UTOPIS 2019 PEMILU DAMAI

Indonesia merupakan Negara yang tensi politiknya begitu kuat, bagaimana tidak, sedang tidak musim politik saja hawanya panas, apalagi kalau sudah memasuki musim politik. Panasnya Jakarta atau Surabaya mah lewat. Hawa Ibu kota saat ini sedang naik, hingga suhu pada termometer melampau ambangnya. Pendeklarasian Calon presiden dan calon wakil presiden oleh BPU Nasional membuat suhu termometer yang cukup tinggi di ibu kota mulai menjalar ke kota-kota lain di Indonesia, dari kota-kota besar hingga pulau-pulau terpencil.

Isu-isu mulai menyebar, janji-janji mulai berserakkan, dan PDKT-PDKT manja mulai di jalankan, layaknya muda-mudi yang sedang dimabuk cinta, mau bagaimanapun caranya, harusku dapatkan hatinya. Begitu juga fenomena yang terjadi di musim politik ini, semua cara dilakukan agar merebut hati masyarakat. Semua sah sah saja dilakukan, namanya juga kampanye.

Kemunculan dua pasang pemain ini membuat masyarakat Indonesia secara otomatis membelah diri menjadi dua bagian (meskipun ada bebrapa yang berada di golongan tengah), yang dengan masing-masing mempertahankan jagoannya. Baik dari kalangan elit politik itu sendiri ataupun masyarakat-masyarakat awam pengikutnya. terbentuknya dua block ini membuat perpolitikkan Indonesia tidak sedang baik-baik saja, meskipun telah digalakkan Pemilu damai dan mulai bertebaran hastag #2019pemiludamai, nampaknya tidak mengalahkan hastag #2019gantipresiden atau hastag #Jokowi2priode.

Keberadaan media memiliki pengaruh yang cukup besar dalam pergulatan politik ini, yang mana media merupakan salah satu alat kempanye yang paling masif.  Terutama di media sosial dan media televisi. Bagi para nitizen media sosial adalah panggung yang cukup megah untuk mencari dan menunjukkan eksistensi dirinya, sedangkan media televisi adalah ring pertandingan yang disediakan media untuk para elitis.

Melalui media ini para pendukung masing-masing kubu mulai melempar isu, memuji-muji jagoannya, mencari-cari kelemahan lawan, menjatuhkan lawan, mengolok-olok dan bahkan menjadi panggung “adu kebodohan”.  Mengapa demikian?

  1. Media Sosial menjadi Sabda Nitizen

Hastag #2019gantiprseiden telah ada sebelum pendeklarasian kedua calon,begitu juga dengan #Jokowi2priode. Ketika membuka akun-akun sosmed mulai dari twetter, Facebook, WA, dan Instagram, pasti akan diramaikan dengan sabda-sabda para Nitizen yang budiman. Nitizen Indonesia adalah Nitizen penuh dengan kelatahan, nitizen yang isinya hanya mampu menyebar opini-opini kosong, tulisan-tulisan sindiran, dan hawa-hawa negatife selalu di tunjukkan lewat media social ini, hal ini membuat perpolitikkan kita semakin keruh. Dalam kondisi seperti ini masyarakat seharusnya mampu menjadi bijak, berhenti berperang status, berhenti merasa jagaonnya paling benar.

  1. Televisi menjadi ajang Debat Kusir

Namun media televisi juga tidak kalah menampakkan “adu kebodohan” itu, setiap kali issu politik muncul, tercium ada aroma-aroma yang ganjil dari salah satu calon; ambilah saja contoh kasus kebohongan yang dilakukan Ratna Sarumpeat yang saat itu menjadi salah satu tim pemenangan Prabowo-Sandi. Bukan main, satu Indonesia raya digemparkan dengan pemberitaan-pemberitaan itu, sampai lupa ternyata ada hal yang lain yang lebih urgent untuk di urusi (missal; kebangkitan Lombok pasca gempa, kenaikan nilai tukar Dolar, Bali menjadi tempat pertemuan IMF, dan kemasifan penanganan bencana di Palu).

Seperti pecinta kopi yang tidak ingin kopinya keburu dingin, dalam hal perpolitikkan khususnya pemilu media-media televisi juga akan tanggap lebih cepat. Fenomena yang paling menarik yang saya amati akhir-akhir ini adalah kemunculan dan penyandingan 2 kubu (team pemenangan) dalam  satu acara di beberapa media TV (sebut saja TV One dan Metro TV yang paling sering). Media televisi sudah seperti arena pertempuran.

Bagaimana tidak? Kehadiran team-team pemenang dari dua kubu ini selalu jatuh pada perdebatan yang saling menghujat, menjatuhkan, tidak substansial, tidak solutif, dan bahkan tidak bergagasan, seperti macam debat kusir, tidak ada hasil yang bisa di ambil. Ini menjadi tontonan yang tidak baik bagi masyarakat sendiri, persaingan yang tidak sehat, ketidakdewasaan dalam berpolitik, menjadi contoh yang tidak baik. Melalui fenomena ini membuat saya semakin yakin bahwa kepentingan berada diatas apapun, sekalipun menghilangan rasa malu dengan menampakkan “kebodohan” di depan Publik.

Hastag #2019pemilu damai, mulai menjadi tumpukan-tumpukkan utopis, hanya sekedar ingin namun begitu sulit untuk direalisasikan. Kebobrokkan yang terjadi di kalangan para elitis juga menjalar dikalangan masyarakat awam, dan juga para nitizen budiman yang tak habis-habisnya mengeluh-eluhkan jagoannya lewat media sosialnya. Pergulatan politik Indonesia menjadi tidak terlalu menarik, hambar, jikapun berdinamika maka demikianlah hanya sebatas drama.

Sudahlah, cukupkan diri kita menjadi manusia yang merasa sempurna dan paling benar. Indonesia itu Negara demokrasi, Negara yang menjunjung tinggi pacasila dan persatuannya. Kita harus berhenti menjadi Nitizen yang nyinyir, kita harus jadi Nitizen yang bijak, yang mampu meng-counter isu-isu yang beredar. Masalah #2019 ganti presiden atau #Jokowi2priode cukuplah menjadi konsumsi pribadi masing-masing, menjadi rahasia (seperti asas pemilihan). Tidak usah kita ikut-ikut memperkeruhkan suasana yang memang sudah keruh. Andai memang para elitis kita tengah sibuk mengambil hati kita, paling tidak kita juga sibuk menyiapkan otak, pikiran dan berbagaimacam analisis untuk memilih pemimpin bagi Indonesia yang tepat untuk 5 tahun kedepannya. Mari kembalikan roh demokrasi, dengan mewujudkan #2019PemiluDamai, jangan sampai benar-benar menjadi utopis belaka.

 

**Miftahul Jannah S.Pd (Kabid Immawati PC IMM Malang Raya)

Share This Post

Leave a Reply