Pendidikan Profetik, Menjawab Problem Manusia Modern

“Tetapi ternyata di dunia modern ini, manusia tak dapat melepaskan diri dari jenis belenggu lain, yaitu penyembahan kepada dirinya sendiri,” (Kuntowijoyo, 2008 : 262). Demikian kata Kuntowijoyo dalam buku paradigma Islam.

Modernitas dihadirkan dalam rangka menjawab kemandegan berpikir manusia pra-renaissance, tetapi pada kenyataannya modernisasi menghadirkan persoalan-persoalan baru. Bilamana dahulu manusia terpenjara dalam kehendak alam, maka pasca renaissance manusia menghadapi persoalan baru : pemenjaraan oleh dirinya sendiri.

Penulis sering menyatakan “arogansi manusia membunuh Tuhan telah menghadirkan persoalan baru : manusia membunuh dirinya sendiri”. Dan kini nestapa manusia modern telah terpenjara dalam proses materialisme, positivisme, sekularisme dan hedonisme. Perlahan-lahan manusia mengalamai dehumanisasi. Efek besar yang dihadirkan modernitas dalam dunia pendidikan ialah bahwa kini lembaga pendidikan diseret dalam wilayah corporate institution, perusahaan bisnis.

Perlahan-lahan institusi pendidikan ikut dalam pasar internasional sebagai konsekuensi globalisasi. Tak heran output institusi pendidikan telah menghadirkan manusia yang materialis dan hedonis, melupakan nilai moral dan nilai kemanusiaan itu sendiri.

Dalam nestapa demikian inilah, sebagai lembaga pendidikan, kini sekolah harus mampu menjawab tantangan-tantangan yang dihadirkan oleh modernitas. Sekolah tak boleh ikut arus begitu saja tanpa telaah dan pertimbangan, sebaliknya sekolah harus mampu menciptakan karakter manusia yang bermoral, kritis, empati dan mampu mengadakan transformasi sosial sesuai dengan semangat kenabian.

Dewasa ini penulis merasa gelisah dengan gagap dan gagalnya institusi pendidikan (khususnya institusi pendidikan Islam) dalam membentuk manusia ideal. Penekanan pada ajaran-ajaran tekstual telah menyebabkan lembaga pendidikan tak mampu menciptakan produk manusia yang cekatan merubah keadaan sosial sekitarnya. Sebaliknya, sekolah hanya mampu mencipta manusia yang kaku dan“membebek” dengan arus zaman tanpa telaah dan pertimbangan.

Sebagai sebuah paradigma pendidikan, dalam upaya mengimbangi konsekuensi modernitas konsep profetik menurut penulis dapat menjadi senjata dalam membentuk produk manusia yang unggul dan islami, yakni upaya untuk membentuk manusia yang dapat menafsirkan realitas sosial untuk selanjutnya dapat mengadakan transformasi sesuai dengan ajaran kenabian.

Sebab demikian itulah, maka sekolah tidak hanya dituntut membangkitkan kesadaran untuk pandai secara individu, tetapi jua mesti hadir untuk membangkitkan kesadaran sosial manusia (peserta didik). Apa yang dapat dilakukan?, dalam praksis pendidikan para guru dapat merumuskan metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan nilai etik dan profetik.

Metode dan media yang kami maksud adalah metode dan media yang dapat memberikan refleksi realitas sosial, membangkitkan nalar kritis untuk selanjutnya menghantarkan siswa untuk menjadi pelaku perubahan sosial.

Selain itu, upaya yang juga dapat dilakukan oleh sekolah adalah mengadakan program-program sekolah yang dapat mendukung cita-cita penanaman nilai profetik pada diri siswa. Program yang kami maksud misalnya adalah menghadirkan program pengabdian pada masyarakat, program ini tentu dapat membantu siswa dalam menelaah realitas sosial sehingga tidak hanya pandai secara individual saja, tetapi juga cekatan dalam menelaah dan melakukan perubahan sosial disekitarnya.

Problem manusia modern adalah sikap individualistik dan hedonis, sehingga keberadaan program semacam pengabdian pada masyarakat akan sangat membantu pembangunan kesadaran sosial sesuai dengan cita etik dan profetik. Sudah saatnya para pemerhati pendidikan menitikberatkan perhatiannya pada kajian pendidikan sosial profetik. Bagi penulis, kemampua untuk mengkaji dan mengimplementasikan pendidikan profetik adalah upaya untuk merumuskan solusi problem manusia modern.

.

.

Oleh : Akmal Akhsan Tahir
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM AR. Fakhruddin

Share This Post

Leave a Reply