itu, Slamet Sukirnanto, terpilih menjadi salah satu Ketua Presidium KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).

Periode kedua (1971-1975) disebut Najib Burhani sebagai periode pengembangan. Ada hal yang menarik dari tapak tilas perjalanan IMM di periode ini. Jika merunut pada pengertian seorang filsuf besar Jerman, G.W.F Hegel tentang pengertian sejarah sebagai sesuatu yang tunggal, evolusinya tidak bersifat acak namun direksional, maka sejarah pada hakikatnya adalah sebuah peristiwa yang mampu “dikendalikan” atau “direkayasa”.  Hemat saya, hal ini yang menjadi urgensi utama, IMM pada Muktamarnya yang ke IV di kota Semarang melahirkan Deklarasi Baiturrahman, yang rasanya agak asing, bahkan di internal IMM  sendiri.

Secara cerdik, IMM menjawab permasalahan sosial yang terjadi sebagai ujung dari masalah yang lebih fundamental, yakni krisis kemanusiaan. Di tengah tuntutan gerakan mahasiswa yang fokus pada isu ekonomi dan ras dengan semangat anti-imperialisme Jepang-nya, IMM memandang krisis kemanusiaan sebagai “akar masalah” dari kebijakan modernisasi tanpa arah pemerintahan orde baru dan juga dipaksakannya sistem hidup yang bersifat kepentingan jangka pendek (material benefit) kepada rakyat Indonesia, yang mendalangi lahirnya krisis lain, seperti ; ekonomi, sosial dan politik.

Hipotesa saya, ini adalah usaha untuk “mengarahkan” sejarah agar berputar pada pendulum yang benar. IMM secara implisit menginginkan “transformasi” gaya mahasiswa dari yang konfrontatif lewat aksi massa dalam merespon isu yang cenderung berakibat pada munculnya korban jiwa dan hal-hal negatif lainnya, kembali berpedoman pada khittah dan ide awal IMM dimunculkan, yakni pemberdayaan kader (perkaderan), untuk menjawab persoalan krisis kemanusiaan. Namun, ihwal tentang pemikiran cemerlang ini, gagal jadi arus utama gerakan pada masa itu.

Periode ketiga (1975-1985) disebut sebagai periode tantangan yang sebenarnya lebih tepat jika digolongkan sebagai periode “kritis”. Hal ini dikarenakan terjadi kekosongan pada DPP IMM yang notabene merupakan hierarki tertinggi dalam organisasi. Faktor ini nampaknya yang menjadi sebab utama gagalnya IMM mencapai tingkat kematangan organisasinya. Idealnya, di usia itu, IMM sudah selayaknya mampu mengambil peran dan posisi strategis untuk mempengaruhi kebijakan publik tingkat nasional melalui diaspora kader-kader generasi awalnya.

Namun hal ini tak terjadi. Alhasil, starting point IMM untuk berfungsi secara optimal yang disebut Najib Burhani sebagai periode kebangkitan, terhitung sejak pasca 1985. Akibatnya, situasi inilah yang membuat IMM “gagap” untuk mengendalikan momentum sejarah yang terjadi pasca itu, seperti: peristiwa reformasi dan pertarungan di era milenium, karena ter’’hegemoni’’ oleh para perekayasa sejarah lain yang sudah berada pada usia “matang”.

Intellectual Strategic = Usaha menciptakan social capital.

Melihat hal itu, sekaligus untuk memberikan perspektif lain dalam menjawab pertanyaan what should IMM do?  membangun lingkar inti yang terdiri dari kader-kader intelektual IMM yang telah berkiprah pada ranah keummatan, kebangsaan dan persyarikatan adalah hal yang kudu wajib dilakoni. Intelektual atau cendekia dalam perspektif ikatan, sebenarnya memiliki tugas yang amat berat. Meminjam penafsiran Azaki Khoiruddin (Anggota Majelis Kader PP Muhammadiyah) dalam tulisannya menyambut milad ke 54 IMM, kata “cendekiawan berpribadi” yang telah terpilih menjadi salah satu diksi dalam mars IMM berpadanan dengan Etika Profetik-nya Kuntowijoyo.

