Senja

Ku melangkah tanpa arah dan tujuan, berjalan ditemani sepasang alas kaki yang hampir putus, dengan tenang memikirkan berbagai masalah-masalah tak kunjung usai. Saat itu, banyak segerombolan insan sedang asyik bercengkrama, ataupun makan sembari memandang kicauan burung dan suasana yang amat syahdu.

Kakiku melangkah pada koridor dengan nuansa yang begitu hampa, tanpa kudapati satupun insan. Entah kenapa, waktu itu tak seperti hari biasanya, dengan sampah beterbangan dimana-mana, kursi tak tertata, jendela terbuka, ataupun sapu yang tergeletak di lantai.

Mataku tertuju pada kursi panjang dengan pandangan lurus ke arah langit dan suasana sekitar. Ku duduk dengan santai, secara tidak langsung selarik kertas menghampiriku yang terbawa angin kencang pada saat itu.

Kertas dengan coretan-coretan tanpa pengenal, hanya saja ku tertarik pada kata ”Sendiri untuk memikirkan masalah dan menenangkan hati yang sedang goyah ataupun gunda.” Seketika itu ku mulai berfikir untuk menenangkan hati yang tak terkendali.

Bermuhasabah atas segala gerak, memberi solusi atas kegundahan yang tak kunjung usai. Mencoba merenung dalam syahduku. Saat itu langit begitu cerah, nampak bangunan rumah saling berdekatan, nan kicauan burung pun beterbangan di mana-mana. Beberapa menit kemudian, matahari mulai tenggelam pada peradabannya.

Begitu kagum atas cipta-Nya, Yah, senja. Dengan senja ada bisik syukur tanpa jeda, dalam senja ketentraman jiwa bersenandung lirih, dalam senja ketenangan hati memanggil, terasa, saat sesuatu kita tunggu datang di saat yang paling tepat. Senja mengajarkanku bahwa sesuatu yang indah hanya sesaat, melihat senja itu mewaktu, sebait senja membawakan pesan  keagungan pencipta-Nya, menjalani taqdir, melangitkan dzikir pada sang kuasa.

Tempat ini tempat sederhana, tapi sangat bermakna bagiku. Entah kenapa, mungkin karna di sini tempat tuk sendiri, sendiri dalam muhasabah diri. Berfikir dan memperbaiki apa yang terjadi hari kemarin tuk lebih baik di hari esok. Yah, bangku pojokan depan kelas semasa SMA.

Panggilan Rabb berkumandang, lantunan adzan semarak di masjid-masjid sekitar, tak terasa begitu cepat berlalu. Segera ku kembali pada aktivitas yang harus ku jalani. Air wudhu membasahiku, sholat maghrib terlaksana, sebait do’a ku panjatkan pada sang pemilik arsy. Ketenangan hatipun ku rasakan.

.

.

Oleh: Immawati Iqlima Fissilmi Kaffah
Kader IMM Fastcho 2018

Share This Post

Leave a Reply