IMM, Tak Sekadar Merah

“Peran seorang intelektual adalah peran total, baik memperkuat internal atau kualitas dirinya dengan berbagai perangkat keilmuan, moralitas, integritas, dan lebih penting lagi adalah perjuangan mewujudkan cita-cita perubahan yang didengung-dengungkannya. Inilah sesungguhnya yang diharapkan, bahwa model intelektual kader IMM adalah seorang intelektual yang berperan total sebagai seorang intelektual”
  Amirullah – IMM Untuk Kemanusiaan (2016)


IMM adalah organisasi yang mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mewujudkan tujuan Muhammadiyah. Tegas, IMM adalah gerakan ilmu amaliah, amal ilmiah (baca: 6 Penegasan IMM). Dalam artian, IMM memiliki cita-cita yang harus digelorakan ditubuh ikatan. Senada dengan itu, Amirullah pernah mengatakan,

“Begitu juga dalam konteks IMM sebagai sebuah organisasi mahasiswa Islam yang ditakdirkan atau mentakdirkan dirinya sebagai organisasi yang bertujuan melahirkan mahasiswa-mahasiswa Islam yang memiliki nalar ilmu (akademisi) dan berakhlak mulia dalam gerakannya. Yang berarti menempatkan ilmu di maqam tertinggi identitas gerakan ikatan. Makanya, ada semboyan yang mengatakan “ilmu amaliyah amal ilmiah” berilmu sebelum beramal dan beramal berdasarkan ilmu (melakukan kajian akademis-teoritis sebelum melakukan gerakan dan melakukan gerakan berdasarkan kajian akademis-teoritis) merupakan kesadaran batiniyah para pendiri IMM.” (Amirullah, 2016: 157-158)

Maka dari itu, kader IMM yang penulis sebut sebagai “intelektualisme progresif” harus tetap teguh dan sangat siap dalam mewujudkan transformasi sosial. Sehingga prinsip tadi, “ilmu amaliah, amal ilmiah” dilandasi dengan sikap tulus, ikhlas, dan penuh dengan ikhtiar dalam mewujudkannya.

Dalam konteks akademis, kader IMM “berjas merah” mesti menjadi kader intelektual yang memiliki kompetensi religus yang baik, berparadigma dan bersikap santun, ramah, berfikir maju/orientasi kedepan. Maka, dengan gelar “IMMawan dan IMMawati”, serta mempunyai motto “Fastabiqul Khairat” kader IMM yang tidak dapat menyeimbangan dan melaraskan kegiatan akademik dengan organisasinya adalah hal yang salah, “nanti aja lulusnya, empat tahun tidak cukup untuk berproses di organisasi. Jadi, nikmatilah”. Hal tersebut alhasil semacam menyumbang kesalahan secara meluas untuk kemudian dikonsumsi oleh publik. Ibarat ada penyumbang/penawaran kekeliruan, dan kemudian timbul semacam permintaan oleh publik (baca: kader IMM) dari penawaran tersebut.

Sejalan dengan itu, dengan di buktikan nya sebuah prestasi akademiknya yaitu pada Indeks Prestasi (IP) yang baik, iman dan akhlak yang terpuji, bertanggungjawab dalam menjalankan amanah IMM dengan baik dan maksimal, memiliki kerpribadian yang kreatif-inovatif-solutif, prestatif, serta implementasi dalam realitas sosial kemasyarakatan, yang itu semua menjadi sebuah tanggungjawab kader IMM seutuhnya.

Shareza dalam buku Dalam Suatu Masa: Kumpulan Tulisan Kader IMM UMSU (2016) mengatakan bahwa “….langkah awal yang harus kita terapkan ialah penekanan akan penerapan rasa “MALU” akan gelar IMMawan/IMMawati dengan Moto yang bergaung hingga kepelosok Nusantara, tridimensi kader dan trilogi kader ikatan sangat realistis namun tidak mampu membuktikannya sebagai seseorang spesial dengan gelar IMMawan/IMMawati yang religius, intelektual, dan humanis.”

Pernyataan tegas yang dilontarkan IMMawan Shareza diatas menjadi sebuah kritik sekaligus konstruktif dikalangan kader ikatan. Dengan begitu kader ikatan tidak berfantasi ria sebagian (mungkin) dalam dinamikanya, sikap hedonis, apatis, bahkan terjebak dalam kegiatan yang sifatnya seremonial, minim refleksi, jangka pendek. Sebuah catatan besar yang menggugat kader IMM, IMMawan dan IMMawati dimanapun berada untuk learning to be progressive intellectualism.

Dalam maksud lain, kader IMM itu adalah kader intelektual yang mampu mengejawantahkan nilai-nilai murni IMM (Nilai-nilai IMM), dalam rangka mewujudkan kepribadian intelektual yang santun, berakhlak mulia, dan maju disegala lini kehidupan (sosial, politik, hukum, budaya, pendidikan, kemanusiaan), transformasi sosial, serta disisi lain berupaya membangun masyarakat ilmu. Wallahu a’lam bishawab.

.

.

Oleh : Oleh: Bayujati Prakoso
Ketua Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan PC IMM Jakarta Selatan 2018-2019, Koordinator Divisi Pengembangan Korps Instruktur Cabang IMM Jakarta Selatan

.

.

.

.

Referensi :
Amirullah. 2016. IMM Untuk Kemanusiaan: Dari Nalar ke Aksi. Jakarta: CV. Mediatama Indonesia
Qorib, M, Yofiendi Indah, Zailani, et al. 2016. Dalam Suatu Masa: Kumpulan Tulisan Kader IMM UMSU. Jakarta: Global Base Review.

Share This Post

Leave a Reply