Sehingga, lahirlah praksis Gerakan Intelektual Profetik sebagai paradigma baru dalam ber-ikatan. Praksis ini memberikan warna khas dalam orientasi perkaderan ikatan yang bertujuan tidak hanya melahirkan kader yang progressif untuk dirinya sendiri, namun serius untuk bergerak atas tiga basis nilai ; humanisasi, transendensi dan liberasi. Jika diamati, Ultimate Goal dari paradigma ini, lucunya, kembali lagi pada ujaran Founding Father-IMM, pak Djazman, soal usaha memperbaiki “masa depan” lewat transformasi masyarakat melalui perkaderan.

Namun, maksud tersebut rasanya sekedar menjadi hal yang utopis. Kegagalan untuk meng”orbit”kan hasil perkaderannya pada berbagai lahan dakwah menjadi problem utama yang menimpa tubuh ikatan. Padahal, Francis Fukuyama, Guru besar George Mason University bidang kebijakan Publik, dalam bukunya The Great Disruption menjelaskan bahwa dibutuhkan nilai-nilai atau norma informal yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok sehingga terjalin kerjasama diantara mereka untuk menjadi social capital yang berfungsi membangun peradaban.

Masalahnya, metode dan konsep pen”diaspora’’an kader pada ikatan yang masih belum dirumuskan dengan baik, menjadi faktor dominan dari kegagalan untuk membangun social capital tersebut. Akibatnya, kiprah dari kader-kader potensial di berbagai lini yang notabene merupakan output dari perkaderan yang terlah berjalan,  hanya memiliki daya gempur yang lemah. Hal ini cukup ironi, mengingat perkaderan  IMM yang menganut dari nilai yang sama, adalah modal yang penting bagi IMM sendiri untuk membentuk social capital-nya.

Maka, di momen pelantikan kali ini, IMM Malang Raya mengusung tema “Meneropong sumbangsih IMM untuk Indonesia; Ijtihad Pemikiran IMM Malang Raya” sebagai propaganda awal untuk menginisiasi lahirnya aliansi intelektual para kader IMM Malang yang sudah berkiprah di pelbagai ranah. Harapannya, melalui usaha ini, kedepannya IMM bisa berkontribusi penuh untuk mengendalikan sejarah dan masa depan lewat peran sebagai “gerakan penentu”.

Oleh: Irsyad Madjid

Ketua Umum PC IMM Malang Raya Periode 2018/2020

Dibuat pada tanggal 17 Februari 2019, menjelang pelantikan PC IMM Malang Raya ke XXIV Periode 2018-2020

kelly-sikkema-YgREE-2uo3k-unsplash

Pak Ketua, Power Tends to Corrupt, Absolute Power, Corrupt Absolutely Loh….

Musycab IMM Malang Raya ke XXII resmi ditutup pada hari Rabu 30 agustus 2017. Ajang Musycab merupakan sebuah “pagelaran” yang sakral bagi IMM Malang Raya. Sebagai perwujudan prinsip “fastabiqul khairat”, Musycab sayangnya “dibumbui” adegan-adegan dramatis dan trik-trik ala politik praktis untuk bersaing menjadi yang terbaik. Bukan politik praktis dalam artian money politic ataupun politik bebas nilai seperti dalam ajang pilpres atau pemilukada, tapi politik berdasarkan kepentingan golongan ataupun kelompok tertentu. Setidaknya itu yang saya lihat setelah mengikuti Musycab selama beberapa hari.

Politik Golongan

Ironi ini saya rasakan ketika mengamati jalannya Musycab yang sepertinya  “panas” diluar forum  tapi malah normatif saja di dalam forum. Dari forum LPJ pengurus periode sebelumnya yang miskin dialektika hingga forum sidang komisi yang nihil adu gagasan karena tidak di bahas bersama. Padahal di forum LPJ, disebutkan bahwa beberapa program kerja dan kebijakan tidak dilaksanakan karena kurang terarahnya rekomendasi musycab periode sebelumnya. Rekomendasi yang sebenarnya dilahirkan dari sidang komisi yang tahun lalu juga tak dibahas itu.

Politik pragmatis untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu itu sebenarnya bukanlah hal yang mutlak salah. Bergabung menjadi suatu “gerbong” yang terdiri dari beberapa bagian kelompok-kelompok tertentu yang dilatarbelakangi oleh kesamaan kepentingan adalah hal yang lumrah dan fitrah. Kesamaan kepentingan yang kemudian hari saya sadari berasal dari  ”local wisdom” yang selama ini kita pelihara dengan dalih kemerdekaan menentukan jati diri masing-masing. Gerbong yang terbentuk akhirnya berkompetisi dengan cara dan strateginya sendri-sendiri. Entah dengan cara elegan maupun frontal, semuanya bisa diidentifikasi dengan mudah. Meskipun punya berbagai macam cara dan strategi, setiap gerbong punya karakter masing-masing yang kembali lagi, di dasari oleh satu hal, yakni “local wisdom”.

Upaya Rekonsiliasi

Maka pada saat penutupan Musycab, tidak ada hal yang lebih membahagiakan dibanding mendengar kata sinergis. Meskipun sebenarnya cukup miris mendengar kata rekonsiliasi dan akomodir, yang secara tidak langsung menggambarkan terjadi “sesuatu” pada musycab kali ini. Akibat dari politik golongan, kelompok yang kalah berada pada posisi yang sulit. Kualitas individu yang  ada pada golongan tersebut akan lebur oleh identitas golongan yang dilabelkan pada mereka. Maka inisiatif dari ketua baru untuk menyerukan rekonsiliasi dan berjanji untuk mengakomodir kelompok yang “kalah” adalah hal yang sangat perlu di apresiasi. Tujuan mulia untuk memulihkan kembali kondisi internal kita yang seperti terpecah belah menjadi beberapa golongan tidak lain dan tidak bukan, suka atau tidak suka hanya bisa dilakukan melalui satu jalan, rekonsiliasi.

Belajar dari sejarah, tokoh besar seperti Nelson Mandela pernah melakukan itu pada saat krisis akibat dari politik Apartheid di afrika selatan. Hal yang pertama yang ia lakukan setelah menjadi pemimpin baru adalah memaafkan kelompok yang telah memenjarakan dirinya selama berpuluh-puluh tahun. Rekonsiliasi antar kelompok ia lakukan meskipun trauma hebat belum lepas dari ingatan. Dalam konteks ini, upaya rekonsiliasi bukan hanya untuk sekedar “membersihkan” nama ataupun bertujuan untuk “mengasihani” kelompok yang kalah, namun lebih jauh daripada itu, upaya rekonsiliasi adalah usaha untuk men”dewasa”kan proses berpolitik internal kita.

Kepemimpinan Efektif

Salah satu proses tersulit dalam tahapan rekonsiliasi adalah mengakomodir kelompok sebelah, karena proses ini tidak hanya ditentukan oleh satu pihak saja, meskipun itu gerbong “pemenang”. Kedewasaan dan sikap unselfish harus diutamakan. Dalam hal ini, atas nama ikatan, kedua gerbong harus bersinergis demi kepemimpinan yang efektif. Teori manajemen menjelaskan 4 unsur utama dalam mengatur sesuatu. Planning, Organizing, Actuating dan Controlling.   Dan untuk controlling yang efektif itulah rekonsiliasi itu dibutuhkan. Jika kepemimpinan hanya “didominasi” oleh satu pihak saja, maka bisa kita tebak bahwa proses controlling dan evaluasi hanya menjadi mimpi yang kita rindukan.

