Kabut, Rintik dan Bisikan

Sore itu rintik hujan nan syahdu terus berjatuhan
Membasahi kelompok mata tak henti-hentinya
Membuka mata saja aku tak sanggup apalagi harus melihat meneropong jauh kedepan
Sebab kabut yang berlapis tebalnya itu terlalu kuat, menghalau mentari yang ingin kembali ke peraduannya

Membasahi kelompok mata tak henti-hentinya
Membuka mata saja aku tak sanggup apalagi harus melihat meneropong jauh kedepan
Sebab kabut yang berlapis tebalnya itu terlalu kuat, menghalau mentari yang ingin kembali ke peraduannya

Aku kalut, hatiku meronta dan bibir pun terus berkemelut
Perhatianku teralihkan oleh suara bisikkan yang tak tahu di mana asalnya Siapa tuan yang begitu merdu mencucut di balik tebalnya kabut
Apa dan kepada siapa ia mengarah
Untuk aku ataukah kepada insan yang lainnya

Perlahan namun pasti rintik pun pergi
Beriring kabut yang menguap
Merdu cucutan itu pun ikut pergi
Semua menjadi hening
Kelompok mata kini mampu terbuka bebas namun tak tau kemana ia akan meneropong

Oleh : Immawan Rio Andhika
Ketua Umum IMM Renaissance FISIP Periode 2018/2019

Share This Post

Leave a Reply