Urgensi Kesehatan Bagi Kontribusi Pembangunan

Berbincang masalah kesehatan tidak akan pernah lepas dari kehidupan, baik individu maupun kelompok yang tergabung dalam satuan perkumpulan. Ia menjadi tonggak utama untuk melihat stabilitas bangsa terutama dalam sisi sumber daya manusianya. Urgensi kesehatan ini tersurat dalam undang- undang republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan pertimbangan presiden poin B bahwa setiap kegiatan dalam upaya untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi- tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip nondiskrimatif, partisipatif, dan berkelanjutan dalam rangka pembentukan sumber daya manusia Indonesia, serta peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa bagi kehidupan nasional.

Presiden Joko Widodo dalam rapat kerja kesehatan di Birawa Asembbly Hall Bidakara di Jakarta tanggal 29 Februari 2017 menekankan pentingnya peningkatan kesehatan karena ia merupakan masalah yang sangat fundamental untuk diselesaikan. Hal tersebut mengacu pada gambaran jika Indonesia pada tahun 2025-2030 mendapat peluang bonus demografis, yang mana hal ini akan sangat menjadi beban berat jika tingkat kesehatannya saja masih rendah.

Mengacu dari sekian banyak masalah kesehatan, gizi buruh menjadi momok paling menakutkan, berdasar laporan Global Nutrition Report Independent, kondisi gizi 17,8 anak Indonesia berada di bawah standar WHO (World Health Organization). Mirisnya, stunting (cebol) dan wasting (kurus) yang merupakan parameter utama dalam penentuan gizi buruk Indonesia hanya lebih baik dari Laos dan Timur Leste. Dr. Toto Sudargo, SKM, M. Kes., yang menjabat sebagai ahli gizi universitas Gajah Mada menuturkan bahwa daerah yang paling rentan menderita gizi buruk adalah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Kalimantan, Sulawesi, Sumatera Utara, dan Aceh.

Gizi buruk bukan hanya dipicu oleh satu faktor saja, melainkan kumpulan dari beberapa faktor. Kebersihan lingkungan, makanan bergizi, asupan ASI, dan juga isu- isu yang tersebar di daerah sekitar. Misalnya di Batam terdapat pantangan tidak makan ikan selama 40 hari bagi ibu hamil, di Atambua Nusa Tenggara Timur terdapat tradisi panggang api bagi ibu pasca melahirkan lalu puasa 40 hari. Hal tersebut memacu penurunan kualitas ASI ibu dan mengakibitkan kekurangan gizi bagi balita.

Penanganan gizi buruk sebenarnya sudah memiliki progres namun sayangnya berjalan lambat dan belum membuahkan hasil maksimal. Mengatasi segala realitas yang ada, presiden menegaskan kepada seluruh sektor untuk ikut serta berpartisipasi dalam Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Dimana, dalam hal ini puskesmas bukan hanya duduk menunggu pasien yang ada melainkan mendatangi rumah demi rumah untuk memeriksa dan melihat keadaan lingkungan yang ada.

Sementera itu menurut penulis, GERMAS tidak akan maksimal membuahkan hasil jika yang bergerak hanya dari pihak pemerintah dan lembaga layanan kesehatan masyarakat saja, masyarakat khususnya mahasiswa juga diperlukan partisipasinya untuk ikut serta andil dalam kesuksesan program tersebut. Pemerintah dan menteri kesehatan bisa kembali mendata daerah pelosok mana saja yang alat penunjang kesehatannya masih minim, atau jika perlu merenovasi puskesmas di daerah tersebut dan menjadikannya setara kualitasnya dengan rumah sakit di daerah perkotaan, agar tidak ada lagi kematian yang disebabkan karena telat berobat atau tidak berobat karena alat penunjang kesehatan di daerah tersebut kurang memadai.

Data sudah terkumpul, maka langkah yang bisa diambil selanjutnya adalah mengirim tenaga- tenaga medis yang kompeten, bisa dari dokter, perawat, mantri, dan diharapkan juga mahasiswa kesehatan masyarakat yang sedang menjalani praktek kerja lapangan, adil di setiap tempat dengan jumlah yang seimbang mengacu pada jumlah penduduk yang ada. Disana, mereka bisa berkolaborasi bersama untuk menciptakan sebuah tindakan preventif terhadap gizi buruk dengan mengadakan penyuluhan termasuk pada isu- isu yang tersebar luas di masyarakat.

Perlu diketahui, saat para tenaga medis yang dikirim telah mengadakan tindakan preventif dan mendatangi rumah demi rumah untuk melakukan pengamatan, maka semua ini belum dikatakan selesai begitu saja. Lingkungan bersih, asupan makanan bergizi untuk ibu hamil dan juga balita juga sangat penting untuk mencegah kekurangan gizi ini, sehingga penulis berharap pemerintah pusat bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memperbaiki lingkungan hidup menjadi layak ditempati dan memberi makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita.

Program yang berjalan baik, ditambah pemantauan yang konsisten. Memungkinkan akan mengurangi jumlah gizi buruk ini dan akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Pemerintah adil makmur, masyarakat sehat sentosa jauh dari berbagai macam penyakit, sehingga mampu beraktivitas demi mewujudkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di gancah dunia.

Oleh : Immawati Relung Fajar Sukmawati
Sekretaris Bidang Organisasi IMM Komisariat Reformer UIN

Share This Post

Leave a Reply