Manusia dan Kebebasan Berpendapat

Manusia itu sejenis hewan juga, tetapi dilebihkan dia dengan akal. Kepada akal itulah bersandar segala perkara yang wajib dia lakukan atau wajib dia tinggalkan.

Adapun hewan jenis yang lain, yang dirasainya hanyalah semata-mata kelezatan perasaan kasar. Dikejarnya kelezatan itu dengan tidak menimbang dan menukar lebih dahulu. Sedang bagi manusia, akal itulah yang menjadi penjaganya dan yang menguasainya. Meskipun suatu perkara di pandangnya lezat untuk badannya belum tentu dia mau mengerjakan itu kalau belum mendapat persetujuan dari akalnya.

Dengan akal itulah manusia dapat memikirkan besarnya nikmat yang diterimanya dari Tuhan, nikmat kemuliaan dan ketinggian yang tiada ternilai, sehingga dia terlepas dari pada kehinaan. Dengan akal itulah jenis manusia dilebihkan dari pada jenis yang lain.

Maka lantaran akal itu berlain pula keinginannya, tujuan hidupnya, pertimbangannya dan perasannya, berlain pula garis yang dilalui masing-masing. Semua buat mencukupkan hidup.(Prof, Buya Hamka, Falsafah Hidup, hal.24).

Artinya bahwa, manusia dilimpahkan oleh Allah swt potensi akal fikiran dan hati nurani untuk menjalankan segala kewajiban agama dan kemanusiaan. Dengan akal fikiran itu, manusia dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, akhlak yang baik, menghargai perbedaan agama, ras, suku, budaya, daerah (toleransi) dan menciptakan masyarakat yang damai, harmonis, dan sejahtera.

Selain itu juga, dengan akal fikiran, manusia dapat memilih dan memilah perbuatan yang benar dan salah, norma baik dan buruk di lingkungan masyarakat. Selanjutnya, dengan akal fikiran manusia dapat merenung, berfikir, berzikir mengenai alam semesta, bermunajat kepada Allah swt dan mengamati fenomena alam maupun aktivitas masyarakat.

Selain itu, manusia dikaruniai akal pikiran dan hati nurani oleh pencipta, dengan itu manusia mampu berefleksi, mengamati dan mampu bertindak atau berakvitas bebas. Kapasitas ini telah ada pada manusia sejak dalam kedaan alamiah, oleh karena itu kita sebut dengan kapasitas asasi manusia.

Dengan dibekali akal pikiran, manusia dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, akhlak yang baik, mengembangkan diri dan mempelajari perbuatan yang baik dan buruk, sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.

Manusia membutuhkan kebebasan agar dapat mengambil keputusan sesuai dengan hati nuraninya dan sekaligus bertanggung jawab dengan keputusannya dan kebebasan berfikir, berpendapat tidak dapat di pisahkan dari norma tanggung jawab. Karena kebebasan atau kemerdekaan tanpa tanggung jawab akan melahirkan anarkis, kekerasan atau tindakan konflik yang dapat merusak tatanan hidup antar masyarakat dan negara.

Manusia dengan kemampuan berfikir dapat membentuk pendapatnya sendiri tentang segala aspek yang menjadi permasalahan di sekitarnya, dalam kebebasan semua manusia mempunyai kedudukan yang sama tanpa membedekan ras, agama, budaya dan daerah dengan tidak saling mezalimi atau menguasai antar individu dengan individu yang lain. (Mochtar Lubis dalam Merphin Panjaitan, Logika Demokrasi Menyonsong Pemilihan Umum 2014, hal. 86).

Manusia bebas terhadap paksaan, ancaman atau teror dari luar dirinya, bebas dengan akal dan hati nuraninya dalam menentukan sebuah keputusan. Individu yang menghargai kebebasan lebih mengutamakan kemampuannya sendiri ketimbang bantuan orang lain.

Kebebasan adalah keterbukaan menerima perbedaan pendapat yang aneh, asing dan ekstrim. Kebebasan harus ada bagi setiap individu dan masyarakat agar antar masyarakat saling mengamalkan ilmu pengetahuan, memberi nasehat, pencerahan dan lain sebagainya. Tentunya, kebebasan akan langgeng di masyarakat kalau setiap individu saling toleransi. Menghargai perbedaan, tenggang rasa, empati, kasih sayang, memperhatikan dan mendengar dengan tulus ketika individu yang lain sedang mengutarakan ide atau gagasannya.

Manusia bebas berkumpul, berpendapat, menganut agama atau kepercayaan sesuai hati nurani asalkan mematuhi norma-norma yang berlaku di masyarakat. Kebebasan adalah hak otonom yang sudah limpahkan oleh Tuhan kepada setiap individu dan masyarakat. Dengan kebebasan individu dapat mencipta, bertindak kreatif, membantu sesama untuk saling mengembangkan bakat, talenta dan potensi diri agar menciptakan kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan sejahtera.

Kebebasan Berpendapat

Kebebasan manusia menurut fitrahnya. manusia dilahirkan merdeka. Dia datang dari dalam perut ibunya tidak meneganal perbedaan. Sebab itu hendaklah dalam hidupnya dia tetap merdeka, tidak diikat oleh belenggu perbudakan dan tawanan. Merdeka menyatakan perasaan, merdeka lenggang dirinya, pulang dan perginya.

Merdeka dalam segala anugerah yang diberikan Allah sejak dia lahir tanpa mengganggu kemerdekaan orang lain atau ketentraman masyarakat ramai. maka tidaklah akan bersih dari dan jernih hidup manusia kalau kemerdekaan itu terbatas atau dibatasi. (Prof, Buya Hamka, Falsafah Hidup hal. 318).

Kewajiban yang paling utama dalam masyarakat ialah menghormati orang lain dalam kehidupannya, kemerdekaannya dan pribadinya, di hormati pula kepercayaan dan hak miliknya. dia pun berlaku demikian pula kepada kita, hak milik, kemerdekaan dan kepercayaan yang kita anut. Menghormati kehidupan manusia itu adalah tujuan yang terutama dari hukum keadilan.

Kita diberi Allah rohani dan jasmani. Dengan rohani dan jasmani kita diberinya hak di dalam dunia, tak seorang pun di anatara sesama manusia berhak mengganggu keidupan yang di anugerahkan Allah. nyawa akan tercerai dari badan, tidak ada yang berhak menceraikan, melainkan yang mmeberi anugerah itu sendiri. (Prof, Buya Hamka Falsafah Hidup, hal. 319).

Menghormati orang dalam menyatakan pikiran dan kepercayaannya, suatu hasil pemikiran setelah matang dipikirkan dan diyakini, merdekalah orang menyatakan kehadapan umum. Kelak orang lain merdeka pula membantah dengan pikiran pula. Tetapi hendaklah orang yang merdeka menyatakan pikiran itu, menjaga beberapa hukum yang tidak keluar dari dari keadilan dan peraturan dan tidak pula mengganggu kemerdekaan orang lain.

Oleh sebab itu maka menghasut orang lain mengerjakan suatu kejahatan, atau membangkitkan umum supaya memberontak dan menjatuhkan pemerintah yang sah, tidaklah merdeka manusia mengerjakannya. Bahkan dia mesti dihukum. Sebab kemerdekaan telah di pergunakannya untuk meruskkan kemerdekaan orang dan membinasakan ketentraman umum.

Tetapi menyatakan pendirian sendiri dalam satu perkara, meskipun pendirian itu berlain dengan yang biasa terpakai tidaklah boleh dihalangi, malahan wajib dihormati. kemerdekaan pikiran yang seperti ini amat besar faedahnya bagi kemajuan masyarakat. Sebab apabila pendapat itu telah dikeluarkan, dapatlah kelak mendapat bandingan dari yang lain, sehingga nyata yang benar dan yang salah. (Buya Hamka, Falsafah Hidup, hal.328).

Dengan demikian, manusia adalah makhluk yang sempurna karena manusia telah di limpahkan oleh Allah swt potensi akal fikiran, hati nurani, dan rasa kemanusiaan. Karena dengan potensi itulah, setiap individu dan masyarakat dapat meningkatkan wawasan keilmuan, akhlak yang baik. Menyampaikan pendapat, ide dan gagasannya untuk mengkritik setiap persoalan yang terjadi di masyarakat. Selain itu juga dapat menciptakan kehidupan yang damai, harmonis, sejahtera sesuai dengan kesadaran akal fikiran, norma, dan akhlak baik pada setiap individu dan masyarakat.

.

.

*Penulis adalah Fitratul Akbar, Mahasiswa Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang.

Share This Post

Leave a Reply