Kaum Muda, Perlu Imbangi Iklim Globalisasi dengan Kearifan Lokal

Melihat realita yang terjadi di era milenial ini, terdapat satu skenario utama yang mesti dipahami oleh para generasi Y dalam menggunakan kemajuan teknologi dengan bijak dan maksimal. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengilhami secara utuh kearifan lokal yang dimiliki oleh bangsa kita Indonesia.

Menjunjung local wisdom yang kita miliki bukan berarti mengabaikan kemajuan dan menjadi tertinggal atau yang sering disebut “tidak update”. Inilah mindset yang harus diubah dari generasi muda supaya dapat lebih bijak menyikapi globalisasi.

Dikatakan oleh Haluty (2014) Berbagai kajian dan fakta menunjukkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki karakter kuat. Nilai-nilai karakter tersebut adalah nilai-nilai yang digali dari khazanah budaya yang selaras dengan karakteristik masyarakat setempat (kearifan lokal) dan bukan “mencontoh” nilai-nilai bangsa lain yang belum tentu sesuai dengan karakteristik dan kepribadian bangsa tersebut.

Penguatan terhadap kearifan lokal sudah semestinya dilakukan bukan saja untuk mempertahankan eksistensi budaya nenek moyang. Lebih dari itu penguatan kearifan lokal dapat dijadikan sebagai pedoman dalam menghadapi pesatnya kemajuan teknologi dalam hal ini sebagai pengokoh etika di era milenial ini. Bukan hanya itu, local wisdom merupakan warisan berharga yang mampu memproteksi generasi muda di era milenial ini dari sisi negatif derasnya arus globalisasi. Tentu saja sifat-sifat yang individualis dan hedonis bukanlah apa yang diajarkan budaya lokal di nusantara melainkan apa yang hendak dijauhi.

Kita ketahui bersama bahwa budaya-budaya lokal di Indonesia mengajarkan tentang sopan santun dan saling menghargai. Sehingga jika generasi Y di hari ini sudah khatam mempelajari budayanya sendiri maka akan menjadi lebih bijak dalam menyikapi kemajuan teknologi yang pesat ini dan pastinya tidak terjebak dalam persoalan etika yang merupakan faktor utama penyabab cyber crime .

Lain halnya dengan para pemuda bangsa ini yang terjebak dunia cyber crime  seperti pembajakan akun-akun publik, pencurian data (cracker), spyware, malware, DDOS, dan sebagainya. Mereka merupakan populasi generasi Y yang premature karena memang belum memiliki bekal berupa budaya lokal yang cukup, sehingga belum siap berkutat dengan iklim global.

Dunia mengenal Indonesia ialah negara yang kaya akan adat dan budaya. Terdapat lebih dari 20 suku dan lebih dari 100 kebudayaan yang ada di Indonesia (Haluty, 2014). Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa merupakan suatu kebanggaan tersendiri menjadi bagian dari Indonesia. Namun yang menjadi tantangan besar di era milenial yang sarat akan globalisasi ini adalah bagaimana mempertahankan serta mewariskan budaya yang telah dirajut dengan sakral oleh para leluhur ke generasi berikutnya.

Untuk menjawab tantangan itu, terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh. Dari pemerintah sendiri telah mengusahakan untuk menuangkan kearifan lokal ini dalam sistem kurikulum yang ada, hanya saja masih mengalami pasang surut hingga hari ini (Ruyadi, 2010). Di luar dari itu, kesadaran dan kontribusi para generasi masa kini yang dibutuhkan untuk menjawab tantangan tersebut.

Di era milenial ini, peran internet menjadi sangat masif di kalangan masyarakat. Dikutip dari www.cnnindonesia.com Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Semuel A. Pangerapan mengungkapkan saat ini pengguna internet di Indonesia telah mencapai 65 persen dari total populasi dengan rata-rata durasi penggunaan mencapai 8 jam 44 menit sehari.

Selain memudahkan dalam mengakses informasi tertentu, tidak dapak dielakan bahwa internet juga memang merupakan keran masuknya budaya asing. Durasi 8 jam 44 menit sehari dengan pengguna internet sebesar 65 persen dari total populasi merupakan angka yang terbilang fantastis. Sehingga mungkin saja jika Indonesia menghasilkan individu-individu yang ahli dalam mengotak-atik komputer dan alhasil merupakan negara kedua terbesar asal cyber crime .

Dalam perkembangannya, internet memberikan berbagai layanan komunikasi dan yang paling sering dikunjungi akhir-akhir ini adalah instagram, twitter, whatsapp dan beberapa lainnya. Dikatakan oleh Hartono (2011), bahwa Singkatnya aplikasi-aplikasi tersebut menyediakan jasa bagi orang-orang untuk bersosialisasi.

Setiap orang dapat dengan mudah berbagi pengalaman ataupun memuat tulisan apa saja di sana. Hal ini mendorong terjadinya pertukaran informasi secara global dengan sangat cepat. Dengan kondisi yang seperti ini, para generasi milenial seharusnya tidak kehilang akal dalam rangka mengembalikan posisi kearifan lokal yang mulai tergeser oleh budaya asing. Tidak cukup sampai di situ, juga dibutuhkan jiwa-jiwa kreatif yang mampu menjawab tantangan zaman ini.

Untuk mempublikasikan kearifan lokal yang dimiliki Indonesia, tidaklah cukup dengan menuangkannya pada halaman-halaman buku bacaan. Akan menjadi solusi brilian jika kearifan lokal ini dipropagandakan dengan cara-cara yang milenial juga yaitu dalam bentuk tulisan-tulisan yang dibagikan melalui media internet baik berupa karya ilmiah, maupun bacaan santai di jejaring sosial.

Oleh: Immawati Lusiana Mayang S.
Kader IMM Fastcho 2018

Share This Post

Leave a Reply