Peserta Forum Cendekiawan Merah 2019
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Malang

Nafas Baru Cendekiawan Muda Muhammadiyah

Ada semacam kegelisahan di tengah aktivis muda Muhammadiyah tentang bagaimana organisasi modernis ini di masa depan. Apakah stamina intelektual masih melekat pada Muhammadiyah? Menguatnya gejala fanatisme dan tren –ekonomi, politik dan life style kiwari di akar rumput adalah sebab banyak orang enggan menjawab pertanyaan menukik itu.

Di samping itu, Ahmad Syafii Ma’arif misalnya dalam buku “Menggugat Modernitas Muhammadiyah,” menyebut, energi pemikiran baru banyak ter-aborsi pada pelaksanaan atau implementasi kerja-kerja nyata atau dalam bahasa lain pragmatisme dalam arti yang positif -gerakan amal.

Beberapa hari lalu kami, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya mengadakan short course pemikiran yang kami sebut Forum Cendekiawan Merah (FCM). Selama lima hari, agenda ini sengaja kami desain sebagai upaya menjaga suluh pembaharuan pemikiran di Muhammadiyah.

Sebagaimana telah dicatat oleh banyak peneliti, Robert W. Hafner misalnya mengatakan bahwa Muhammadiyah sudah menjadi salah satu pusat pengembangan pemikiran yang kuat tentang demokrasi, pluralisme, dan syariah. Selain itu bancmark Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern atau gerakan Islam modern dapat kita temui pada karya-karya misalnya, Mitsuo Nakamura, Julian Benda, Deliar Noer William Shepard, James L Peacock dan masih banyak lagi.

Pun agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa sejak kelahirannya Muhammadiyah identik dengan karakter pembaharu (Tajdid). Hal ini misalnya dapat kita lihat secara jelas bagaimana K.H Ahmad Dahlan sendiri memulai gerakan ini.

Spirit yang digunakan adalah pembaharuan untuk meretas kejumudan umat Islam dan masyarakat pribumi pada saat itu. Hadirnya Sekolah, PKO, dan lembaga filantropi lainnya adalah tanda yang nyata. Mustahil lahirnya gerakan-gerakan kuat seperti demikian itu tidak berangkat dari pemikiran yang kuat pula.

Sebetulnya, FCM hendak mendorong lahirnya para cerdik cendekia baru dengan berbagai disiplin ilmu dari rahim Muhammadiyah. Oleh karena, di abad kedua ini, Muhammadiyah tentu harus terus melangkah maju, memperbarui hasil yang dulu dianggap ‘baru’.

Banyak sekali lahan pembaruan yang punya potensi garap, misalnya ekologi, ekonomi, pendidikan, teknologi, politik dan lain sebagainya. Sebagai contoh, bagaimana pemikiran Muhammadiyah soal ekologi? Jelas, demikian perlu dijawab oleh Muhammadiyah, jika memang Muhammadiyah mengkampanyekan istilah berkemajuan. Biarpun begitu, semuanya itu perlu dilakukan dengan semangat pembaruan yang tinggi. Melihat sejarah bisa jadi salah satu menjaga semangat itu.

Dus, dengan melihat konteks sejarah pemikiran Muhammadiyah yang dinamis itu, short course yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Cabang Malang Raya ini, bermaksud menyediakan wadah bagi kader-kader IMM seluruh Indonesia untuk menyelami, menelusuri, dan mengelaborasi jejak pemikiran pembaharuan tokoh-tokoh Muhammadiyah.

Tema yang diangkat yakni “Dialog Pemikiran Pembaharuan di Muhammadiyah”. Tentu, upaya ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah demi menjaga semangat pembaharuan Muhammadiyah itu sendiri demi menatap 100 tahun ke depan –mengisi abad kedua-nya.

Bagaimana FCM?

Berkolaborasi bersama Suara Muhammadiyah dan Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) Universitas Muhammadiyah Malang, kami memulai FCM dengan Dialog Ilmiah –bedah buku Fresh Ijtihad: Manhaj Pemikiran Keislaman Muhammadiyah di Era Disrupsi. Buku karya Prof. M Amin Abdullah ini setelah membacanya kami rasa senafas dengan ide FCM yang belakangan ini kami gagas.

Seperti, perlunya membincang ulang makna ‘Berkemajuan’ ala Muhammadiyah di Abad 21. Dalam bukunya beliau menyandingkan Islam berkemajuan dengan Islam Progresif yang dalam bahasa pemikir Islam kontemporer Abdullah Saeed disebut dengan “progressive-ijtihadi”.

Di buku spektakuler itu di antaranya Prof. Amin menyebut “adalah tugas para pakar di lingkungan Muhammadiyah, baik di lingkungan Pusat, Wilayah, Daerah dengan berbagai Majelis, Badan, Ortom (Organisasi Otonom) dan lain-lain. Lebih-lebih di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah untuk membuat check list sejauh mana kriteria Islam yang berkemajuan yang termaktub dalam Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua, produk Muktamar ke-46 (2010) tersebut paralel, sehaluan, berbeda atau berseberangan dengan apa yang disebut-sebut sebagai Islam Progresif dalam dunia akademik kajian keislaman kontemporer” Juga membahas gejala populisme Islam yang muncul seperti kebangkitan konservatisme Islam dari Spritualisasi Islam ke Politisasi Islam yang menguat di akar rumput beriringan dengan situasi politik electoral.

Mengutip pendapat Azhar Syahida dalam IBTimes.id  03/08, pada intinya dalam buku itu, jika kita telisik bersama, Prof. M. Amin Abdullah tengah mempertanyakan, bagaimana pembaharuan Muhammadiyah untuk seratus tahun ke depan?

Hadir sebagai pembicara pada bedah buku tersebut adalah Guru Besar UIN Maliki Malang Prof. Imam Suprayogo dan Presidium Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah Dr. Pradana Boy ZTF. Selanjutnya para peserta FCM yang merupakan delegasi IMM seluruh Indonesia dikarantina. selama lima hari metode yang gunakan agaknya berbeda dengan forum-forum keilmuan yang umumnya digunakan di berbagai tempat.

Di FCM, sebetulnya yang hendak kami berikan ke peserta bukan hanya cekokan ceramah berjam-jam oleh pemateri namun cara belajar itu sendiri yang kami utamakan. Para peserta yang berjumlah tiga puluh orang kader membaca sumber-sumber ilmiah (buku, jurnal, laporan penelitian) yang kami siapkan secara lengkap, membuat review buku dan paper pemateri setiap harinya, dan merevisi secara detail esai yang telah ditulis oleh mereka sendiri.

Serta mendiskusikan ide-ide baru yang mereka temukan. keseluruhan aktivitas peserta didampingi oleh lima orang fasilitator yang memiliki portofolio sebagai penulis dan pembaca. Dalam bahasa saya, minimal yang dapat dibawa pulang para cendekiawan muda Muhammadiyah itu ialah cara memilih sumber ilmiah, cara membaca, cara menulis dan bagaimana menegosiasikan ide kreatif mereka.

Tak lupa yang juga penting dalam FCM ialah, informasi baru dari para pembicara yang sebelumnya tidak didapatkan oleh peserta di daerahnya masing-masing. Ada empat tokoh muda Muhammadiyah yang memiliki kapasitas, ide-ide segar seputar Muhammadiyah kami undang sebagai pembicara.

Di antaranya Mu’arif, peneliti sejarah di Muhammadiyah sekaligus Redaktur Suara Muhammadiyah; Hasnan Bachtiar, aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah; Fajar Riza Ul Haq, Staf Khusus Mendikbud RI, dan Piet Hizbullah Khaidir, Aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah.

Banyak ide segar yang diberikan para pemateri lewat paper dan ceramahnya. Misalnya, Piet Hisullah Khaidir menutur, Muhammadiyah perlu banyak ‘catatan kaki’ untuk menjelaskan secara sederhana pikiran-pikiran maju dari para begawan Muhammadiyah sampai ke akar rumput. Menurut Piet, catatan kaki itulah peran dari para cendekiawan muda –tak lain adalah kader IMM. Sebab, tanpa rujukan, penjelasan, interpretasi (catatan kaki) yang lebih renyah dan dekat dengan akar rumput dari pemikir muda Muhammadiyah itulah ide-ide maju Prof. M Amin Abdullah enggan diterima.

Dengan FCM ini Kami melihat nafas baru cerdik cendekia muda Muhammadiyah tumbuh. Relevan dengan bidang kajian para kader di Kampus sebagai mahasiswa, banyak pemikiran dan ide baru mereka sumbangkan kepada Muhammadiyah kini dan hari esok. Contohnya, di antara mereka ada yang bicara tentang Pengembangan Pendidikan dan Pusat Riset Teknologi di Muhammadiyah, Muhammadiyah dan Pemihakan Ekologi, dan masih banyak lagi.

Penutup

Hemat saya, sejalan dengan pernyataan Prof. Din Syamsuddin bahwa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah harus menjadi pelopor gerakan ‘Ijtihadis’ yang menawarkan solusi bukan ‘Jihadis’ yang cenderung konfrontatif. Maka para kader IMM harus menjadi cerdik cendekia untuk menerjemahkan ide-ide besar Muhammadiyah hingga terwujudnya praksis keagamaan yang berkemajuan dan progresif di tengah masyarakat.

Para kader muda cendekiawan ini dipersiapkan ke depan akan menjadi generasi baru Jaringan Intelektual Muhammadiyah (JIMM) misalnya.  Juga secara jangka panjang akan mengisi pos-pos kepemimpinan di organisasi induk Muhammadiyah dan amal usahanya sejak ranting hingga pusat. Agar Muhammadiyah dapat memimpin, menuntun kebangkitan Islam berkemajuan yang tidak bertabrakan dengan semangat zaman.

Oleh: Ode R. Prabtama
(Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan IMM Malang Raya)

 

Ardy Renaissance

Meningkatkan Budaya Literasi Melalui Semangat “Gerakan Ruba Dirimu”

“ Ilmu Amaliah, Amal Ilmiah” tidak asing lagi ditelinga kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Kalimat tersebut sering kita dengar di forum-forum formal maupun diskusi kultural yang sering diadakan oleh IMM dari Level Komisariat hingga pusat.

Namun, apakah semua kader IMM memahami makna dari kalimat tersebut? Jawabannya ada di masing-masing individu kader IMM. Lantas apa sebenarnya makna dari kalimat tersebut?

Bagi saya, kalimat tersebut mempunyai makna yang sangat mendalam. “Ilmu Amaliah”, berarti segala ilmu yang kita pelajari dan baik hendaknya kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengutip sebuah pernyataan dari Imam Syafi’i, beliau menyampaikan bahwa “ Ilmu adalah yang bisa memberi manfaat, bukan hanya sekedar di hafalkan”.

Kalimat tersebut mengajarkan kita bahwa ilmu itu haruslah kita amalkan dalam kehidupan sehari-hari, jangan hanya di konsumsi sendiri (onani intelektual). Hal tersebut menunjukkan pentingnya kita mengamalkan ilmu yang telah kita pelajari demi meluruskan pemahaman terhadap masyarakat luas.

Sedangkan kalimat, “Amal Ilmiah” berarti segala sesuatu yang kita amalkan harus sesuai dengan fakta, landasan serta mampu dibuktikan secara rasional. Dalam mengamalkan sesuatu kita harus benar-benar menelaah kebenarannya, jangan sampai sesuatu yang kita amalkan membuat orang lain tersesat. Kita sering menemukan beberapa orang yang mengakhiri suatu diskusi dengan debat kusir.

Lantas, apa dampak dari debat kusir tersebut? Dampaknya tentu beragam, mulai dari saling caci sampai adu pukul. Ada dua faktor penyebab terjadinya hal tersebut.

Faktor yang pertama adalah kurangnya pemahaman terkait topik yang dibahas sehingga asal bicara saja. Faktor yang kedua adalah hanya mengacu pada kebenaran individu tidak berusaha untuk melihat dari kebenaran publik.

Jika kita membuka Sistem Perkaderan Ikatan (SPI) pada halaman X, maka kita akan menemukan kalimat “ Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah”. Kalimat tersebut merupakan salah satu poin dari enam penegasan yang dimiliki oleh IMM. Hal tersebut menunjukkan bahwa IMM harus hadir sebagai organisasi kemahasiswaan yang mampu memberikan pencerahan terhadap masyarakat.

Selain bergerak dirana kemahasiswaan, IMM juga bergerak dirana agama dan masyarakat. Lantas, apa yang harus dimiliki oleh kader sebelum melakukan dakwa atau memberikan pencerahan ke tiga rana di atas? Dalam SPI ada tiga hal yang mendasar yang harus dimiliki oleh setiap kader, di antaranya adalah Regiulitas, Humanitas dan Intelektualitas.

Namun, sampai hari ini peran IMM masih dipertanyakan di tengah masyarakat. IMM belum mampu menunjukkan taringnya di tengah permasalahan yang ada di Indonesia saat ini. Banyak persoalan yang melanda bangsa kita saat ini, mulai dari disparitas politik yang menyebabkan disintegrasi di tengah masyarakat.

Hal tersebut mengingatkan kita pada awal kelahiran IMM, di mana pada saat itu banyak organisasi yang berafiliasi dengan beberapa partai politik. Sehingga menjadi keharusan IMM hadir untuk menjawab persoalan bangsa pada era orde lama.

Sudah lebih dari setengah abad IMM ada di tengah masyarakat, banyak hal yang menjadi tantangan bangsa kita ke depannya. Dengan melihat polarisasi politik yang cenderung membuat masyarakat terpecah belah, ditambah lagi adanya kelompok-kelompok tertentu yang menginginkan suatu konsep negara baru.

Kurangnya kedewasaan serta pemahaman terhadap suatu masalah yang terjadi, membuat masyarakat gampang terprovokasi. Hal tersebut sangatlah disayangkan, di mana masyarakat menjadi korban atas perang kepentingan para elit politik yang sedang berlaga. Kurangnya budaya literasi semakin mempertajam perpecahan di akar rumput. Masyarakat terlalu cepat menyimpulkan suatu kejadian yang ada tanpa melihat latar belakang dan dampak dari masalah yang sedang terjadi.

Berbicara budaya literasi, Indonesia masih terpuruk di level bawah. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU), Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang disurvei.

Indonesia hanya mampu unggul dari negara Botswana, sedangkan di urutan pertama di raih negara Finlandia. Tidak hanya Sektor pendidikan yang menjadi indikator dalam survei tersebut. Indikator lain dalam survei ialah jumlah dan kemudahan mengakses perpustakaan.

Lantas bagaimana dengan hasil penelitian lembaga lain? berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Program For International Student Assessment (PISA). Berdasarkan hasil penelitian dari PISA, menunjukkan minat baca dari masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Dari 70 negara yang memenuhi kualifikasi Indonesia hanya berada pada rangking 62 dengan skor 397.

Data tersebut membuktikan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia sangatlah rendah. Hal tersebut menjadi renungan buat kita semua. Lantas bagaimana dengan budaya literasi di internal IMM? Memang belum ada penelitian khusus terkait budaya literasi di lingkungan IMM. Namun, hal tersebut bisa terjawab dengan melihat peran IMM dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam berbagai forum misalnya, cenderung kader IMM hanya sekedar hadir untuk memenuhi undangan saja atau hanya terlihat eksis saja. Tidak banyak kader yang mampu mengeluarkan gagasan-gagasannya, hampir proses dialektika dalam forum IMM sangatlah rendah.

Namun hal tersebut masih bisa kita debatkan. Lantas apa yang harus dilakukan IMM agar meningkatkan budaya literasi di Indonesia?

Untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia, IMM harus memperkuat gerakan intelektul di internalnya terlebih dahulu. Gerakan intelektual harus mulai dibumingkan oleh kader IMM.

