Mendesain Pergerakan IMM dengan Filsafat Imanuel Kant

Akar dari proses paham filsafat Kant adalah paham kritisisme. Kritisisme adalah paham filsafat yang digunakan Kant untuk memulai proses berpikir, bukan langsung membahas objek yang akan dibicarakan, melainkan dengan memulai meneliti syarat-syarat kemungkinan dari sesuatu yang akan dibicarakan.

Kant memiliki banyak karya dari hasil pemikirannya, salah satunya adalah ‘Kritik Atas Rasio Murni’. Dalam pemikirannya, mengapa rasio murni perlu dikritik? Agar kita tau batas-batas, agar kita tau kemampuan rasio murni kita dalam memperoleh pengetahuan dan agar kita tau bahwa rasio murni mampu memiliki pengetahuan mengenai hal-hal yang di luar pengalaman indrawi.

Proses berfilsafat Kant dimulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana, misal Apa yang aku tau? Apa yang harus aku lakukan? Apa yang mungkin bisa aku harapkan?. Dari pertanyaan sederhana tersebut, Kant memulai proses berfilsafat dan menghasilkan karya-karya yang besar.

Lantas kita sebagai kader IMM, bagaimana cara mengimplemntasikan filsafat Imanuel Kant untuk desain sebuah pergerakan?

Apa yang aku tau?

Pertama kita karus menyadari tentang diri kita bahwa posisi kita sekarang adalah sebagai kader IMM. Ketika kita masih dalam posisi kader baru, kita harus sadar bahwa kita adalah sebagai objek kaderisasi.

Dalam proses perjalananya, kita harus tau bahwa kita adalah seorang individu yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan tampuk kepemimpinan sekaligus meneruskan visi misi sebuah organisasi. Ketika posisi kita berada dalam struktural atau sebagai pimpinan, kita harus menyadari bahwa kita adalah sebagai subjek kaderisasi.

Sebagai subjek atau pelaku kaderisasi, seorang pimpinan harus tau tentang tugas-tugas pokok yang harus dilakukan. Selain itu, seorang pimpinan harus tau tentang bagaimana cara menjalankan kaderisasi yang sesuai dengan landasan yang digunakan.

Apa yang harus aku lakukan?

Setelah kita kita tau dan menyadari posisi kita dalam ber-IMM, kita harus tau apa yang seharusnya menjadi kewajiban atau apa yang harus kita lakukan. Dalam dinamika berorganisasi, biasanya sering kali seorang kader baru belum tau tentang apa yang harus dilakukan.

Tidak heran jika dalam proses perjalanannya kadang kala mengalami pasang surut maupun stagnan dalam sebuah pergerakan. Maka dari itu, kesadaran maupun tujuan berorganisasi harus ditanamkan sejak awal untuk dapat mengetahui lebih jauh tentang apa yang harus dilakukan.

Selain itu, seorang kader baru harus mempunyai inisiatif-aktif dalam setiap kegiatan perkaderan berlangsung, seorang kader baru juga harus haus akan ilmu pengetahun guna menumbuhkan semangat belajar yang tinggi dalam mengikuti proses kaderisasi.

Sebagai seorang pimpinan yang bertanggungjawab penuh atas perjalanan sebuah kaderisasi, pimpinan harus bijak dalam setiap mengambil keputusan yang akan dilakukan. Seorang pimpinan juga harus matang secara ideologi, karena posisinya tidak lagi sebagai objek tetapi sebagai subjek yang akan mentransformasikan nilai-nilai ikatan kepada seorang kader baru yang nantinya sebagai penerus estafet perjuangan.

Di era sekarang tentu saja berbeda dengan era awal berdirinya IMM. Maka dari itu, seorang pimpinan dituntun untuk selalu kreatif dalam mendesain sebuah organisasi, seorang pimpinan juga harus mampu menciptakan spektrum perkaderan yang mencerahkan sesuai dengan tantangan zaman.

Komitmen serta kompetensi pimpinan tentu saja harus selalu dirawat dan dikembangkan dengan upaya yang disertai tanggung jawab. Itulah bagian terpenting sekaligus fundamental dalam mengintensifkan gerakan yang mencerahkan menuju perkaderan yang dinamis.

Apa yang mungkin bisa aku harapkan?

Pada dasarnya setiap perjalanan manusia tak pernah lepas akan sebuah harapan, tidak hanya itu, harapan juga menjadi pembeda antara manusia dan hewan dalam menjalani kehidupan. Perspektif makna harapan dalam ber-IMM, bukan berarti kita sebagai kader IMM menaruh sepenuhnya sebuah harapan sebagai kelangsungan hidup secara individual.

Lebih luas lagi, sebuah harapan yang kita tanamkan dalam ber-IMM adalah tentang bagaimana cara kita berjuang dalam ikatan untuk mewujudkan tujuan IMM itu sendiri. Untuk mewujudkan tujuan IMM tentu saja kita tidak bisa jika berjuang sendiri, melainkan melalui semangat kerja sama secara kolektif kolegial dan saling bahu-membahu dalam prosesnya. Mungkin itu saja yang bisa kita harapkan dalam ber-IMM, untuk selebihnya adalah bonus dalam sebuah perjuangan.

Besar harapan saya sebagai penulis kepada pembaca untuk tetap semangat dalam ber-IMM, jangan ragu-ragu untuk melangkahkan kaki dalam berjuang di IMM. Karena berjuang di IMM itu berat, maka dari itu marilah kita berjuang bersama-sama.

.

.

Oleh : Immawan Wahyu Hendra
Kader IMM Raushan Fikr FKIP – UMM 2017

Share This Post

Leave a Reply