rachmad

Kepemimpinan Efektif, Sosiologi Organisasi Sebagai Pencerahan Hidup

Berkah demokrasi membawa keuntungan bagi kita karena kita mengenal banyak model pemimpin dan kepemimpinan hari ini. Bukankah pengetahuan kita bertambah ketika  kita  berpartisipasi memilih pemimpin, seperti Ketua RT? Kepala Desa? Kepala Daerah? Bahkan, sampai pemilihan presiden? Kita juga sangat ahli, mengevaluasi dan menilai kepemimpinan figur-figur tertentu.  Saudara pasti gampang membedakan, kepemimpinan Gubernur B yang dibandingkan Gubernur A. Era sekarang merupakan ”keberlimpahan” kepemimpinan yang jauh lebih baik dari pada Era Orde Baru.

Dengan banyaknya hajatan kepemimpinan tersebut, apakah otomatis kita pandai mempraktikkan kepemimpinan? Belum tentu. Masih kita temui pemimpin yang bekerja tanpa visi dan misi. Pada dunia pendidikan, misalnya, tidak semua pendidik memiliki kesadaran, ketrampilan dan kemampuan kepemimpinan.

Kalaupun ia ditunjuk sebagai ketua, kemampuan memimpin masih sangat lemah. Ia hanya bertindak teknis melulu yang tidak ada bedanya dengan pesuruh karena gagal mengabstraksikan mimpi futuristik. Demikian pula, banyak pemimpin dengan karakter mental lemah yang  akhirnya melarikan diri dari tanggung jawab.

Mengapa visi dan misi tidak jelas, karena lemahnya kepemimpinan. Pengalaman saya berinteraksi dengan banyak aktivis organisasi nirlaba, menyimpulkan bahwa rata-rata orientasi pemimpin kosong. Mereka tidak tahu mengapa mengajukan diri sebagai pemimpin? Mereka tidak mengerti apa yang harus dilakukan sebagai pemimpin. Pengalaman bekerja di lembaga swasta seperti Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memperkuat pengetahuan ini. Relasi saya dengan mahasiswa dan kawan-kawan komunitas sesungguhnya  relasi kepemimpinan.

Tidak sama dengan mahasiswa kampus negeri yang memiliki kesiapan row-input, mahasiswa kampus swasta lebih tidak siap. Perilaku mereka juga tidak sama dengan mahasiswa PTN. Mahasiswa PTS tidak sungkan-sungkan memberi kritik langsung, di kelas ramai, berisik sebagai tanda protes. Lain dengan mahasiswa PTN yang tidak menyukai cara mengajar dosen dengan tidak mengkritik langsung, tetapi pasif atau safety first atau mencari literatur di luar dosen.

Bagaimana menghadapi  kondisi dan situasi semacam ini? Kepemimpinan menjadi tips jitu. Menghadapi mahasiswa yang gaduh misalnya, langkah terpenting yakni ” mengendalikan massa” dan pengendalian massa tidak berjalan efektif tanpa leadership kuat, karenanya ia harus menjadi bekal utama. Ingat, pekerjaan kepemimpinan adalah investasi untuk peradaban. Tidak mungkin hanya mengandalkan tindakan-tindakan teknis. Tindakan-tindakan yang melekat visi-visi kekhalifahan, kenabian dan  keumatan menjadi syarat mutlak.

Analisa dan Langkah-Langkah Sosiologis

Ungkapan hadis nabi yang patut kita jadikan pedoman yakni, ” setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. Saya tidak menyatakan bahwa pemimpin itu harus sebagai kepala atau ketua, apakah ketua RT, kepala daerah atau kepala negara. Kepemimpinan melekat dalam setiap individu yang hidup pada kelompok sosial karena interaksi sosial menuntut berbagai model perlakuan, kadang lunak dan kadang tegas.

Agar kita berhasil memimpin, maka kita harus belajar kepemimpinan (leadership). Untuk itu, langkah pertama yakni memahami model-model kepemimpinan, apakah saudara memilih. Membiarkan berjalan secara alamiah tanpa intervensi atau kepemimpinan laizzes fair. Atau Saudara menjadi pengendali dan Saudara terampil dalam mengelola perbedaan-perbedaan pada organisasi itu? Atau saudara selalu memikirkan untuk meminta pihak lain mengikuti sebagian besar kemauan Saudara?

Kedua, kemampuan menyerap informasi. Kemampuan penting kepemimpinan yakni menyerap informasi dalam bentuk data-data akurat.  Pemimpin yang baik akan benar-benar menyeleksi informasi yang akurat, jangan sampai obrolan sambil makan siang saja langsung dijadikan  bahan kebijakan tertentu.

Ketiga, kemampuan mendelegasikan wewenang. Bukankah pemimpin yang baik yang berhasil menyelesaikan pekerjaan sendirian yang sering diwarnai ”ngamuk-ngamuk”, tetapi keberhasilan pemimpin ketika merealisasikan tujuan organisasi secara tim, mengapa demikian? Keberhasilan ini karena sang pemimpin berhasil mendelegasikan kewenangan.

Ketrampilan di atas bisa efektif jika pemimpin memiliki sikap-sikap keteladanan, pribadi yang menginspirasi dan kerja sama.  Terkait keteladanan, banyak pihak baik di lingkaran atau di luar lingkaran Saudara menyorot pekerjaan Saudara. Karena itu, keteladanan menjadi satu-satunya strategi efektif untuk membangun citra positif di mata  orang lain.

Sementara itu  pribadi yang menginspirasi menuntut kita menjadi pribadi di mana tindak tanduk, ucapan dan karya-karya kita memantik peniruan dari pihak-pihak lain. Bahkan kehadiran kita dalam diam pun, menjadi inspirasi pihak lain.   Sedangkan, kerja sama menunjuk kepada kerja-kerja kelompok pada sebuah tim. Mustahil semua pekerjaan dilakukan sendirian. Pekerjaan organisasi adalah kolektif, maka kerja sama menduduki posisi vital.

.

.

Oleh: Rachmad K Dwi Susilo, Ph.D
Ketua Umum Ikatan Sosiologi Indonesia Malang Raya dan
Ketua Jurusan Sosiologi, FISIP – UMM

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *