Perempuan dan Hijab

Empati pada Korban Pelecehan Seksual?

Pelecehan seksual merupakan segala bentuk tindakan seksual yang tidak diinginkan, termasuk di dalamnya permintaan atau perilaku seksual yang dilakukan baik secara fisik, lisan, isyarat, atau cara lainnya yang membuat korban merasa malu, terintimidasi, terganggu, dan tersinggung.

Akhir-akhir ini pelecehan seksual sering kali terjadi, dilansir dari web online liputan 6 menunjukkan bahwa terdapat dua puluh dua kasus terkait pelecehan seksual, sementara berdasarkan data yang bersumber dari catatan tahunan 2018 (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2018 menjelaskan bahwa terdapat kasus perkosaan sebanyak 619 dan kasus persetubuhan atau eksploitasi seksual sebanyak 555.

Sejumlah 266 kasus dilaporkan kepada polisi, dan 160 kasus masuk dalam proses pengadilan. Kasus-kasus pelecehan seksual tersebut adalah yang terlaporkan, belum termasuk kasus lainnya yang masih tidak diketahui.

Maraknya kasus pelecehan seksual kemungkinan besar akan menimbulkan dampak-dampak yang tidak diinginkan bagi korban. Dampak fisik yang terjadi dapat berupa luka pada tubuh, kerusakan  organ, kehamilan, bahkan kematian. Sementara dampak psikis dapat berupa trauma yang merupakan respons terhadap rasa takut, kehilangan harga diri dan perasaan tak berdaya dalam kondisi yang mendadak dan mengejutkan.

Korban pelecehan seksual membutuhkan pertolongan, tetapi sayangnya terdapat beberapa berita yang menyatakan jika ada pihak yang justru menyalahkan korban saat mereka berusaha untuk melapor. Selain itu, penegakan hukum yang masih bias terkait kasus pelecehan seksual juga kerap kali menjadi akar masalah. Sehingga, bukan tidak mungkin lagi jika masih banyak korban pelecehan seksual yang memilih untuk bungkam.

Sejauh ini dapat ditemukan banyak komunitas atau organisasi yang bertujuan untuk melindungi perempuan, seperti contohnya koalisi perempuan Indonesia, komnas perempuan, Samahita Bandung, Hollaback Jakarta, dan Lentera Sintas Indonesia.

Menurut hemat penulis, komunitas-komunitas tersebut tidak dapat berdiri sendiri tanpa bantuan pihak-pihak perempuan lain yang tersebar di daerah-daerah sekitar Indonesia. Sekecil atau sebesar apapun perkumpulan-perkumpulan perempuan, formal maupun non-formal, penting rasanya menyuarakan tentang perlindungan bagi korban pelecehan seksual.

Immawati sebagai sosok-sosok perempuan yang menjadi bagian dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah memegang peranan penting untuk memahami lebih dalam lagi terkait isu-isu perempuan terutama tentang pelecehan seksual.

Di antara cara-cara yang dapat dilakukan adalah sosialisasi tentang apa itu pelecehan seksual, bagaimana mengambil sikap jika menjadi korban, dan bagaimana menempatkan diri saat dipercaya menjadi pendengar korban pelecehan seksual.

Penempatan diri yang tepat saat dipercaya menjadi pendengar cerita korban pelecehan seksual akan sedikit menurunkan tingkat stres korban, dan salah satu hal yang perlu diperhatikan untuk menjadi pendengar yang baik adalah meningkatkan rasa empati, yaitu mampu menempatkan diri pada posisi orang tersebut dan berusaha ikut merasakan bagaimana jika seandainya ia berada dalam posisi seperti korban.

Oleh: Relung Fajar Sukmawati
Sekretaris Umum PK IMM Reformer UIN Maulana Malik Ibarahim Malang


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *