Do’a dan Air Mata Pelacur

Malam itu gelap mencekam. Tidak ada bulan, tidak ada bintang, tidak ada suara binatang. Semuanya sunyi. Hujan turun dengan lebat, kilat menyambar-nyambar disertai guntur yang menggelegar memekakan telinga. Pepohonan bergoyang ke kiri dan kanan terhempaskan oleh hembusan angin kencang.

Langit sudah satu jam yang lalu menampakkan wajah gelapnya, pekat menyelimuti isak tangis seorang lelaki berusia dua puluh lima tahun di bawah pohon beringin berukuran besar. Tubuh ringkihnya kuyup oleh guyuran hujan yang membasahi baju lusuhnya. Lelaki itu sesekali menyeka air mata yang mengalir membasahi kedua pipinnya yang bercampur tetesan air hujan. Menjerit, berteriak kencang memanggil-manggil sebuah nama yang tak lagi berdaya. Tangannya mengeruk-ngeruk sebuah pusara. Ia setengah tak percaya, mengguncang-guncangkan nisan memanggil nama seseorang yang berada di dalamnya. Tubuhnya terkulai lemah, kepalanya perlahan tersungkur bersimbah di atas pusara. Meratap, menyesali sebuah kehilangan.

“Amaaaaakkkkk…” lelaki itu menggigit bibir, memanggil ibunya.

Pilu, meratapi sebuah kepergian. Sayang, waktu terus berlalu. Masa lalu takan pernah terulang kembali. Semuanya sudah tertinggal jauh. sehebat apapun meratap, semuanya takan pernah kembali. Kematian adalah sesuatu yang pasti adanya. Kehadirannya tak ada yang mengundang, kedatangannya tak ada yang mengetahui kapan ia akan tiba menjemput nyawa setiap makhluk-Nya yang lemah.

Sepuluh tahun silam, langit cerah memancarkan cahaya pagi. Terik cahaya menyongsong menyambut hari baru. Kendaraan berlalu lalang di susuran jalan kota Sumatera. Suara kenalpot berisik membisingkan telinga yang mendengarkan. Kepulan asap kendaraan membuat jalan tertutup gelap, debu-debu beterbangan membuat sesak setiap orang yang menghirup udara di pinggiran trotoar jalan.

“jangan sentuh tubuhku! Aku tak butuh kasih sayang dari orang tua sepertimu. PERGI!!!.” Matanya menyalak galak. Tangannya mengepal, ingin sekali menghantamkan pukulan mautnya di rahang wanita itu.

“Dengarkan penjelasan Amak dulu nak, Amak….”

“Penjelasan apa lagi? Semua sudah jelas, Amakku seorang pelacur. Aku lebih bangga hidup dirawat oleh seekor babi hutan daripada orang tua pelacur sepertimu!” nafasnya tersengal-sengal. Seluruh wajahnya merah padam tanda kekesalan.

“Amak tahu engkau sangat kecewa dan malu dengan Amak. Setidaknya kau mau untuk mendengarkan barang sekejap saja ucapan Amak.” Matanya sembab, air mata mengalir membasahi kerah baju lusuhnya. Ibu-ibu yang bernama Marlisa itu menangis tersedu-sedu. Ucapannya terpatah-patah oleh senggukan kepiluan.

Anak itu sama sekali tak menghiraukan perkataan Marlisa. Jangankan untuk sudi mendengarkan, menaruh rasa iba pun tak ada. Ia pergi meninggalkan seorang perempuan yang tak berdaya dengan air mata yang terus mengalir menahan perih di hatinya.

Apa? Penjelasan apa lagi, semuanya sudah jelas. Bagaimana mungkin seorang ibu yang setiap pagi menyuruh anaknya sekolah, menyuruh mengaji setiap sore, dan setiap saat menasehati anaknya agar menjadi manusia yang baik, taat beragama, justru dia sendiri menjadi seorang pelacur. Kehidupan ini memang banyak kepalsuan, semuanya memiliki banyak wajah. Mereka yang tak mengetahui asal-usul kepribadian seseorang akan mudah tertipu oleh penampilan.

Sepeti kehidupan Marlisa, semua orang tak pernah tahu kalau dirinya adalah seorang pelacur. Bahkan anak satu-satunya pun tak percaya melihat kenyataan bahwa ibunya seorang pelacur. Yah, Marlisa nekad menjadi pelacur setelah ditinggal mati oleh suaminya, Anton, yang meninggal karena penyakit tumor ganas di otaknya tak dapat ditolong. Anton meninggal dunia di RS Cipto Mangunkusumo, nyawanya tak mampu diselamatkan. Ia meninggal saat anaknya  masih dalam susuan Marlisa.

Kehidupan Marlisa sangat buruk sekali. Setelah ditinggal mati suaminya, ia harus banting tulang mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Mau tidak mau, tuntutan ekonomi yang sangat mendesak membuatnya berperan sebagai Ibu Rumah Tangga sekaligus sebagai Kepala Keluarga. Penghasilannya sebagai tukang cuci pakaian tak cukup untuk membiyayai kebutuhan diri dan anaknya.

Tahun 1998 kekacauan semakin bergolak. Krisis moneter yang terjadi di dunia membuat ekonomi negara menjadi porat-parit. Imbasnya banyak pekerja yang di-PHK. Para pengusaha kecil semakin tergusur. Persaingan semakin sulit. Tak jarang si miskin menjadi tambah miskin, si kaya pun ikut sengsara.

Tak terkecuali dengan Marlisa, kehidupannya yang sangat kekurangan membuatnya tak mempunyai pilihan lain selain menjadi seorang penghibur dunia malam. Sebetulnya ia tak menginginkan akan hal itu, tapi kebutuhannya yang akhirnya mendesaknya melakukan pekerjaan yang hina itu.

“Arya… De… De.. Dengarkan Amak, nak. Kau harus mengerti. Aa.a.aamak melakukan ini semua demi kamu, nak.” Bicaranya terputus-putus, ia menangis tersedu-sedu menahan pilu.

“Mengerti apa lagi? Mengerti kalau selama ini ibu kandungku membiyayai makan dan sekolah dengan hasil pelacur? MENJIJIKAN !!!! jangan pernah beralasan demi aku, PELACUR!!!.” Amarahnya tak terkendali, tangannya refleks membanting sebuah gelas yang ada di dekatnya.

Marlisa tergugu, tak kuasa lagi menahan kenyataan yang menyakitkan. Ia sudah mengira kalau akhirnya akan pahit seperti ini. Yang ia tak menyangka, bagaimana mungkin kalimat menyakitkan itu justru keluar dari ucapan anaknya sendiri. Bagaimana mungkin seorang anak begitu tega, tak mau memahami sedikitpun keadaannya. Jangankan untuk memahami, mendengarkan sedikit penjelasaannya pun tak sudi. Marlisa menggigit bibir, ia tak tahu harus bagaimana lagi hidupnya. Tubuhnya tersungkur ke tanah, bersimpuh. Air matanya tak mampu dibendung, terus mengalir bak air bah.

***

Hari berganti hari, tahun berganti tahun, semua telah berlalu. Arya tumbuh dewasa dengan pesat. Kini usianya menginjak dua puluh lima tahun. Dua tahun lalu ia telah wisuda di sebuah Universitas di Sumatera. Sempat bekerja di sebuah perusahaan jasa, tapi akhirnya ia terkena PHK. Ia tinggal di sebuah kontrakan, jauh dari rumah asalnya. Ia sengaja memilih mengontrak agar bisa jauh dari ibu kandungnya. Yah, sejak usia SMA, ia memilih untuk pergi meninggalkan ibunya. Mencari tempat tinggal sendiri dengan menjadi kuli di pasar yang uangnya ia tabung untuk membayar kost-kostan di dekat sekolahnya. Kehidupannya tak terkontrol. Kini kehidupan Arya telah bebas, tak ada yang mengatur, tak ada yang menasihati, dan yang paling penting tak ada yang memanggil dirinya sebagai “anak pelacur.”

“Copeeeeettttt…. Copeeeetttt…..” Teriak seorang wanita berusia 30 tahun kepada para warga yang berada di pinggiran jalan kota.

Lelaki itu mendengus kesal, aksinya terpergoki oleh warga. Tak ada cara lain, kabur. Yah, kabur adalah jalan satu-satunya menyelamatkan diri dari amukan masa yang terlanjur naik pitam. Tubuhnya akan terkoyak, bahkan nyawanya akan melayang jika menghadapi puluhan warga yang sedang kesetanan ingin memukulinya.

Ia lari sekencang-kencangnya, tak perduli jalanan penuh sesak dengan kendaranan yang lalu lalang hampir menabraknya. Matanya tajam untuk satu tujuan. Lolos. Di belakang, warga terus mengejarnya. Memburu. Matanya menyalak seperti harimau yang hendak menerkam babi hutan. Tangan-tangannya teracung membawa berbagai macam senjata tajam, balok kayu, dan bebatuan besar.

“Copeeettt… Copeeeettt…. “ Seorang warga berteriak-teriak mengundang kerumunan warga yang lain.

“Tangkap copeeet… Bunuh copeett”

Lelaki itu terus berlari, nafasnya tersengal-sengal. Langkahnya semakin cepat. Ia berbelok menuju sebuah gang, berusaha untuk lepas dari kejaran masa yang sudah terlanjur garang ingin membunuhnya. Kakinya terus melangkah, tak perduli pagar bambu pembatas terus diterobos.

Sial, langkahnya menemui jalan buntu. Tak ada jalan untuk meloloskan diri. Berbalik arah? Tidak mungkin. Warga sedang mengejarnya. Ia akan mati jika berbalik arah. Kemana? Ia mulai bingung. Hatinya gusar, bagaimana kalau-kalau ia tertangkap oleh masa, nyawanya akan habis. Keringat mengucur deras, satu dua menetes dari helai rambut gondrongnya. Jalan itu terhalang oleh dinding tembok beton. Tingginya mencapai lima belas meter. Dalam keadaan yang sangat mendesak, ia terus berpikir keras. Matanya mencari-cari sesuatu untuk bisa membatu menyelamatkan nyawanya yang akan dihabisi masa.

Memanjat? Tidak mungkin. Tak ada anak tangga, tak ada pagar yang bisa dipanjat. Semuanya buntu. Tali tambang? Sial, ia hanya memiliki  ikat pinggang. Panjangnya pun hanya dua meter, takan cukup untuk membantunya memanjat dinding setinggi lima belas meter itu.

“Itu dia copetnya, ayo tangkap…. BAKAAAARRR!!!!!” Seorang lelaki berbadan kekar membawa parang berteriak memprofokasi, diikuti teriakan warga yang lain.

“BAKAARRRR..!!!! BAKAAARRR…!!!!”

Keringat dingin terus mengucur membasahi baju lelaki pencopet itu. Keadaan semakin gawat. Para warga sudah semakin mendekat. Habis sudah kini nyawanya, tak ada toleransi, tak ada ampunan. Panik. Langkahnya semakin tersudut. Tangannya terangkat, melambaikan tanda menyerah. Ia meminta ampunan. Dari sudut matanya memancarkan belas kasihan meminta ampun.

Sayang, tak satu pun warga yang perduli. Hatinya sudah dimakan api kesetanan. Mereka sudah muak dengan ulah para pencopet, begal, maling dan penjahat-penjahat lainnya. Kini, bagi mereka tak ada ampun lagi untuk menghabisi para bandit yang hampir setiap saat meresahkan warga. Termasuk kepada lelaki pencopet itu.

“MATI KAU, BANGSAAAATTTT….!!!!!!”

Braaakkk… Sebilah kayu menghantam tubuhnya. Tersungkur, mengaduh. Pukulan bertubi-tubi datang dari tangan-tangan warga yang kesal. Kaki-kaki yang geram lancar menyerang tubuh ringkih pencopet itu. Tendangan demi tendangan mengenai kepala, bahu, dan perutnya. Lelaki itu berteriak mengaduh, meminta ampunan.

“Sekarang tak lagi kau bisa kabur dari kami, BEDEBAH!!!!….” Gbuuukkk, suara tinju mengantam. Mendarat mengenai rahangnya. Dari mulutnya keluar darah.

“MAAAATI KAAAAUUUU….!!!!” Braaakkk.. batu besar dihantamkan. Tepat mengenai wajah memelasnya. Tubuhnya tersungkur. Mengaduh. Kepalanya terluka, mengucurkan darah segar. Baju hijaunya berubah menjadi warna merah. Bercak darah membasahi sekujur tubuhnya. Percikan demi percikan mengotori tanah. Tak ada ampun bagi para warga itu. Semuanya terus memukuli pencopet yang sudah payah tak berdaya itu. Pukulan demi pukulan terus menghantamnya.

“HABISI DIA. BAKAAARRRR !!!!!” Lelaki bertubuh gempal menyalakan korek hendak membakar tubuh ringkih pencopet yang tak berdaya. Disambut suara gemuruh masa yang lain. Satu orang di antara mereka menyiramkan bensin ke tubuh pencopet itu.

“BAKAAARRR…!!!! BAKAAARRRR!!!!!!”

Tubuh pencopet itu tak berdaya. Ia terkulai lemah di tanah. Tubuhnya pasrah saat bensin mengguyur tubuh ringkihnya. Air mata mengaduh memohon ampunan tak dihiraukan oleh mereka. Kini dirinya diambang kematian. Dari mulutnya terus mengalir darah segar. Hidupnya sudah pasrah dengan keadaan. Ia tak mampu lagi membela tubuhnya yang akan hangus dibakar warga.

“Tunggu….. Tunggu…. Tunggu, jangan bakar pemuda ini. Aku mohon jangaaannn..” Seorang perempuan langsung menubruk tubuh pencopet itu. Ia terus memohon kepada warga agar tidak membakarnya.

Wanita itu adalah Linda, seorang perempuan yang tadi menjadi korban pencopetan lelaki yang kini tak berdaya dalam dekapannya. Ia menangis memohon agar pencopet itu diampuni. Tubuhnya ikut tersiram oleh bensin yang hendak membakar hangus pencopet itu.

“Kumohon, maafkanlah dia. Ampunilah pemuda ini. Ku mohon.” Wajahnya memelas. Mengharapkan ampunan kepada warga.

“Untuk apa, Lin?? Untuk apa kau ampuni bajingan ini. Dia sudah mencopetmu, dia juga sudah banyak meresahkan warga. HABISI SAJA DIA!!!.”

“Jangaaaannnn… Kkkuuu ku ku kummoooohhooonnn.. Jangaaannn… Ini sudah lebih dari cukup. Kasian pemuda ini tak berdaya.” Bicaranya pelat. Tergugu menahan tangis.

Suasana sedikit hening. Lengang sejenak dari yang tadi sempat mencekam. Para warga akhirnya mengalah, bersedia untuk tidak melanjutkan untuk membakar pencopet itu. Satu persatu dari mereka mendengus kecewa lalu meninggalkan tempat sambil membanting kayu-kayu dan batu yang ada di genggaman mereka. Mereka yang belum merasa puas satu-dua mendaratkan pukulan di wajah pencopet itu sebelum meninggalkan tempat. Ada yang menendang, melempar batu, dan ada pula yang membuang ludah ke wajah pencopet itu.

Cuuiiihh… “Beruntung kau ada yang menyelamatkan nyawamu, bangsat!. Kalau tidak, mati kau !!!.” Seorang dari mereka menggerutu, mengucapkan sumpah serapah.

Linda masih tergugu menahan tangis sambil memeluk tubuh payah lelaki pencopet itu. Bajunya ikut kontor terkena darah yang bersimbah mewarnai tubuh lemah pencopet itu. Kepala Linda terangkat menatap wajah pencopet itu. Tangannya merogoh saku meraih sesuatu yang ada di dalamnya.

Di tangannya tergenggam sebuah dompet yang tak ada  uangnya. Perlahan ditariknya sebuah KTP dari dalam dompet pencopet itu. Dibacanya lamat-lamat. Dari tulisannya terbaca jelas sebuah nama “ARYA SIPATULA VOLERGA.”

Yah, kini kehidupan Arya semakin tak terbendung. Belakangan ini ia menjadi pencopet untuk memenuhi kebutuhannya. Kehidupannya semakin gelap setelah terkena PHK di sebuah perusahaan. Kehidupannya luntang-lantung tak tentu arah. Ia mencoba melamar ke beberapa perusahaan lain, tapi tetap saja ditolak. Keahilian Arya hanya di bidang akademik, ia tak mempunyai skill yang hebat untuk berdikari, menciptakan usaha sendiri. Ia pernah mencoba menjadi seorang pedagang es campur, tapi sayang, kebutuhan modal selalu lebih besar daripada pendapatannya. Semua serba mahal, serba bersaing. Kehidupannya kacau. Akhirnya ia memilih untuk menjadi pencopet.

***

“Akkhh… Di mana aku? Akkhh…” Matanya terbuka. Ia sudah siuman, terbangun setelah lama pingsan. Ia mengaduh kesakitan, nyeri di sekujur tubuhnya masih terasa.

“Istirahatlah!. Kini kau ada di rumahku. Kau tadi pingsan setelah dipukuli masa. Bersabarlah, lukamu masih sangat parah. Lebih baik kau tidak banyak bergerak dahulu.”

“Kau… Kkk… Kau…”

“Yah, aku Linda. Perempuan yang kau copet waktu itu. Istirahatlah.” Wajahnya tersungging senyum tulus. Ia tak merasa dendam kepada Arya yang telah mencopetnya.

“Maa… Maafkan Ak… Aaakkuu…” Air mata menetes membasahi pipinya. Tak kuasa ia menahan butiran kristal yang berlinang di pelupuk matanya. Ia tak menyangka orang yang menyelamatkan nyawanya dari amukan masa yang sedang kesetanan justu adalah orang yang pernah ia copet.

“Sudahlah, aku sudah memaafkanmu, Arya.” Wajahnya tersenyum. Apa katanya, Arya?? Ia sedikit terheran-heran. Bagaimana mungkin wanita itu mengetahui namanya. Jangan-jangan??? Ah, tidak. Ia tak mempunyai kenalan di daerah sekitar ia mencopet itu. Lagi pula ia tak mengenali siapa dia. Linda?? Namanya begitu asing di telinga Arya. Di kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan.

“Siapa kau, mengapa kau mengenaliku??”

“Siapa aku itu tidak penting, yang penting sekarang kau harus sembuh dulu.” Tangannya membetulkan kepala Arya yang sempat bergeser.

“Waktu kau pingsan, aku mengambil KTP-mu yang tersimpan di dalam dompet warna coklatmu itu. Kubaca. Dari nama dan tempat lahirmu mengingatkanku pada seorang wanita hebat yang kuanggap sebagai kakak kandungku. Ia begitu baik, menyayangi siapapun yang dikenalnya. Ia tak pernah pamrih untuk membantu siapapun yang membutuhkan pertolongannya. Ia seorang wanita yang sangat mengerti akan agama. Hampir setiap malam ia menasihati kami waktu itu.

“Sayang, kehidupannya sungguh malang. Wanita sebaik dia harus terlilit hutang. Ia tak tahu harus bagaimana melunasi hutang-hutangnya. Kebutuhan ekonomi yang sangat mendesak membuatnya pasrah akan keadaan. Sesulit apapun, ia tak mau anak semata wayangnya putus sekolah. Ia selalu punya harapan besar dari anaknya itu. Setiap malam ia selalu menyempatkan diri untuk pergi ke musholla di Desa sebelah yang jaraknya lumayan jauh, hanya untuk melaksanakan sholat malam dan mendo’akan anaknya.

“Aku tahu, menjadi seorang perempuan seperti dirinya sangat sulit sekali. Setiap malam bekerja di tempat yang sebetulnya sangat tidak ia sukai untuk kemudian keesokan harinya merawat dan mengasuh anaknya seorang diri. Ia bekerja di sebuah tempat prostitusi. Setiap malam, ia selalu bercerita. Memberikan nasihat, motivasi dan semangat lainnya kepada kami.” Bicaranya terhenti.

Suasana menjadi hening sejenak menyisakan sedikit haru dari nostalgia. Pelupuk mata Linda menjadi sembab, air matanya berlinang. Perlahan basah menyisakan gurat tangis di pipi. Arya hanya bisa terdiam. Ia tak mengerti siapa wanita yang sedang diceritakan Linda. Kedua alisnya hanya bisa mengerenyit tanda penasaran.

“Tapi kau tahu? Sedikitpun wanita itu tak pernah menyentuh lelaki yang dilayaninya. Yah, ia hanya menjadi pelayan minuman. Pernah sekali ia ditawari untuk menjadi pelayan nafsu bejad lelaki hidung belang, tapi ia menolak meski diiming-imingi lembaran uang yang tidak sedikit. Ia selalu menjaga dirinya dari minuman beralkohol. Hampir setiap pulang dari tempat prostitusi bersama kami, ia selalu menyebut-nyebut nama anaknya. Ia bangga dengan prestasi anaknya di sekolah. Ia selalu punya harapan besar pada anak satu-satunya itu. Ia tak mau jika kelak nanti anaknya akan menemui hidup suram seperti dirinya.

“Nama anak itu sama dengan dirimu, Arya.  Ia selalu berpesan kepada kami yang sudah memiliki anak waktu itu, agar tetap mendidik anaknya dengan bekal agama agar tidak tersesat seperti orang tua mereka. Yah, meskipun beberapa diantara mereka menertawakannya, memperolok dirinya, bagaimana mungkin seorang pekerja di dunia malam berbicara sok suci seperti itu. Tapi aku tahu, aku yakin kalimat yang ia ucapkan itu adalah ketulusan. Sebuah naluri keibuan yang tak mau melihat anak-anaknya bejad seperti dirinya.”

Apa katanya, Arya?? Bagaimana mungkin namanya serupa dengan dirinya. Arya tercekat mendengar cerita Linda. Jangan-jangan, ah tidak mungkin. Sudah jelas ibunya adalah pelacur. Lagi pula Linda tidak menyebutkan nama wanita itu. Bisa saja wanita itu adalah orang lain yang kebetulan nama anakanya sama dengan dirinya.

“Saat itu, usiaku masih delapan belas tahun. Baru satu tahun lulus SMA. Aku terpaksa tidak melanjutkan kuliah karena tak ada biaya. Kebutuhan yang sangat mendesak akhirnya mengharuskanku bernasib sama dengan wanita malang lainnya, termasuk Marlisa.”

“Apa, Marlisa??” Arya tercekat. Matanya melotot bak orang yang tak menyangka mendapati petir di tengah terik matahari yang menyengat menyongsong siang. Ia kaget bukan kepalang. Setengah tak percaya akan apa yang telah disebut Linda. Marlisa??  Bagaimana mungkin nama wanita itu sama juga dengan ibunya. Tidak. Ia tetap tidak percaya. Ia segera berusaha bangun dari tempat tidurnya. Namun Linda dengan cepat merengkuh tubuh Arya yang hampir saja jatuh ke bawah karena tidak kuat menahan berat badannya. Tubuh Arya masih terkulai lemah tak berdaya.

“Yah, namanya Marlisa. Ia seorang perempuan yang sangat baik sekali. Meski usia kami terpaut jauh, ia tak segan segan menganggapku sebagai adiknya sendiri. Ia sangat sayang padaku. Beberapa kali aku dinasihatinya agar berhenti menjadi wanita penghibur, tapi kondisi ekonomiku terus memaksaku untuk melakukannya. Kedua orang tuaku sudah meninggal.

“Akhirnya Marlisa menyuruhku berhenti dan seluruh biasa kehidupanku ia yang menanggung. Aku menurut. Setiap satu minggu menerima upah gaji, ia selalu menyisihkan separuhnya untukku. Satu persatu dari para pelacur itu banyak yang bertaubat karena dirinya. Tapi sayang, kini ia telah tiada. Ia tewas dibunuh saat sedang melakukan sholat malam di desa sebelah. Ia ditusuk oleh dua orang lelaki suruhan yang iri dengannya. Aku menemukannya tengah terkapar saat hendak ikut sholat malam seperti biasanya. Aku bingung harus meminta tolong pada siapa, musholla itu sudah lama tak terawat. Tak ada rumah atau orang yang berlalu-lalang di sekitar musholla malam itu. Sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, ia menitipkan sebuah pesan agar menyampaikan ini pada anaknya.” Linda tergugu menahan pilu kepergian Marlisa yang telah ia anggap kakak kandungnya sendiri. Kerah bajunya sudah basah dengan air mata. Ia mengeluarkan sebuah surat dan liontin.

“Boleh aku baca dan lihat liontinnya?” Arya menjulurkan tangan. Dalam hatinya ia berdo’a semoga Marlisa yang Linda sebut-sebut bukanlah ibunya. Linda menyerahkan surat dan liontinnya kepada Arya. Perlahan Arya membuka lipatan surat itu, lalu membacanya.

Untuk anakku, Arya

Nak, jika suatu saat nanti kau membaca surat ini, kumohon maafkanlah amak. Amak sangat sayang sama Arya. Amak berharap Arya menjadi anak yang solih, berguna untuk agama dan negara. Tidak seperti amak yang seperti ini.

Nak, maafkanlah amak. Sungguh amak tak bermasud menjadi seperti ini. Ini pilihan terakhir, nak. Amak tak tahu harus bagaimana agar bisa menghidupi keluarga. Bapakmu meninggal tak mewarisi apapun kecuali ilmu dan agama. Amak berharap agar suatu saat nanti, kau bisa melanjutkan cita-cita bapakmu, mendirikan Panti Asuhan Anak Yatim dan Pondok Pesantren Agama. Amak selalu berharap agar kelak kau menjadi seorang yang berjuang di jalan agama.

Nak, kumohon maafkanlah amak. Amak sadar, kau akan sulit menerima amak yang seperti ini. Nak, kembalilah. Amak merindukanmu. Maafkanlah amak, nak. Amak akan selalu ridho padamu meski amak tak tahu apakah kau akan ridho pula pada amak, atau justru mengutuk amak. Maaf kanlah amak, nak. Segera pulang lah. Amak rindu. Amak rindu..

Marlisa

Arya tercekat, perlahan ia membuka liontin yang diberikan Linda. Oh Tuhan, di dalam liontin itu terlihat jelas sebuah foto wajah dirinya sewaktu kecil. Ia tak menyangka kalau ternyata wanita itu adalah betul-betul ibu kandungnya. Air mata mengalir membasahi pipi Arya. Ia tak kuasa menahan kesedihan itu. Arya menyesal. Sungguh selama ini ia menyangka ibunya adalah seorang pelacur yang nista. Seorang wanita munafik  yang menasihatinya tentang agama, padahal dirinya tak lebih dari seorang pelacur yang hina. Arya terus tergugu dalam isak tangisnya.

“Kumohon, tunjukkan di mana ibuku disemayamkan. Kumohon, tunjukan aku.”

“Ibumu?? Jadi.. Jadi Marlisa adalah betul ibumu? Oh Tuhan..” Linda langsung mendekap tubuh Arya.

“Baik, nanti akan kutunjukan di mana ibumu disemayamkan. Yah, nanti setelah kau sembuh. Setidaknya setelah kau mampu untuk berjalan.”

***

Tahun 2008, langit cerah menghiasi kebahagiaan penghuni sebuah Yayasan Islami yang sengaja dibangun bagi para yatim-piatu di sudut Kota Pulau Sumatera. Beberapa anak kecil terlihat berlarian ceria. Usia mereka sekitar empat sampai lima belas tahun. Mereka adalah anak yatim. Beberapa di antara mereka telah ditinggalkan oleh orang tuanya sejak masih balita. Kini mereka tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, sholeh dan periang.

Di antara mereka terlihat beberapa orang yang sedang ngobrol di bawah atap rumah besar. Mereka tengah asyik membicarakan suatu gagasan yang sangat penting untuk kemakmuran anak-anak. Sebuah rencana untuk membangun Pesantren ROUDLOTUL YATAMA bagi para yatim-piatu. Kini Arya betul-betul mewujudkan pesan dan harapan dari orang tuanya. Ia selalu berharap amaliyahnya menjadi amal jariyah yang tiada putus untuk kedua orang tuanya.

Oleh : Rohaiman Hidayat
Ketua Bidang Seni Budaya dan Olahraga
PC IMM Malang Raya

Share This Post

Leave a Reply