Bukan Hanya Saksi

Gemuruh kembang api,
Tak sesepi tangis panji-panji
Sayup-sayup teriakan basi jiwa-jiwa yang dikebiri
Menanti detik-detik tak pasti
Kepalsuan dari kebebasan atas jeruji

Akan kuinjak-injak mentari dan tak kubiarkan hari dan tahun berganti
Jika kenari-kenari dan kasuwari masih menari dan mendesah wangi dengan dalih menghidupi
Jika tempurung bahtera masih tersandung dominasi
Akan kuinjak-injak surya
Jika bahtera masih senantiasa dinahkodai boneka
Buta

Akan kugenggam dan kutahan sang surya
Jika senyum, tawa, dan cita-cita tunas muda belum lagi dijumpa

Akan kuselimuti surya dengan raga hina,
Tanpa peduli sengat pancar sinar dan panas membakar hati dan jiwa
Jika semut merah masih terpenjara , anai-anai sayap sebelah masih bungkam tak bersuara
Jika tak sampai setengah teguk sari bunga didapat kumbang dan lebah
untuk hasil kerja fajar hingga senja

Akan kuinjak-injak matahari dan tak kubiarkan mengganti pagi
Jika belalang tua masih dalam kendali akan ambisi
Jika belalang tua masih dipengaruhi syarat sebuah negeri tak meng-iyakan berdikari

Akan kuinjak-injak mentari dan tak kubiarkan mengganti hari
Jika hukum adalah api,
Yang diombang-ambingkan embusan dari lembaran materi
Jika aturan jadi titipan kepentingan bukan untuk keadilan
Dan tak kubiarkan tahun berganti lembaran
Jika kutu , lebah dan kumbang tak lagi lantang
Diam dalam tusukan sepi dan bungkam dalam kecupan sunyi
Jika angka dalam catatan si kutu jadi orientasi yang menghalang
Angka-angka jadi produkan belalang
Jika ketiganya tak punya daya juang

Aku hanya akan jadi kutu
Ya, kutu yang menjadi saksi keadaan yang tak kan ada pergeseran
Jika aku tak tau bergerak sedikitpun maju
Meski hanya sering mencoba lontarkan lirihan, yang tak henti-henti dan menjadi teriakan

Tapi aku,
Bukan hanya saksi
Akan kuinjak-injak mentari
Kugenggam dan kutahan matahari
Dan keadaan pasti berganti
Dan Kita, Bukan hanya saksi !

Malang, 1 Januari 2019

Oleh : Immawan M.Prasetyo Lanang
Kader Komisariat Aufklärung 2016

Share This Post

Leave a Reply