Insaf Nasional

Makhluk Sosial dan Keinsafan Nasional

Negara kita Indonesia ini adalah negara yang besar dan dihuni oleh ratusan juta penduduk dan mempunyai sumber daya alam melimpah dan memiliki keberagaman. Untuk itu, Satukan kesadaran dan pandangan untuk tolong menolong dan gotong royong antar sesama warga masyarakat yang menderita kesusahan atau musibah. Karena dengan kesadaran itulah kita dapat mewujudkan negara Indonesia yang bersatu dan menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Singkirkan moral individualisme, kekerasan, persekusi, saling membenci dan mencaci antar sesama anak bangsa.

Di tengah kondisi bangsa yang  sangat carut-marut dengan banyaknya kasus. Narkoba, korupsi, konflik kepentingan, penyebaran informasi palsu (HOAX), isu SARA, dll. Dengan kondisi carut marut dan kesembronoan tersebut akan menjadi bom waktu (konflik, perpecahan, kekerasan, keretakan sendi-sendi negara) bagi Indonesia, Maka dibutuhkan kesadaran atau keinsafan seluruh elemen masyarakat Indonesia.

Saat ini negara Indonesia termasuk negara berkembang. Tantangan yang dihadapi oleh negara berkembang adalah banyaknya rakyat miskin, tingkat pendidikan rendah dan akses kesehatan atau angka kematian sangat tinggi. Dan yang menjadi bahan renungan adalah penderita kemiskinan, kriminal, korupsi, saling memfitnah, mencemooh, konflik intra agama itu adalah umat Islam sendiri selaku masyarakat mayoritas di negara Indonesia.

Saat ini aset atau kekayaan di Indonesia di kuasai oleh asing dan segelintir konglomerat. Para pengusaha dan konglomerat hidup semakin kaya dan sejahtera, Sedangkan warga masyarakat hidup semakin lemah tak berdaya dan sulit mengakses kesehatan, pendidikan, dll. Untuk menjawab persoalan yang dihadapi negara Indonesia saat ini. Setiap elemen masyarakat perlu saling gotong royong, tolong-menolong dengan menyedekahkan (berderma), menjalin persatuan dan persaudaraan antar sesama untuk mencapai negara Indonesia yang adil, damai makmur dan sejahtera sesuai cita-cita kita hidup bernegara.

Ketika seluruh rakyat Indonesia sudah memenuhi kebutuhan dasar (primer) hidupnya, maka sebagian masyarakat Indonesia akan lebih mudah bekerja menafkahi hidup maupun mampu membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat lainnya. Selain itu, ketika rakyat sudah memenuhi kebutuhan dasar, maka masyarakat akan mampu berinteraksi, berkreasi dan mengaktualisasi diri dalam menjalani kehidupan dengan harmonis dan sejahtera dalam bermasyarakat dan bernegara. Maka dengan kondisi itulah, dalam proses penyelengaraan kenegaraan dan kemasyarakatan akan tercapai kemajuan, harkat dan martabat bagi rakyat dan  negara itu sendiri.

Eksistensi Manusia

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Allah SWT., seperti jin dan malaikat. Dikatakan makhluk yang sempurna karena manusia di karunia oleh Allah SWT berupa akal dan nafsu. Malaikat diciptakan dari cahaya, sedangkan jin diciptakan dari api. Allah SWT menciptakan malaikat agar senantiasa beribadah kepada-Nya. malaikat selalu taat dan tidak pernah bermaksiat pada Allah. Sedangkan jin diberikan pilihan untuk taat atau bermaksiat pada Allah. kebanyakan jin kufur kepada Allah, bahkan golongan jin yang kafir lebih banyak dari golongan manusia.

Manusia adalah makhluk sosial, karena manusia hidup bertetangga dengan manusia lainnya. Manusia tidak akan bisa dan susah hidup tanpa ada orang di sekitar yang membantu ketika mengalami musibah. Berbicara mengenai manusia sebagai makhluk sosial. Manusia di ciptakan dengan berbagai macam agama, suku, ras dan kepercayaan. Maka manusia harus mampu hidup harmonis dengan segala perbedaan dan keberagaman.

Manusia Sosial.

DRS, H, Ishomuddin,MS. Dalam buku Sosiologi Perspektif Islam. Mengatakan bahwa, sejak lahir manusia ada ditengah-tengah manusia yang melahirkannya dan yang mengurusinya sampai isi dapat berdiri sendiri sebagai suatu pribadi. Hidup ditengah-tengah kelompok atau di dalam kelompok, menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang bermasyarakat. Kelompok inilah yang mematangkan seorang individu menjadi suatu pribadi. Dari kenyataannya yang demikian, hakikatnya manusia merupakan makhluk yang unik, yang merupakan perpaduan antara aspek individu sebagai perwujudan dirinya sendiri dan merupakan makhluk sosial sebagai perwujudan anggota kelompok atau anggota masyarakat. (Hal:42).

Segi utama lainnya yang perlu diperhatikan ialah bahwa manusia secara hakiki merupakan makhluk sosial. Manusia tidak dapat hidup sendirian, karena ia memang makhluk sosial. Secara naluriah, manusia hidup dalam masyarakat, dan apabila ada dalam kelompok ia akan mampu berbuat lebih. Ia jelas tidak dapat dipisahkan dari induknya, familinya, ataupun dari pribadi lain dan kelompok masyarakatnya. Manusia tidak akan pernah dapat melawan sifatnya sendiri.

Allah berfirman dalam Al-Qur’uran surah Al-Hujurat ayat ke 113. “hai manusia! Kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan. Kami jadikan kamu berbagai bangsa dan berbagai puak. Supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu islah yang paling takwa di antara kamu. Sungguh Allah maha mengetahui, maha sempurna pengetahuannya”. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa menurut Al-Quran manusia secara fitri adalah makhluk sosial dan hidup bermasyarakat merupakan suatu keniscayaan bagi mereka. (Hal:47).

Manusia itu pada hakikatnya tidak dapat hidup sendiri atau menyendiri. Manusia kata orang Yunani “zoon pooliticon” yaitu manusia itu makhluk yang bersosial, politik, dan bergaul. Manusia tidak dapat hidup dengan mengucilkan diri atau memisahkan diri dari orang lain. Seperti: seorang anak sangat memerlukan asuhan dan rawatan yang cukup lama agar menjadi bayi yang sehat, baik dan tumbuh besar.

Begitu pun, dengan manusia harus bergabung menjadi anggota suatu kelompok yang bernama masyarakat. Hidup berkelompok dan bermasyarakat itu suatu kebutuhan yang mutlak bagi manusia, karena dapat bekerja sama, tolong menolong, gotong-royong dan membagi fungsi dan peran sesuai dengan pekerjaan dan minat masing-masing individu.

Agar suatu warga masyarakat dapat hidup aman, damai, harmonis, dan sejahtera. Maka manusia dengan manusia lain mengadakan pertemuan atau musyawarah bersama untuk membuat persetujuan, menentukan norma-norma, dan nilai-nilai luhur di masyarakat yang dapat menunjang kedamaian dan kesejahteraan sesuai tujuan hidup antar sesama masyarakat.

Dan juga, karena individu dan kelompok masyarakat telah membentuk nilai-nilai dan norma-norma tersebut, nilai-nilai dan norma itu tidak hanya sebagai slogan pemanis yang berhenti pada ucapan belaka. Melainkan setiap masyarakat harus menginternalisasikan nilai-nilai dan norma-norma luhur tersebut yaitu perkataan harus selaras dengan perbuatan, dan ketika berinteraksi dengan sesama saling memberikan nasehat, pencerahan dan kebermanfaatan bagi diri sendiri dan masyarakat luas.

Keinsafan Bersama

Mungkin, kita perlu mencermati nasehat dari tokoh bangsa, sang proklamator RI dan Wakil Presiden pertama yaitu Bung Hatta mengenai kesadaran atau keinsafan nasional dalam hidup bermasyarakat dan bernegara yang masih relevan dengan kondisi negara hari ini.

Tiga macam keinsafan sekurang kurangnya harus ada pada kita, supaya kedudukan negara kita di mata dunia kelihatan kokoh. Pertama, keinsafan nasional, yaitu keyakinan bahwa kita adalah satu bangsa, bangsa yang merdeka, dan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air kita dengan segala jiwa dan raga. Tentang keinsafan nasional rakyat kita, kita boleh merasa bangga, semangat kebangsaan tetap meluap-luap.

Keinsafan yang kedua ialah keinsafan bernegara, yaitu pengertian bahwa kita ini mempunyai negara, yang ada hukumnya, ada peraturannya, dan mempunyai susunannya yang tertentu. Dalam hal ini kita boleh bertanya: cukup dalamkah keinsafan bernegara itu dalam jiwa rakyat seluruhnya dan juga dalam kalbu berbagai pemimpin? Berbagai-bagai tindakan yang merugikan negara di mata asing, memberi keyakinan kepada kita, bahwa keinsafan itu belum merata dan belum cukup mendalam. (Lihat Karya Lengkap Bung Hatta, Pada bab 17 Agustus 1947, Halaman: 72-73).

Keinsafan yang ketiga ialah keinsafan berpemerintah. Kita harus mempunyai pengertian, bahwa pemerintah negara kita itu adalah pemerintah kita sendiri, yang patut kita hormati. Negara yang tak punya pemerintah bukanlah negara lagi di mata dunia internasional. Dalam negeri yang berdemokrasi, pimpinan pemerintah itu boleh di kritik. Tetapi cara mengkritik itu harus terbatas dalam garis kesopanan. Juga dalam melakukan kritik itu kita harus insaf akan tanggung jawab kita sendiri. (Lihat Karya Lengkap Bung Hatta, Hal: 73).

Dengan demikian, Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk ciptaan Allah SWT, seperti jin dan malaikat. Dikatakan makhluk yang sempurna karena manusia di karunia oleh Allah SWT berupa akal dan nafsu. Manusia tidak akan susah hidup tanpa ada orang di sekitar yang membantu ketika mengalami musibah. Berbicara mengenai manusia sebagai makhluk sosial. Manusia di ciptakan dengan berbagai macam agama, suku, ras dan kepercayaan. Maka manusia harus mampu hidup harmonis dengan segala perbedaan dan keberagaman. Sang proklamator RI dan Wakil Presiden pertama yaitu Bung Hatta mengenai kesadaran atau keinsafan nasional dalam hidup bermasyarakat dan bernegara.

Pertama, keinsafan nasional, yaitu keyakinan bahwa kita adalah satu bangsa, bangsa yang merdeka, dan mempunyai kewajiban untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air kita dengan segala jiwa dan raga.

Keinsafan yang kedua ialah keinsafan bernegara, yaitu pengertian bahwa kita ini mempunyai negara, yang ada hukumnya, ada peraturannya, dan mempunyai susunannya yang tertentu.

Keinsafan yang ketiga ialah keinsafan berpemerintah. Kita harus mempunyai pengertian, bahwa pemerintah negara kita itu adalah pemerintah kita sendiri, yang patut kita hormati.

Cita-cita Negara Kesatuan Republik Indonesia harus di perjuangkan. Marilah kita mulai sekarang bersatu padu, bahu membahu, gotong royong untuk mempertinggi harkat dan martabat negara Indonesia dengan negara-negara tetangga. Sekali Merdeka, tetap Merdeka!.

.

.

*Penulis adalah Fitratul Akbar, Mahasiswa Program Studi, Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Al-Zahrawi Kedokteran

Gerakan IMM, Membangun Bangsa dengan Kesehatan

Investasi sering dikenal dengan istilah penanaman modal, yang mana dalam jangka panjang diharapkan dapat memberikan keuntungan di masa mendatang. Peningkatan investasi diyakini memiliki kontribusi  sebagai pengungkit terhadap  bergeraknya pembangunan  ekonomi suatu bangsa. Sebagian ahli ekonomi memandang pembentukan investasi merupakan faktor penting yang memainkan peran strategis  terhadap pembangunan ekonomi suatu negara.

Pembangunan ekonomi suatu negara tentu erat kaitannya dengan tujuan negara. Sudah tentu, negara didirikan, dipertahankan, dan dikembangkan untuk kepentingan seluruh warga negaranya, terutama untuk menjamin dan memajukan kesejahteraannya.

Di negara maju seperti Canada, dalam menilai kesejahteraan warga negaranya menggunakan beberapa indikator yang mana tidak hanya berfokus pada indikator ekonomi saja seperti peningkatan perkapita yang menunjukkan pendapatan yang tinggi warga negaranya, tetapi juga memperhatikan indikator lainnya seperti halnya kesehatan; usia harapan hidup, status kesehatan, dan tingkat kematian bayi.

Tentu sudah sepantasnya negara berkembang mencatat betul poin yang menjadi kunci kesuksesan negara maju. Bahwa penting untuk memperhatikan indikator kesehatan juga dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sebab hal ini sangat mempengaruhi kuantitas serta terutamanya kualitas dari sumber daya manusianya.

Korelasi keduanya adalah dengan pembiasaan pola hidup sehat dalam masyarakat guna mencegah pelbagai masalah kesehatan yang berisiko dialami oleh masyarakat yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan yang mana dapat pula meningkatkan produktivitas seseorang.  Dengan begitu, ketika produktivitas seseorang meningkat, maka produktivitas negara juga akan meningkat, dan pendapatan negara akan melaju pada grafik peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Mengingat sepintas negara maju tetangga, Singapura, Korea, dan Jepang merupakan negara maju yang telah dikenal seantero, tetapi jika dibandingkan dengan Indonesia, sumber daya alamnya tidak semelimpah ruah di Indonesia. Namun hal ini tidak dapat membantu Indonesia untuk menjadi negara maju selagi kualitas dari sumber daya manusianya dirasa masih kurang. Seperti yang telah dikatakan oleh Bapak Sutrisno Bachir ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) bahwa yang harus diprioritaskan dalam membangun ekonomi Indonesia adalah sumber daya manusianya, karena dibuang sayang jika sumber daya alam yang menjadi kekayaan negara kita tidak dapat dimanfaatkan dengan baik oleh karena sumber daya manusianya yang kurang mumpuni.

Salah satu bukti nyatanya adalah masih tingginya angka gizi buruk dan kasus stunting di Indonesia merujuk pada hasil riskesdas 2018, yakni angka gizi buruk dan gizi kurang pada 17,7% dan angka stunting (kerdil) pada 30,8%, yang masih berada di bawah standar yang ditetapkan World Heatlh Organization (WHO) yakni di bawah 10%.

Mengapa gizi dan stunting menjadi hal yang sangat disoroti dalam hal ini? Karena gizi merupakan indikator terpenting seseorang dikatakan sehat dan stunting merupakan salah satu bukti kegagalan dari kualitas gizi seseorang. Menurut Kemenkes, sudah seharusnya bangsa ini menuju masa depan yang cerah dengan sumber daya manusia yang dimiliki. Dengan mewujudkan manusia Indonesia prima, dapat membentuk warga yang sehat, cerdas, dan produktif.

Warga yang sehat ditunjukkan oleh daya tahan tubuh yang kuat, tidak mudah sakit, berumur panjang, dan mampu bergaul di masyarakat sesuai norma sosial yang dianut. Cerdas ditunjukkan oleh kemampuan menyerap ilmu pengetahuan dengan baik dan menerapkannya untuk keperluan diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Sedangkan produktif adalah kemampuan bekerja dengan baik untuk menghasilkan barang dan atau jasa yang bernilai ekonomis guna mencukupi kebutuhan hidup baik untuk diri sendiri maupun keluarga.

Oleh karena itu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah terutama di Malang Raya dalam hal ini mencermati betul bahwa penting untuk mengubah paradigma masyarakat selama ini, bahwa investasi hanya berupa hal yang berhubungan dengan pendapatan dan infrastruktur negara saja, tetapi investasi kesehatan juga hal yang penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Melebur bersama masyarakat bukanlah hal yang mudah, membutuhkan pendekatan yang baik dan tepat. Melalui bina desa diharapkan dapat menjadi langkah yang paling strategis dalam implementasi investasi kesehatan, dengan mengupayakan beberapa hal, seperti : memberikan fasilitas kesehatan seperti adanya cek kesehatan gratis tiap bulannya, membentuk kader kesehatan, sosialisasi kesehatan dalam sikap preventif terhadap penyakit, mengajak warga kerja bakti untuk memberantas sumber penyakit, dan lain sebagainya.

Melalui bina desa juga mampu menyatukan antara mahasiswa dengan masyarakat. Sehingga diharapkan terjadi interaksi sosial guna lebih mengasah kepekaan dan kritis mahasiswa terhadap lingkungannya. Dengan ini juga mampu meringankan beban pemerintah dan membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara tidak langsung.

 

.

.

Oleh: Ryzka Faradiana
Kader IMM Komisariat Al-Zahrawi (FK UMM)

 

IMM adalah Komitmen

Ikatanku adalah Komitmenku

Saat ini aku memilih langkah
untuk berada dalam satu naungan
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Ikatan yang mengajarkan kita akan kehidupan nyata yang sebenarnya terjadi.
Ikatan yang membuka mata kita akan kondisi bangsa.

Bangunlah, kawan.
Jangan kau menutup telinga dan memejamkan mata akan kondisi yang terjadi.
Jangan hanya bisa meratapi nasib ketidakadilan ini.

Ikatan tak hanya butuh kata-kata.
Tapi ikatan juga butuh bukti nyata.

Dan kita sudah mengambil sebuah pilihan
untuk menjadi bagian dari ikatan.
Menjadi kader yang bisa memegang komitmen yang telah dipilih.

Maka buktikan bahwa kau tak bermain-main
dengan komitmenmu itu kawan.
Dan jangan kau bawa ikatan ini
ke tengah lautan lalu kau tenggelamkan begitu saja.

Ikatan ini tak butuh kader yang hanya bermain-main di dalamnya.
Karena proses tak sebercanda itu dan tak semudah itu kawan.

Maka dari itu mari kita bersatu dalam semangat jiwa
Bergema di jagat nusantara untuk mencari kebenaran yang gemilang.

Untuk bangkit dan berjuang.
Dan untuk sukses yang tak terbayang.

.

.

Oleh: Rafiatul Husna

Kader IMM Komisariat Aufklarung Teknik-UMM

images (6).jpeg

Ma, di Perguruan Tinggi Nanti, Aku Ingin Tinggal di Asrama

Rusunawa,
Rumah susun sederhana, dihuni para mahasiswa

Tak pernah kubayangkan, satu atap dengan orang yang berbeda
Tak pernah terpikir, tak terduga datang secara tiba-tiba

Kini bukan lagi alamat yang terlontar,
Melainkan dari mana asal muasal ?
Jombang, blitar, jember , Nganjuk bahkan mancanegarapun juga ada

Kata aku, kamu, kini jadi kita
Hangat, bersemangat meski bukan terikat dari yang paling dekat
Tapi, kasih dan sayang setiap penghuninya

Membuatku memaknai arti “rumah” yang sesungguhnya,
Jauh bukan lagi sambatan, melainkan jauh adalah sebuah pemaknaan

Kubulatkan tekad, kuikhtiarkan niat, rusunawa jadi penjaga hormat
Ku jaga suciku, ku jaga hormatku, dalam atap sederhana yang penuh harap

Harap-harap ibu, bahwa putrinya akan baik-baik saja, misalnya.
Perihal syair lagu, cuci sendiri, masak sendiri, kini aku benar merasakannya.
Sungguh, aku tumbuh dan berkembang disini.

Menjadi pribadi yang harus siap atas segala kondisi.
Bahkan saat keranpun mati.
Atap yang tepat, untuk calon orang-orang bermartabat.

Duhai Ilahi Robbi, sungguh syukur atas segala nikmat.
Maha Besar Allah dengan segala rencananya,

Ma, nyatanya Rusunawa adalah pilihan yang tepat.

.

.

Malang, 7 April 2019

Oleh : Firdaus Faraj Ba-Gharib – Kader IMM Komisariat Fastcho FEB-UMM

Ali Muthohirin

Ali Muthohirin VS Redaksi sangpencerah.id, Perseteruan Buya Hamka dan KH. Farid Ma’ruf Jilid Dua ? 

Tendensi politik di kalangan internal Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) nampaknya bergerak menuju titik puncaknya. Tak heran, di sejumlah wilayah di Indonesia, silih berganti warga Muhammadiyah yang diinisiasi oleh AMM menyatakan keberpihakan dan dukungannya kepada salah satu paslon presiden menggunakan nama organisasi tertentu. Hal ini cukup unik dan membanggakan, karena itu adalah wujud ketaatan kader atas seruan organisasi, baik itu PP Muhammadiyah maupun Ortomnya (organisasi otonom) yang sudah mengeluarkan surat resmi untuk netral pada pemilu kali ini.

Aliansi Pencerah Indonesia (API) dan Rumah Indonesia Berkemajuan (RIB) yang terindikasi sebagai tempat bernaung warga Muhammadiyah dalam berpolitik praktis, cukup aktif menggelar deklarasi pada bulan Maret kemarin.  Bahkan ada satu peristiwa menarik terjadi di Jawa timur. Hanya berselang tiga hari setelah RIB menggelar deklarasi kepada 01 tanggal 27 Maret di Surabaya kemarin, API pun menggelar deklarasi “balasan” tanggal 30 Maret di Sidoarjo.

Kemudian aksi klaim dukungan yang berjalan normal ini menjadi memanas setelah laman sangpencerah.id, situs yang digandrungi anak muda Muhammadiyah secara gamblang menyerang Ali Muthohirin (Ketua Umum DPP IMM 2016-2018 dan Ketua PP Pemuda Muhammadiyah 2018-2020) lewat artikel berjudul “Relawan Capres berkedok PP Pemuda Menyerang Amien Rais” yang ditulis oleh tim redaksi internal sangpencerah.id.

Tak pelak, tindakan ini menimbulkan kontroversi bagi banyak kalangan millenial Muhammadiyah. Apalagi, setelah mas Ali membuat sebuah status di FB pribadinya terkait kejadian ini, dan secara eksplisit menyebut senior beliau Mas Ahmad H. Machsuani sebagai aktor utamanya. Luar biasanya, sampai artikel ini dibuat, jumlah kolom komentar pada status itu mencapai angka 788 dan mendapat 202 Likes!. Sebagai Ketua Umum PC IMM Malang Raya, secara pribadi dipandang perlu untuk memberikan perspektif terkait kejadian ini. Dalam kondisi resah, seorang pemimpin harusnya hadir untuk meng”adress” anggotanya, minimal hadir memberikan pandangan alternatif.

Tuduhan tendensius sangpencerah.id

Kesalahan pertama dari artikel ini adalah memprotes posisi Mas Ali sebagai relawan 01 dan Ketua PP Pemuda bidang Politik dan Hubungan antar Lembaga. Dalam konteks ini, kanda Ali berbuat bijak untuk menggunakan RIB sebagai wadah dirinya untuk menyalurkan aspirasi politiknya dibanding memonopoli PP Pemuda untuk pilihan personal politiknya. Hal ini sebenarnya lazim dan merupakan uswatun hasanah dari para senior di Muhammadiyah, seperti pak Amien yang menggunakan PAN sebagai kendaraan politik, bukan Muhammadiyah. Bagi saya, mas Ali hanya meniru cara ayahanda Amien Rais. Terlebih, sebagai junior pun, saya tidak pernah dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi beliau meskipun jika dipahami, beliau ada “power” untuk hal itu, termasuk dalam deklarasi RIB di Surabaya kemarin.

Maka, masalah ini menjadi semakin runyam jika menyimak judul pada artikel ini. Kata-kata berkedok menjadi salah kaprah, karena dengan tegas mas Ali menunjukkan identitasnya sebagai relawan 01 lewat aksi gokil beliau memakai kaos oblong “Cebong Berkemajuan” yang identik dengan kubu 01. Sebaliknya, mas Ali adalah benar-benar pengurus PP Pemuda yang sah. Jadi baik statusnya sebagai relawan dan bagian dari PP adalah riil bukan “kedok”.

Selanjutnya, perasaan ironi menghampiri jika menilik pada poin utama pada artikel ini, yakni ”conflik of interest” antara pribadi mas Ali Sebagai relawan dan PP Pemuda dan asumsi merendahkan kehormatan, hanya karena mengkritik Ayahanda Amien Rais atas warning-nya pada KPU terkait potensi kecurangan pemilu.

Pertama, di Muhammadiyah, budaya mengkultuskan seseorang itu tak pernah ada. Artinya, kritik seorang anak kepada ayahnya pun dibolehkan, asal substantif dan valid. Kedua, menyayangkan argumentasi ayahanda Amien Rais soal people power bukanlah tanda serangan. Kemana tradisi intelektual Muhammadiyah jika mengaanggap perbedaan adalah serangan, dan lebih parah, kemana status independen yang dijunjung oleh media, jika yang dibela adalah kepentingan parsial.

Karena pada wilayah yang substansi, statement mas Ali berlaku universal, yakni tak dibenarkan seorang pun menggunakan people power dalam memprotes pemilu, karena sudah disediakan lembaga yang bersangkutan untuk menangani kasus terkait. Artinya mas Ali sedang mengkritik ayahandanya karena menganggap statement itu bepotensi menyebabkan konflik horizontal, bukan mengajak memilih 01.

Bahkan, statement itu harusnya teguran kepada petahana. Karena, pengarahan massa untuk menekan isu tertentu lebih potensial dilakukan jika seandainya menderita kekalahan. Kubu petahana punya semua alat untuk mengarahkan massa yang besar. Oleh karena itu, paradigma yang dibangun oleh tim redaksi sangat sempit jika menganggap kritik tersebut bagian dari menggunakan persyarikatan untuk politik praktis dan arahan dukungan pada 01. Justru, artikel yang mem-framing mas Ali sebagai relawan 01 bukan sebagai kader lebioh condong pada tesis tersebut.

Terlebih, lagi-lagi dalam hal ini, saya merasa mas Ali meniru Pak Amien.

Beberapa waktu yang lalu, pak Amien pernah mengeluarkan pendapat yang kontroversial ketika “mengancam akan menjewer Pak Haedar Nashir jika tak kunjung menentukan sikap organisasi dalam momen pemilu”. Tak ada yang salah, karena pak Amien mengkritik sikap pak Haedar yang dianggapnya “abu-abu” bukan memaksa untuk memilih 02.

Pelajaran dari Buya Hamka dan K.H. Farid Ma’ruf.

Perbedaan pilihan di internal Muhamamadiyah sejatinya adalah resiko logis akibat organisasi yang memilih untuk netral. Pun hal itu pernah terjadi di kalangan tokoh-tokoh kita. Saya teringat tulisan Pak Nurcholis Huda, wakil Ketua PWM jawa Timur yang  pernah menceritakan peristiwa yang amat menarik mengenai Tanwir Muhammadiyah di dekade 60’an. Pada saat itu, terjaid kehebohan ketika Presiden Soekarno mengangkat orang Muhammadiyah, Pak Mulyadi Joyomartono sebagai menteri sosialnya. Padahal, hubungan Muhammadiyah dan istana sedang memburuk akibat keputusan presiden yang membubarkan Masyumi.

Sebagian kelompok yang setuju dengan pengangkatan itu, berpendapat bahwa Muhamamdiyah masih tetap perlu menasihati Soekarno dari dalam, agar tidak terjebak terlalu dalam oleh bisikan-bisikan lain, tokohny adalah KH. Farid Ma’ruf. Yang tidak setuju, menganggap itu adalah bukti bahwa Muhammadiyah bertekuk lutut dengan Soekarno, diwakili oleh Buya Hamka.

Ketegangan inilah yang kemudian hari melahirkan rumusan Kepribadian Muhammadiyah oleh Fakih Usman yang amat gelisah melihat ketidakharmonisan ini. Lucunya, puncak ketegangan kondisi itu mirip dengan kondisi hari ini, dimana silang pendapat mencapai kulminasinya ketika Buya Hamka memutuskan untuk menulis artikel “Maka Pecahlah Muhammadiyah” di harian Abadi. Pak Nurcolish Huda menggambarkan, sidang Tanwir yang pada saat itu akan memberikan kesempatan bernarasi pada kedua pihak, sangat ditunggu oleh anak muda Muhammadiyah layaknya pertarungan tinju antara “Muhammad Ali vs Joe Frazier”.

Kelak kita tahu bahwa adu argumen itu berakhir dengan tangisan air mata karena baik Buya dan pak Kiai mengaku salah dan mengaku semua tindakan mereka didasari niat baik dan tulus ikhlas karena kecintaan terhadap Muhammadiyah. Poinnya, jika mengutip Immanuel Kant, progressifitas Muhammadiyah salah satunya ditentukan oleh budaya sapere aude oleh anak muda-nya dan sikap lapang dada oleh angkatan tua-nya.

Saya pribadi mengharapkan mas Ali dan tim redaksi kali ini meniru Buya dan Pak Kiai. Menutup konflik ini dengan finish yang cantik, lewat artikel tandingan berjudul “Muhammadiyah Tidak Pecah !” yang ditulis Buya setelah perdamaiannya dengan Pak Kiai.

Terakhir, tulisan ini dibuat bukan untuk membela mas Ali atau Jokowi, tapi membela kebebasan berpendapat serta merindukan @sangpencerah.id kembali ke khittahnya yang independen.

IMM

Sajak Tawa Tangisku di Seberang

Harap kita , generasi cerdas dan mencerdaskan
Mimpi kita , pemberian berarti untuk bangsa
Muda , Merah bergelimang idealisme usang
Hahaha

Bolehkah aku tertawa ?
Abu muda mengkoyak-koyak sayat demi sayat kita punya kulit
Membara hanguskan mangsa dari rasa sakit
Cemas terusik kantong kering,
Berjalan tegak berkepala miring

Melihat sang pembunuh dan penindas sejati
bertepuk dada mendapati penghormatan tertinggi
Impikan massa pejuang yang tak arang
Tapi srikandi dan dara dara masih dihalang
Pemikiran yang dianggap dewasa tak sesuai bahasa
Seksis otaknya slahkan nafsunya
hahaha

Masih bimbang, gencar Idamkan gelar akademisi
Padahal visi tak elok terbentur dan kalah dengan kondisi
Melainkan tindakan didasari hati masih terbuai ambisi
Masih khayalkan posisi tinggi
Ha ha

Ingin kita, membebaskan jiwa-jiwa
Mendasarkan gerak pada ayat ilahi sejatinya
Tapi enggan” berjibaku masih ada
Siapkan manusia-manusia bertalikan keikhlasan

Tapi.. Masih sering ketenaran dan nama besar berkenalan
Bolehkah aku sela?
Dosakah aku tertawakan raga di depan kaca?
Hahaha

Air mataku jatuh bukan dalam ruang gelap
Melainkan mengalir dalam hati gelap tak berdekap
Sirna
Sebuah isi
Gelas kaca berdasar emas
pantas

Oleh: Muhammad Prasetyo Lanang
Kader IMM Komisariat Aufklarung Teknik-UMM 2016

Angkara

Angkara

Bu, aku hanya berbicara
Berbicara apa adanya
Berkata dengan hati-hati
Lalu saudaraku mati

Bu, aku hanya tertawa
tertawa melihat tangis
tangis primata dengan jas dan kemeja
Tapi aku ditampar api

Bu,aku hanya menangis
Ketika lengking orok ratapi harga pokok

Bu, aku hanya membaca
Membaca tanda-tanda
Tapi kawanku harus pecah kepala

Aku hanya berkata-kata
Aku bertemu dengan amarah
yang sedang rangkai bunga kematian
Dibalik tangan kejinya

Aku hanya mencoba pahami mereka
Baginya tetes nestapa adalah jaya

Bu, kawan kawanku lari
Terbirit hindari cemeti
Ketika aku hanya memberitahu mereka
Hanya menyapa

Aku hanya bersuara
Aku hanya bertanya tanya
Aku hanya duduk disamping mereka
Yang coba lindungi kediaman anak istri

Tapi padanya, tendangan dan pentungan tak terhindar
Di hari esok, tanah moyang tersiram modal
Adik-adik tak lagi punya sendal

Aku hanya bercerita
Tapi aku harus menderita
Tatkala coba berdongeng tentang bara dendam
Dikumandangkan sang asa propaganda

Aku sumpal telinga dengan ganja
Kututup mata dengan debu kereta
Tapi Sawit berduri memanjang dihadapkanku
Disayatkan perlahan dan dinikmatinya setiap kucur darah dan tetes tangisku
Lalu tak lupa  disiramnya air perasan lemon impor dari supermarket

Kubuka mata dan kulihatnya
Kawanku tersita mata pencahariannya
Tak punya lagi pohon kelapa
diantara tanaman beton baru
diatas tanah leluhurku

Bu, aku hanya melanjutkan gumam
Serupa sajak
Tapi ayahku harus pamit, asingkan diri dan tak pulang lagi

Bu, aku hanya bernyanyi
Diatas kerangka langit
Tapi aku diruntuhkan

Bu, aku hanya berbisik
Serupa desis-desis sanca
Tapi aku dipenjarakannya

Bu,aku hanya bernyanyi
Serupa kenari dalam sangkar terbuka
Tapi aku harus korbankan hati

Bu, aku hanya berpuisi..!
Kenapa aku harus mati…!

 

 

Oleh: Muhammad Prasetyo Lanang
3 Maret 2019

 

 

Kemah Riset

SCORE, Teguhkan Tradisi Riset Kader IMM Malang Raya

IMM-MALANG.ORG – Dalam rangka menggali dan meningkatkan potensi riset kader, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya selenggarakan Kemah Riset, Jumat-Ahad (15-17/3) di Omah Budaya Slamet, Batu.

Kegiatan bertemakan “Ragam Orientasi Ide dan Gerakan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama di Malang 2008-2018” ini, merupakan serangkaian dari School of Research (SCORE) yang digagas oleh Bidang Riset Pengembangan Keilmuan (RPK) PC IMM Malang Raya.

Program SCORE ini dimaksudkan untuk pengembangan kultur ilmiah di wilayah Malang Raya. Kemudian secara khusus sebagai instrumen untuk melestarikan tradisi ilmiah di kalangan kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah.

Ketua Bidang RPK PC IMM Malang Raya, Ode Rizki Prabtama menyampaikan, bahwa agenda ini merupakan langkah strategis bagi PC IMM Malang Raya dan para peserta untuk menjadi trendsetter tradisi ilmiah berbasis penelitian.

“Terselenggaranya agenda ini menjadi spirit baru bagi dinamika intelektual IMM Malang Raya. Diperiode sebelumnya bidang RPK sudah mencapai tahap penguatan literasi dan banyak kader menuliskan karyanya di berbagai media. Nah, sekarang kita tingkatkan levelnya pada tingkat riset,” ungkapnya.

Selain itu, Ode mengungkapkan bahwa peserta akan terus didampingi secara masif, agar proposal yang telah dibentuk berlanjut pada tahap pelaksanaan penelitian, baik penelitian lapang maupun kajian pustaka.

Miftahul Khusna salah satu peserta SCORE menyebutkan, bahwa agenda ini semoga dapat membawanya semakin semangat dan percaya diri dalam melakukan riset ke depannya.

“Saya berharap dengan adanya kegiatan ini bisa membuat saya percaya diri dan siap untuk turun ke lapangan. Terlebih saya mahasiswa jurusan Kesejahteraan Sosial yang banyak melakukan riset di masyarakat,” tukasnya. (git)

Sekolah Riset IMM Malang Raya

SCORE Bekali Kader IMM Lakukan Gerakan Transformatif

Dalam rangka mengembangkan tradisi ilmiah kader, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Malang Raya usung program School of Research (SCORE). Agenda dengan rangkaian panjang ini, mulai diselenggarakan Sabtu malam (2/3) di Gazebo Literasi, Malang.

Agenda bertemakan “Kaidah Ilmiah dan Tradisi Riset” ini selain bekali tradisi riset kader, IMM Malang Raya juga ingin mendorong kadernya agar riset menjadi acuan dalam melakukan gerakan.

A.S Rosyid sebagai pembicara berharap, supaya kader-kader IMM menjadi agen intelektual yang sebenarnya, sebagaimana termaktub dalam Tri Kompetensi Dasar (TKD).

“IMM memiliki tri kompetensi dasar yang terdiri dari Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas. Ini adalah identitas organisasi, jangan sampai hanya menjadi klaim. Kader-kader harus mampu menyelaraskan antara klaim dengan realitas atau antara identitas organisasi dengan perilaku ilmiah kadernya,” ungkap Rosyid.

Sementara itu Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Malang Raya, Ode Rizki Prabtama menyampaikan, agenda ini adalah awal untuk mendorong gerakan IMM yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

“SCORE bertujuan untuk membangun tradisi ilmiah kader, dengan bekal tradisi ilmiah ini, tentu akan melahirkan kader yang benar-benar memahami masalah di masyarakat. Dari itu gerakan-gerakannya adalah jawaban akan masalah yang terjadi,” ungkapnya.

FDK Renaissance

Tingkatkan Peran Immawati dalam Organisasi, IMM Gelar Forum Diskusi Keperempuanan

Mendorong kader perempuannya atau biasa dikenal Immawati untuk terlibat aktif di masyarakat, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Pimpinan Komisariat (PK) Renaissance Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM laksanakan Forum Diskusi Keperempuanan (FKD), Jumat-Ahad (22-24/2).

Agenda bertemakan “Memaksimalkan Peran Immawan dan Immawati dalam Organisasi Melalui Wacana Gender dan Keperempuanan” tersebut, dihadiri Uzlifah Majelis Kader Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Malang sebagai Stadium Generale.

Dalam pembukaannya, Uzlifah mengungkapkan, bahwa Immawati harus menjadi eksekutor gagasan. Baginya, perempuan saat ini sudah banyak yang baik dalam berwacana, namun kurang dalam mengeksekusi.

Uzlifah juga berharap, agar FDK dapat menjadi sarana belajar Immawan dan Immawati sebagai mitra yang serasi dalam berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, sosial dan politik. “Kedepan perempuan  harus progresif dan memaksimalkan peluang dalam ranah publik,” ujarnya.

Selain itu, Rio Andhika, Ketua Umum PK IMM Renaissance FISIP UMM berharap agar FDK dapat menjadi sarana saling memahami peran antara Immawan dan Immawati. “FDK bukan hanya diperuntukan Immawati, tapi juga Immawan. Mereka harus paham terkait wacana ini (red. Gender),” jelas Rio.

“Dengan itu, Immawan dan Immawati  dapat memahami yang menjadi hak dan kewajibannya dalam organisasi tanpa ada yang membedakannya,” Jelasnya. (git)