Harus ada pihak pro dan kontra  dalam proses kepemimpinan kedepannya. Pro dan kontra akan menghasilkan adu gagasan dan dialektika yang akhirnya akan mendorong progresifitas dan produktifitas ikatan kita. Sekali lagi, jika hanya didominasi oleh satu pihak saja, organisasi cenderung mengalami stagnansi. Maka mengutip quotes dari Lord Acton, saya ingin berkata.. “pak ketum baru, power tends to corrupt, absolute power, corrupt absolutely loh…

Oleh: Irsyad Madjid

Ketua Umum PC IMM Malang Raya Periode 2018/2020

Dibuat pada bulan September 2017, menjelang pelantikan PC IMM Malang Raya ke XXIII Periode 2017-2018

 

Indonesia_2

Memaknai Kemerdekaan Indonesia

Ditulis dalam detik-detik menuju peringatan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-75

Peringatan kemerdekaan menjadi salah satu momentum yang tepat untuk memaknai kembali kemerdekaan. Mengenal penjajah baru, mengetahui sistem penjajahan baru, memperjuangkan kemerdekaan baru, dari hal tersebut kita bisa mengatasi dan melihat masa depan bangsa ini. Berjuang dengan gaya baru, dengan semangat dan pemikiran baru untuk bangsa.

Merdeka, kata yang lekat dengan kebebasan dan kemandirian. Sudah 75 tahun Indonesia merdeka. Namun usia ¾ abad itu belum mampu Memerdekakan bangsa seutuhnya. Banyak bermunculan penjajah dan penjajahan gaya baru.

Perjalanan Indonesia selama 75 tahun kebelakang tidaklah mudah, rasa sakit serta rasa sedih yang menyertai selama ini membentuk cita dan asa untuk selalu berjalan memajukan Indonesia. Jalan panjang, terjal, berlubang, hancur lebur, menunggu kita didepan untuk tetap berjalan bersama bangsa ini, bangsa Indonesia.

Melihat realitas, membaca sejarah, lalu berfikir serta membayangkan bangsa Indonesia merupakan suatu hal yang perlu kita mulai, bukan hanya pada saat ini -17 Agustus- tetapi setiap saat, sebagai bentuk memaknai kemerdekaan bangsa ini, bangsa Indonesia.

Membayangkan bagaimana kondisi para pejuang, yang entah namanya akan diabadikan atau tidak, tetapi yang dia tau hanyalah untuk kemerdekaan bangsanya. Kemerdekaan yang dampaknya sangat signifikan bagi kita semua saat ini. Pertanyaan nya ialah, jika saja kita dijajah pada saat ini, dengan bentuk dan penjajahan gaya baru, apakah kita masih berfikir sebagai pejuang dahulu?

Membayangkan bagaimana para pemuda dengan semangat api nya, ikut mendorong kaum tua serta memberikan tenaga dan pikiran yang fresh dan baru terhadap pergerakan kemerdekaan Indonesia untuk menumbangkan kolonialisasi penjajah. Apakah kita sanggup, sebagai kaum muda yang katanya Millenial ini untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran seperti pada saat dahulu?

Membayangkan bagaimana para perwakilan masyarakat atau para pemimpin untuk memperjuangkan melalui diplomasi melalui agumen tanpa ragu ketika berhadapan dengan para

penjajah, atau pemimpin diakar rumput untuk mengkomandoi tanpa gentar melawan tentara kolonial, atau membayangkan bagaimana para pemikir untuk merumuskan yang lantang dan berani untuk memperjuangan bangsanya dibawah tekanan para penjajah. Sekali lagi, apakah kita sanggup, jika saja kita berada dalam posisi tersebut, dengan peristiwa pada saat ini?

Dari hal tersebut, mari kita berfleksi dan berfikir kedepan serta bertanya mengapa kita harus memaknai kemerdekaan ini. Bertanya dan berpikir perlukah kita berjalan melanjutkan di jalan yang terjal ini untuk bangsa Indonesia?

Oleh: Adi Fauzanto

Sekertaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Malang Raya 2020-2021

ADI3

Buku, Perpustakan Dan Peradaban Pencerahan

Melihat data statistik tingkat literasi masyarakat Indonesia yang tidak kunjung membaik dan cenderung menurun, memang menyakitkan. Seperti data penelitian Most Littered Nation in The World pada tahun 2016, Indonesia menduduki tingkat 60 dari 61 dalam minat membaca (Kompas, 2016).

Atau data penelitian Proggamme for International Student Assement (PISA), yang secara indikator matematika, sains, dan literasi mengalami penurunan. Skor Indonesia pada literasi sebesar 371 di tahun 2018, terendah sejak tahun 2000. Sedangkan skor sains, sebesar 396. Dan skor matematika, sebesar 379 (Katadata, 2019).

Walaupun data statistik nilai tersebut perlu dipertanyakan dan diperdebatkan lagi secara metode dan indikatornya. Tetapi dari hal tersebut, setidaknya kita harus membenahi ketiga indaktor (matematika; sains; literasi). Membenahi rasa sakit bangsa ini, atas penilaian dan realitas yang ada.

Terkadang rasa menyakitkan itu yang membangkitkan semangat kita sebagai manusia. Seperti kisah Minke dalam Novel Bumi Manusia (2015), rasa sakit atas ketidakadilan dia sebagai pribumi, yang menyadarkan seorang Tirto Adhi Suryo untuk membangkitkan semangat bangsa nya melalui Pers (Historia, 2019).

Rasa sakit itu, harus mengubah pemikiran kita menuju perbaikan, menuju peradaban yang lebih baik. Optimis, kata yang tepat untuk rasa sakit itu. Penulis membayangkan pidato seorang Barrack Obama pada kunjungan ke Indonesia, padahal dibalik pidato tersebut terdapat realitas yang menyakitkan (Tempo, 2010).

Ketika menggunakan kata peradaban, kita tidak sedang bermain-main dengan kata tersebut, bertanggungjawab adalah kata kunci selanjutnya. Lalu dengan apa? Dan seperti apa kunci tanggungjawabnya? Kuncinya ialah bertanggungjawab pada keilmuan. Seperti saat Islam masuk ke Spanyol dan Italia yang membudayakan keilmuan sehingga menciptakan peradaban eropa baru atau Renaissance (Hasyim, 2018).

Belajar dari peradaban tersebut, menimbulkan abad pencerahan (Aufklarung) di eropa yang melahirkan humanisme dan modernitas. Dibalik sukses atau gagalnya -karena kritik kontemporer atas modernitas- peradaban tersebut, kita harus memperlajari bagaimana membangun nya? Dengan apa dibangun? Siapa saja yang membangun? Bagaimana peradaban tersebut berpengaruh terhadap individu dan masyarakat?

Selain menjelaskan proyek peradaban tersebut (Renaissance dan Aufklarung), lalu kita bertanya dimana peran buku dan perpustakaan? Apakah kedua pengaruh tersebut signifikan? Dan bagaimana kedua nya bisa mempengaruhi peradaban?

Pertanyaan-pertanyaan tadi yang membuat kita berfikir, dan merefleksikan diri kita sebagai individu, terutama untuk bangsa dan negara ini. Artikel reflektif ini, harus dipandang sebagai metode dan praksis (praktek). Sehingga tidak hanya menjadi gagasan intelektual yang diperdebatkan (dialektika), tetapi juga dijalankan secara praksis di masyarakat Indonesia.

Dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang membuat bangsa kita merefleksikan diri. Penulis menggunakan pendekatan Teori Kritis Mazhab Franfkut, yang digagas Horkheimer (Sindhunata, 2019). Pada teori kritis tersebut terdapat tiga syarat. Pertama, kita harus curiga dan skeptis terhadap masyarakat. Kedua, melacak nya melalui sejarah material masyarakat ala Marx, dan berpikir secara dialektis ala Hegel. Ketiga, ialah tidak boleh memisahkan teori ini dengan praksis, bahasa mudahnya ialah aplikatif.

Buku, Perpustakaan, dan Abad Pencerahan

Perjalanan eropa menuju Aufklarung yang melahirkan humanisme dan modernisme, melalui berbagai proses dan tahap. Middle Age atau Abad Pertengahan, adalah pintu masuk nya, masa dimana dikenal dengan dark age atau zaman kegelapan. Masa keterpurukan masyarakat eropa.

Mengapa bisa diistilahkan zaman kegelapan? Karena setiap aspek kehidupan didominasi gereja dengan ketat. Berbagai hal dilakukan demi kepentingan gereja, tetapi sebaliknya, jika itu merugikan gereja akan mendapatkan hukuman yang kejam (Saifullah, 2014).

Sedikit reflektif, jika saja, keinginan manusia-manusia khususnya di Indonesia menginginkan kembali agama sebagai alat pengatur negara, barangkali dia tidak belajar dari sejarah, bagaimana manusia dikekang. Merdeka adalah lawan katanya. Lalu merdeka yang seperti apa? Merdeka baik secara individu, dan merdeka secara pikiran, itu lah karakteristik dari zaman Renaissance.

Dari situ lahirlah perkataan “Aku Berfikir, Maka Aku Ada” oleh Descrates. Selain kemerdekaan berfikir, zaman ini memunculkan bibit humanis dan modern, dalam bahasa yang sering kita dengar ialah tentang hak asasi manusia dan kemajuan teknologi. Selain melahirkan kemerdekaan berfikir, terdapat dua paham dan metode terbesar yang lahir dan berpengaruh hingga saat ini yaitu Rasionalisme dan Empirisme (Dinar, 2013).

Perjalanan Abad Pertengahan yang merupakan kegelapan bagi eropa, dan masyarakat eropa bangkit. Menuju Renaissance (kelahiran kembali) dan Aufklarung (abad pencerahan). Indonesia perlu belajar dari apa yang disebut kehancuran atau kegelapan atau kesedihan yang terus menerus.

Lalu pertanyaannya, dengan apa masyarakat eropa bangkit? Jawaban sederhananya yaitu keilmuan, buku, dan pendidikan. Lalu bagaimana ketiganya dapat berpengaruh di era Renaissance dan Aufklarung?

Menurut Hasyim (2018) dalam Paper Jurnal berjudul Renaissance Eropa dan Transisi Keilmuan Islam ke Eropa, era tersebut diawali di Andalusia (Spanyol) dan Sisilia (Italia). Terdapat tiga (keilmuan; buku; pendidikan) yang membuatnya menjadi signifikan, kita mengambil sejarah Andalusia dan tokoh Ibnu Rusyd sebagai salah satu intelektual yang terlibat.

Andalusia, menjadi pusat peradaban keilmuan masyarakat eropa pada saat eropa menjadi hitam kelam karena dominasi gereja. Mengapa bisa terjadi? Pemerintah (pemilik kekuasaan) saat itu memberi tempat terhormat bagi para ilmuwan (Hasyim, 2018). Universitas menjadi tempat pusat pembelajaran dari setiap penjuru negara-negara eropa untuk belajar, salah satunya Universitas Cordova dan salah satu gurunya ialah Francis Bacon, sebagai filosof Renaissance eropa.

Salah satu yang terlibat didalamnya, ialah Ibnu Rusyd, ia hidup dimana penguasa Andalus dekat dengan kaum cendekiawan dan cinta pada pengetahuan. Penguasa tersebut itulah yang melindungi dan mendorong proses penerjemahan dan pengembangan pemikiran filsafat, khususnya pemikiran Aristoteles (Khudori, 2012).

Menurut Donald Hill (Khudori, 2012), terdapat kaitan erat antara dukungan politik dan ekonomi dengan perkembangan pemikiran dan ilmu pengetahuan. Pelajaran penting dalam political will atau kemauan politik khususnya untuk penguasa di Indonesia.

Semaraknya pengembangan ilmu pengetahuan atau keilmuan di Andalusia, berdampak pada perkembangan buku dan perpustakaan. Sejarah mencatat, perpustakaan di Cordova pada abad 10 Masehi mempunyai 600.000 jilid buku. Sedangkan perpustakaan Al-Hakim di Andalusia mempunyai buku dalam 40 kamar, yang setiap kamar terdiri dari 18.000 buku (Hasyim, 2018).

Sedangkan Ibnu Rusyd sendiri menurut Ernert Renan yang melacak karyanya, berhasil mengidentifikasi 78 judul buku, 28 judul dalam bidang filsafat, 20 judul dalam teologi, 8 judul dalam hukum, 4 judul dalam astronomi, 2 judul dalam sastra, dan 11 dalam ilmu lainnya (Khudori, 2012).

Dalam hal yang lebih praktis, sejarah mengapa munculnya Revolusi Prancis, dalam buku Sejarah Prancis dari Zaman Pra-Sejarah hingga Akhir Abad ke-20 (2018). Tercatat ketika dalam Aufklarung, penguasa saat itu memiliki minat terhadap ilmu pengetahuan. Dan bagaimana penguasa saat itu, memiliki target pengentasan buta huruf untuk seluruh masyarakat. Satu generasi setelahnya lahirlah Revolusi Prancis, dengan semboyan terkenalnya Liberte, Egalite, Fraternite.

Indonesia dan Abad Pencerahan

Melihat faktor-faktor pembuka jalan menuju abad Renaissance dan Aufklarung eropa, tiga diantaranya keilmuan, buku, dan perpustakaan. Selain itu, diperlukan juga Political Will atau kemauan politik dari penguasa pada ilmu pengetahuan, menciptakan budaya literasi yang membentuk masyarakat. Tinggal bagaimana nantinya penguasa dan masyarakat menuai hasilnya, dan digunakan untuk apa.

Berbicara jauh, menerawang 300 tahun lamanya perkembangan ilmu pengetahuan di eropa, jangan lupa untuk melihat realitas yang ada, yang kita rasakan, khususnya di Indonesia. Apa Kabar Indonesia? Quo Vadis Indonesia?

Jika melihat Political Will dari pemerintah Indonesia, membaca Paper Jurnal berjudul Membangun Kualitas Bangsa dengan Budaya Literasi yang ditulis oleh Ane Permatasari (2015). Dia menggambarkan dialektika kondisi data permasalahan literasi masyarakat di Indonesia dengan keadaan politik praktis yang tidak memberikan harapan mengatasi masalah literasi masyarakat Indonesia.

Salah satu kutipannya ialah kualitas suatu bangsa ditentukan oleh kecerdasan dan pengetahuannya, sedangkan kecerdasan dan pengetahuan dihasilkan oleh seberapa ilmu pengetahuan yang didapat, kemudian ilmu pengetahuan didapat dari informasi yang diperoleh dari lisan maupun tulisan. Semakin banyak penduduk suatu wilayah yang haus akan ilmu pengetahuan semakin tinggi kualitas dan peradabannya (Ane, 2015).

Lalu bagaimana membangunnya? Bagaimana suatu yang diinginkan menjadi terwujud? Bagaimana suatu masyarakat menjadikan literasi sebagai budaya? Rasa-rasanya sulit sekali menjawabnya, memang setiap muncul pertanyaan belum tentu ada jawaban yang memuaskan. Tetapi dari pertanyaan-pertanyaan yang kurang terjawab inilah yang membangun kesadaran individu dan masyarakat untuk terus bergerak dari kondisi ke kondisi.

Politik, Sosiologi, Budaya, Hukum, dan semua disiplin ilmu pengetahuan harus terlibat aktif bagaimana menyelesaikan pertanyaan dan masalah yang ada, yaitu membangun peradaban yang lebih baik di Indonesia.

Penulis memberikan gagasan atas apa yang telah ditulis diatas, dari data permasalahan di masyarakat dan negara, serta sejarah peradaban dan tokoh. Dalam garis besarnya terdapat tiga fokus, membangun dasar, sub-dasar, dan puncaknya. Jika digambarkan dalam segitiga yang tersusun secara horizontal bertingkat (dasar, sub-dasar, puncak).

Political Will menjadi bagian dasar dalam membangun peradaban. Political Will bisa dipandang bagi penguasa dan masyarakat, kemauan untuk kemajuan peradaban, khususnya peradaban ilmu pengetahuan. Didukung dengan infrasftruktur pendukung berupa pemerataan buku dan perpustakaan diseluruh bagian dan lapisan masyarakat.

Dari Political Will dan infrastruktur yang merata, selanjutnya ialah mengatasi buta huruf diseluruh masyarakat-pemerataan pendidkan-. Jika kebijakan pengentasaan buta huruf, sudah terjadi atau dalam pelaksanaan, selanjutnya ialah bagaimana meningkatkan minat baca masyarakat, minat baca terhadap apapun, dari koran hingga buku. Jika perlu dilakukan dilakukan secara pragmatis bagaimana meningkatkan minat baca tersebut.

Selanjutnya ialah bagaimana kita menuai hasil sementara. Yaitu bagaimana kita membiasakan terjadinya baca, tulis, dan diskusi. Pembiasaan tersebut harus terjadi diseluruh bagian dan lapisan masyarakat, sehingga menjadi kebudayaan, yaitu budaya literasi.

Lalu dari ketiga hal tersebut, tinggal bagaimana kita menuai hasil sesungguhnya. Jika menuju masyarakat industri yang terliterasi sehingga terukur. Jika menuju masyarakat ilmiah, bagaimana kualitas dan kuantitas penelitian dan buku. Jika menuju masyarakat agraris, bagaimana mengembangkan kondisi sumber daya alam yang ada.

Jalan panjang, terjal, berlubang, hancur lebur, menunggu kita didepan. Setidaknya dari jalan-jalan tersebut kembali pada prinsip diawal tulisan, rasa sakit yang kita derita melalui realitas yang ada, untuk mengubah menjadikan suatu perubahan perbaikan peradaban. (gus)

Daftar Pustaka Buku

Jean Carpentir. 2018. Sejarah Prancis: Dari Zaman Prasejarah Hingga Akhir Abad ke-20. Gramedia: Jakarta

Khudori Soleh. 2012. Epistimologi Ibn Rusyd: Upaya Mempertemukan Agama dan Filsafat. UIN Maliki Press: Malang

Sindhunata. 2019. Teori Kritis Sekolah Frankfrut: Dilema Usaha Manusia Rasinal. Gramedia: Jakarta

Jurnal

Ane Permatasari. 2015. Membangun Kualitas Bangsa Dengan Budaya Literasi. Prosiding Seminar Nasional Bulan Bahasa UNIB.

Dinar Dewi Kurnia. 2013. Konsep Nilai dalam Peradaban Barat. Jurnal Tsaqafah Vol.9 No.2

Hasyim Asy’ari. 2018. Renaisans Eropa dan Transmisi Keilmuan Islam ke Eropa. Jurnal Sejarah Peradaban Islam Vol. 2 No. 1

Saifullah. 2014. Renaissance dan Humanisme Sebagai Jembatan Lahirnya Filsafat Modern. Jurnal Ushuluddin Vol. 22 No.2

Internet

Dwi Hadya Jayani. 2019. Kemampuan Membaca, Matematika, Sains Siswa Indonesia Rendah. Diakses dari https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/12/04/2018-kemampuan-membaca-matematika- dan-sains-indonesia-rendah

Fandy Hutari. 2019. Pram Menemukan Minke. Diakses dari https://historia.id/kultur/articles/pram- menemukan-minke-6mRK3

Mikhael Gewati. 2016. Minat Baca Indonesia Ada di Urutan ke-60 Dunia. Diakses dari https://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke- 60.dunia?page=allTempo. 2010. Pidato Lengkap Obama di Balairung Universitas Indonesia. Diakses dari https://nasional.tempo.co/read/291064/pidato-lengkap-obama-di-balairung-universitas- indonesia/full&view=ok

Oleh: Adi Fauzanto

Sekertaris Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Malang Raya 2020-2021