Angkara

Angkara

Bu, aku hanya berbicara
Berbicara apa adanya
Berkata dengan hati-hati
Lalu saudaraku mati

Bu, aku hanya tertawa
tertawa melihat tangis
tangis primata dengan jas dan kemeja
Tapi aku ditampar api

Bu,aku hanya menangis
Ketika lengking orok ratapi harga pokok

Bu, aku hanya membaca
Membaca tanda-tanda
Tapi kawanku harus pecah kepala

Aku hanya berkata-kata
Aku bertemu dengan amarah
yang sedang rangkai bunga kematian
Dibalik tangan kejinya

Aku hanya mencoba pahami mereka
Baginya tetes nestapa adalah jaya

Bu, kawan kawanku lari
Terbirit hindari cemeti
Ketika aku hanya memberitahu mereka
Hanya menyapa

Aku hanya bersuara
Aku hanya bertanya tanya
Aku hanya duduk disamping mereka
Yang coba lindungi kediaman anak istri

Tapi padanya, tendangan dan pentungan tak terhindar
Di hari esok, tanah moyang tersiram modal
Adik-adik tak lagi punya sendal

Aku hanya bercerita
Tapi aku harus menderita
Tatkala coba berdongeng tentang bara dendam
Dikumandangkan sang asa propaganda

Aku sumpal telinga dengan ganja
Kututup mata dengan debu kereta
Tapi Sawit berduri memanjang dihadapkanku
Disayatkan perlahan dan dinikmatinya setiap kucur darah dan tetes tangisku
Lalu tak lupa  disiramnya air perasan lemon impor dari supermarket

Kubuka mata dan kulihatnya
Kawanku tersita mata pencahariannya
Tak punya lagi pohon kelapa
diantara tanaman beton baru
diatas tanah leluhurku

Bu, aku hanya melanjutkan gumam
Serupa sajak
Tapi ayahku harus pamit, asingkan diri dan tak pulang lagi

Bu, aku hanya bernyanyi
Diatas kerangka langit
Tapi aku diruntuhkan

Bu, aku hanya berbisik
Serupa desis-desis sanca
Tapi aku dipenjarakannya

Bu,aku hanya bernyanyi
Serupa kenari dalam sangkar terbuka
Tapi aku harus korbankan hati

Bu, aku hanya berpuisi..!
Kenapa aku harus mati…!

 

 

Oleh: Muhammad Prasetyo Lanang
3 Maret 2019

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *