Spirit Perjuangan Rasulullah (Kaderisasi & Pemberdayaan)

Ikatan mahasiswa Muhammadiyah merupakan organisasi otonom dari Muhammadiyah yang menjiwai semangat Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah khususnya di tengah-tengah Mahasiswa. Muhammadiyah sendiri secara bahasa berasal dari kata “Muhammad” yang berarti Nabi Muhammad SAW. dan “Yah” yang berarti Pengikut. Sehingga Muhammadiyah merupakan Pengikut Nabi Muhammad SAW. Lantas apa yang harus diikuti dari jejak Nabi Muhammad Saw itu?

Mungkin mayoritas orang ataupun kader Muhammadiyah sendiri lebih banyak mengikuti ibadah yang hanya bersifat vertikal (hasblumminallah), bisa dilihat dalam kajian maupun bentuk-bentuk ceramah yang dilakukan lebih banyak membahas hal yang bersifat vertikal. Hingga melupakan hal-hal yang bersifat horizontal (hasblumminannas) yang sebenarnya pun menjadi tupoksi Manusia sebagai Khalifah di muka bumi ini.

Meninjau jejak Nabi Muhammad SAW. yang sama-sama kita ketahui bersama dalam aspek sosial beliau di lahirkan dalam keluarga yang berada (sebelum diangkat sebagai Rasul) dan bersedia miskin untuk memanusiakan manusia yang salah satunya membebaskan budak dengan membelinya dari tuan budak.

Perjalanan yang dilakukan secara umum ada 2 tahap yakni sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Diawali dengan sembunyi-sembunyi berupa kaderisasi yang dilakukan dirumah arqam untuk menyebarluaskan Islam, dari kerabat atau sahabat hingga para budak yang dibeli oleh beliau untuk dimerdekakan dan islamkan. Dan dilanjutkan dengan aksi terang-terangan berupa edukasi luas maupun advokasi untuk meruntuhkan sistem perbudakan pada saat itu. Sehingga tercipta masyarakat yang setara posisi sosialnya (masyarakat tanpa klas) dengan menitikberatkan segala peraturan dan kebijakan kepada rakyat sepenuhnya.

Sampai sini terlihat bagaimana perjalanan Rasulullah Muhammad Saw menyebarluaskan Islam sebagai agama yang “Rahmatan Lil Alamin”.

Bagaimana dengan kita? Sudahkan demikian? Dari sekilas pembuka diatas dapat kita titik fokuskan pembahasan terkait aksi sembunyi-sembunyi berupa “Kaderisasi” dan aksi terang-terangan berupa “Pemberdayaan”.

Kaderisasi, kata ini familiar pada khalayak umum, namun sulit memahami secara praksis, mungkin secara teoritis hal ini sudah menjadi pembahasan yang umum. Kesulitannya bukan terjadi pada katanya, namun memang di era milenial ini yang hanya lebih mementingkan teoritis tanpa mampu memahami secara praksis. Bahkan orang-orang yang berada di dalam organisasi kaderisasi, yang mana sudah pasti akan terjadi dan melakukan kaderisasi itu sendiri. Lantas bagaimana bisa melakukan hal yang belum saja kita pahami?

Kaderisasi berasal dari kata kader yang berasal dari bahasa Yunani “cadre” Yang artinya bingkai. Dalam artian luas kader adalah orang yang memiliki perang penting untuk mewujudkan visi misi hingga mampu membingkai gambaran tujuan organisasi. Itulah kenapa di dalam organisasi kaderisasi tidak disebutkan sebagai anggota melainkan kader. Karena meninjau dari makna kader sendiri, artinya keseluruhan kader didalam organisasi wajib ber-fastabiqulkhairat sesuai tujuan organisasi.

Sehingga dapat kita maknai kaderisasi adalah proses (mengader) transformasi ideologis dari yang sudah terideologis kepada yang belum terideologis. Simpelnya dapat kita artikan pendidikan. Mendidik adalah hal mutlak yang harus dilakukan di dalam kaderisasi. Mendidiknya bukan hanya sekedar ala kadarnya melainkan menjadi perbandingan yang sejajar. Artinya semakin terideologis seorang kader akan semakin kencang pula kaderisasi yang dilakukan. Karena mengingat urgensi dari kaderisasi tersebut. Kaderisasi adalah inti dari perjuangan. Hanya dengan kaderisasi, nilai-nilai perjuangan bisa tertransformasikan kepada para kader untuk melanjutkan perjuangan. Dan tanpa kaderisasi perjuangan akan surut dan mati kemudian hari.

Dalam hal ini sudah jelas apa yang harus dilakukan di dalam organisasi kaderisasi. Tidak kemudian yang terideologis hanya bisanya marah-marah sama juniornya ataupun membiarkan begitu saja tanpa memberikan bekal perjuangan yang akan diemban jua. Terlebih hanya belajar untuk diri sendiri, banyak baca buku dan diskusi kepada orang pintar tanpa mendidik penerus tampuk kepemimpinan selanjutnya. Yang pada dasarnya itu adalah perjuangan bersama yang dicita-citakan organisasi.

Terlebih lagi pada organisasi yang notabenenya tujuan jangka panjang. Melakukan gerakan pembebasan dan keberpihakan terhadap kaum mustad afin untuk mewujudkan negeri yang adil, makmur dan diridhai Allah SWT. Begitu radikalnya hal ideal yang dicita-citakan itu adalah hal yang memang bahkan hukumnya wajib bagi setiap manusia yang beriman jika ditinjau landasan yang ada di “buku sakunya” umat Islam yakni Al-Qur’an.

Seharusnya dengan tujuan yang begitu ideal itu membuat para kader pejuang semangat berapi-api. Tetapi  jelas membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Jangka panjang dengan modal konsisten dan kontinyu senantiasa melihat perkembangan serta kemenangan kecil untuk mencicil hingga mampu menembus kemenangan besar kemudian.

“Semakin tinggi kualitas kader (terideologis) maka semakin kencang pula kaderisasi yang dilakukan demi tujuan bersama”.

Apapun yang kita miliki ilmu pengetahuan atau apalah segala yang ada disampaikan kepada semua orang agar dapat menjadi hal yang bermanfaat dan mampu membimbing praktiknya. Menyampaikan bukan berarti sekedar kultum maupun khotbah di atas mimbar. Melainkan bisa dengan beragam cara yang diantaranya dengan lisan, tulisan, gerakan dan sebagainya yang substansinya menyampaikan pesan atau hal yang bermanfaat atau dalam ayat yang familiar kita dengar yakni “Amar ma’ruf nahi mungkar”.

“Dan setidaknya ada segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar dan mereka lah orang-orang yang beruntung” QS Ali Imran :104
Berteori dan berpraktik hanya untuk diri sendiri terlebih hanya berteori dengan dirinya sendiri merupakan pekerjaan yang sia-sia. Karena sudah keluar dari esensi tujuan manusia diciptakan yakni ibadah. Diperkuat dengan landasan ayat diatas dimana ibadah bukan sekedar ritual spritual melainkan seimbang antara hubungan vertikal dan horizontal (hablumminallah dan hamblumminannas).
Manusia diciptakan untuk beribadah dan ilmu di ciptakan untuk diamalkan.

Gerakan pembebasan dan keberpihakan kaum mustad afin memanglaah garis politik yang benar-benar ideal dalam halnya melakukan perubahan sosial.

Berawal dari tafsiran mustad afin sendiri adalah manusia yang lemah dan dilemahkan secara ekonomi politik. Lemah disini berarti lawan dari kuat atau mampu yang menunjukkan suatu kondisi kemampuan atau dalam bahasa yang lain disebut ”Daya”. Dalam hal ini lemah dikatakan tidak berdaya, maka haruslah ada proses tindakan untuk merubah dari tidak berdaya tersebut menjadi berdaya sebagai bentuk pembebasan dan keberpihakan nya. Proses itu disebut “Pemberdayaan”.

Substansinya proses melakukan perubahan dari yang tidak berdaya menjadi berdaya. Berdaya dan tidak berdaya disini memang lah dapat dikategorikan atau memiliki batasannya masing-masing sesuai konteks pembahasan. Seperti pendidikan, kesenian, fisik dan lain sebagainya.

Namun dalam konteks pembahasan disini yang bertemakan pembebasan dan keberpihakan kepada kaum Mustad Afin, yang telah kita bedah bersama melalui landasan normatif yang ada yang berarti kaum yang lemah dan dilemahkan secara ekonomi dan politik. Yang kemudian akan dilakukan proses berupa aktivitas yang kita sebut pemberdayaan tadi yakni proses merubah  dari tidak berdaya menjadi berdaya secara ekonomi politik.

Ini merupakan satu-satunya cara untuk mewujudkan perubahan sosial menuju berdaya secara bersama menuju kesetaraan posisi sosial (strata) yang menyeluruh. Kondisi dimana tidak adanya perbedaan klas-klas sosial yang memungkinkan terjadinya kondisi menguntungkan satu pihak dan merugikan lain pihak. Hanya dengan terciptanya masyarakat tanpa klas, konsep kesetaraan itu benar-benar ada.

Sebaliknya selama masih ada klas yang bertentangan secara ekonomi politik niscaya penindasan dan penghisapan pun masih berlaku. Dan kesetaraan hanya menjadi omong kosong.

Dalam konteks hari ini masih banyak kesalahan penafsiran mengenai pemberdayaan itu sendiri. Dimana yang dipahami hanya bersifat “Given” atau “Karitatif” yakni sekedar memberikan kebutuhan pokok yang itu pun tidak berumur panjang. Sekedar memberikan makan atau sembako yang atas dasar ekonomi lemah sedangkan sama sekali tidak menjawab ketertindasannya bertahun-tahun.

Sedangkan Pemberdayaan yang sebenarnya sesuai dimaksud diatas yakni merubah kondisi yang tidak berdaya menjadi berdaya secara ekonomi politik. Dengan begitu gerakan pembebasan yang dimaksud yakni membebaskan dari jerat penindasan/penghisapan dan memerdekakan hak-haknya.

Bantuan yang berupa “Given” memang bagian dari pemberdayaan masyarakat namun masih dalam tahap yang paling rendah atau tingkatan pertama disebut “Karitatif”. Sedangkan masih ada tingkatan berikutnya yang lebih tinggi yaitu “kapasitas” yakni berbicara memandirikan mereka secara ekonomi dan yang tertinggi “Otoritas” yakni memerdekakan secara politik. Dengan begitu pemberdayaan untuk memberdayakan kaum yang tidak berdaya menjadi berdaya secara ekonomi politik niscaya terselesaikan.

Tidak lupa pula pada prinsip pemberdayaan yang harus kita pegang teguh dalam setiap aktivitas pemberdayaan, yang juga telah dibahas  panjang lebar diatas yakni diantaranya penyadaran, pendidikan, pengorganisasian, konsisten dan kontinyu. Hingga sampai pada posisi sosial yang sederajat maka terwujud lah “Baldatun Thayyibatun Wa Rabbul Ghaffur”.

Penjelasan diatas merupakan makna luas dari Kaderisasi dan Pemberdayaan, yang mana telah dilakukan oleh Rasulullah Muhammad Saw sebelumnya. Melakukan Kaderisasi sebagai tahapan dakwah sembunyi-sembunyi dan Pemberdayaan baik edukasi maupun advokasi sebagai tahapan dakwah terang-terangan. Dengan demikian sempurnalah gerakan sebagai pengikut Rasulullah Muhammad Saw dengan mengikuti segala ibadah yang beliau lakukan dari yang hubungan vertikal hingga horizontal. Karena sejatinya Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah.

Tuhan memang menciptakan setan dan iblis untuk menggoda manusia kejalan kemungkaran dan menjadi lawan dari manusia. Lantas bagaimana ketika manusia bertindak selayaknya setan? seperti pemimpin yang dzolim? Disinilah ujian atas keimanan manusia untuk tetap konsisten dan kontinyu dalam Amar Makruf Nahi Munkar.



Diary 3 January 2019

Oleh : Immawan Habibi Cupalo
Kader IMM Aufklarung 2015

Share This Post

Leave a Reply