“Barokallah wa innalillah,” iku opo to?

Ada seorang kawan yang bertanya: “Barokallah wa Innalillah iku opo to?”

Mungkin kurang lebih begini maksudnya: “(Ucapan) barokallah wa Innalillah itu maksudnya apa sih?”

Pertanyaan itu ia layangkan ketika melihat sebuah kiriman gambar di Instagram—semacam ucapan selamat—atas dilantiknya seseorang untuk sebuah amanah jabatan. Ucapan itu diiringi kalimat yang ia tanyakan tadi. Mungkin karena terbiasa mendengar ucapan “Selamat dan sukses” di situasi demikian, sehingga ucapan “barokallah wa Innalillah” menjadi sesuatu yang tidak lumrah.

Kita memang seringkali terjebak pada sesuatu yang menjadi common sense orang awam. Contohnya, ketika mendengar ucapan innalillahi wa inna iIaihi raji’un, yang terlintas di pikiran kita pastilah sebuah kabar duka kematian. Padahal jika kita benar-benar paham arti dari kalimat tahlil itu, kita akan tahu betapa besar keutamaannya. Ia bukan hanya diucapkan ketika seseorang kembali kepada-Nya, namun juga ketika kita ditimpa musibah, dititipi amanah, dll.

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan semuanya akan kembali pada Allah.” Maknanya begitu dalam: ia adalah pengingat agar kita tak lupa diri sebagai makhluk-Nya, dan selalu mengingat bahwa segala yang ada di dunia ini sejatinya adalah milik Allah sang Khaliq. Kita tak bisa menuntut apapun kepada-Nya, karena Dialah yang berkehendak atas segala sesuatu.

Jadi, jangan terheran-heran jika ada ucapan “barokallah wa Innalillah” yang ditujukan pada seseorang tatkala baru dititipi amanah, apalagi ia diucapkan kepada kita. Ucapan barokallah bermaksud mendoakan, agar Allah senantiasa memberkahi kita kala menjalankan amanah; agar dilancarkan dan dimudahkan setiap langkah kita.

Sementara ucapan innalillah bermaksud mengingatkan, bahwa sejatinya jabatan yang dititipkan pada kita adalah titipan dari Allah, yang sifatnya bukan main-main karena kelak akan dimintai pertanggungjawaban-Nya. Agar kita selalu ingat, bahwa amanah bukanlah sesuatu yang remeh temeh.

Kalimat tersebut di atas diharapkan bisa menjaga niat kita senantiasa lurus dan bermuara hanya pada-Nya dengan prinsip fastabiqul khairat, juga menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Apalah guna jabatan jika kita menjadi penindas. Apalah guna kedudukan jika kita menjadi semena-mena dan tidak lebih bermanfaat bagi sesama.

Ucapan “barokallah wa Innalillah” yang terpenting adalah doa bagi mereka yang diamanahi jabatan agar senantiasa baik dan bijak dalam bertindak dan mengambil keputusan. Karena menjalankan amanah adalah hal yang sulit, kita perlu dukungan doa dari banyak orang.

.

.

Oleh : Ghina Afifah
Sekretaris Bidang Media dan Komunikasi
PC IMM Malang Raya 2018/2019

Share This Post

Leave a Reply