Lantas, apakah IMM harus fokus membumikan gerakan intelektual dalam internalnya saja? Tentu tidak, IMM harus hadir sebagai pelopor untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Sembari memperkuat gerakan intelektual dirana internal, IMM juga harus memperkuat gerakan dirana eksternal.

Lantas gerakan intelektual yang seperti apa yang harus diperkuat? Dengan melihat permasalahan di atas, ada tiga aspek yang harus disiapkan. Yang pertama adalah menyediakan ruang baca, dengan menyediakan ruang baca dapat membuat masyarakat mudah mengakses buku-buku yang mereka cari.

Dengan memanfaatkan ruang publik, IMM bisa hadir di tengah masyarakat. Seperti membuka lapak baca buku gratis di taman-taman Kota dan ruang terbuka lainnya.

Yang kedua adalah membuka ruang diskusi atau rung pikir, dengan adanya ruang-ruang diskusi diharapkan mampu meningkatkan daya kritis masyarakat. IMM harus bersinergis dengan LSM, Pemerintah Desa dan memanfaatkan ruang publik lainnya.

IMM harus hadir membuka cakrawala berpikir masyarakat. Diskusi-diskusi mengenai isu kontemporer dan permasalahan yang ada diharapkan mampu membuka nalar kritis masyarakat.

Yang ketiga adalah membuka ruang tulis, tentu tidak semua masyarakat suka menulis. Tidak hanya masyarakat saja, kader IMM juga tidak semuanya suka menulis. Dengan adanya ruang menulis diharapkan memperkuat gerakan intelektual, serta mampu menyampaikan keresahan-keresahan yang dialami oleh masyarakat. Tidak hanya sekedar memberikan pelatihan-pelatihan kepenulisan kepada masyarakat, IMM harus mampu menyediakan ruang untuk mempublikasi hasil tulisan.

Konsep gerakan intelektual di atas dapat kita sebut “Gerakan Ruba Dirimu” yaitu gerakan yang mengarah pada ketiga aspek di atas, yaitu ruang baca, ruang diskusi atau ruang pikir dan ruang menulis. Dengan “Gerakan Ruba Dirimu” diharapkan mampu meningkatkan budaya literasi yang ada di internal IMM maupun di tataran masyarakat secara umum.

Harapannya “Gerakan Ruba Dirimu” tidak hanya menjadi sebuah konsep semata. Mulai dari sekarang, saya mengajak kepada semua lapisan IMM mulai dari level komisariat sampai pusat untuk membumikan dan mengaplikasikannya. Saatnya IMM hadir diruang-ruang publik sebagai bentuk dari mengamalkan nilai-nilai “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar”.

Mengutip moto dari Koran Partai Sosialis Italia dalam buku “pijar-pijar pemikiran Gramsci”yang ditulis oleh A Pozzolini. Koran yang diberi nama L’ Ordine Nuovo ( Majalah Mingguan Kebudayaan Sosialis) mempunyai moto sebagai berikut“ Belajarlah karena kita akan membutuhkan segenap kecerdasan kita.

beragitasilah karena kita akan membutuhkan segenap antusiasme kita. berorganisasilah karena kita akan membutuhkan segenap kekuatan kita”.

Dari moto tersebut bisa kita ambil kesimpulan bahwa dalam memperjuangkan sesuatu kita harus memiliki kecerdasan, semangat dan kekuatan.

Bahwa dalam memperjuangkan “Gerakan Rubah Dirimu” kita tidak bisa bekerja sendiri, kita memerlukan semangat dan kekuatan besar untuk meningkatkan budaya literasi di Indonesia. Oleh karena itu, dengan kekuatan, semangat dan kecerdasan yang dimiliki setiap kader IMM, maka “Gerakan Ruba Dirimu” harus direalisasikan dalam bentuk nyata.

.

Ditulis oleh: Muhammad Ardi Firdiansyah
Sekretaris Bidang Keilmuan IMM Komisariat Renaissance FISIP-UMM