PEMUDA HARUS SELALU GALAU

Pemuda merupakan tonggak masa depan generasi penerus bangsa, di tangan pemuda-lah baik buruknya bangsa tersebut dapat dilihat oleh kacamata dunia. Selain itu Pemuda merupakan bagian dari penduduk usia produktif. kehadirannya menjadi salah satu sumber potensial dalam proses pembangunan bangsa yang memegang peranan penting sebagai sumber kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan.

Sejarah membuktikan bahwa pemuda adalah salah satu pilar yang memiliki peran besar dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga maju mundurnya suatu negara sedikit banyak ditentukan oleh pemikiran dan kontribusi aktif dari pemuda di negara tersebut (Wahyu Ishardino Satries).

Pada generasi sekarang, pemuda merupakan penerus perjuangan generasi terdahulu untuk mewujudkan cita-cita bangsa. Jika kita tinjau bangsa ini populasi penduduk bangsa ini, Indonesia merupakan negara yang memiliki populasi penduduk yang sangat besar, termasuk di dalamnya terdapat pemuda-pemuda Tangguh yang memadati jumlah penduduk tersebut.

Jika kita Melihat kreativitas dan produktivitas dari pemuda di negeri ini dapat dikatakan masih jauh dari kata menggembirakan. Sungguh sangat miris melihat angka pengangguran, putus sekolah dikalangan pemuda yang semakin tinggi. Pada tahun 2014 saja, BPS merilis ada 75,51 % Pemuda di Indonesia tidak bersekolah lagi, parahnya dari survei tersebut angka yang paling tinggi berada di pedesaan.

Parahnya lagi, angka pengangguran yang cukup tajam disumbangkan oleh para sarjana, sebagaimana data BPS terbaru di tahun 2018, hampir 8% dari total 7 juta lebih sarjana menganggur. Angka ini meningkat 1,13% dari tahun 2017. Sedangkan menurut Kemenristek Dikti, di tahun 2017 saja sarjana pengangguran mencapai 8,8%.

Melihat data-data di atas sungguh miris rasanya melihat kondisi pemuda hari ini terlebih para sarjana yang masih menggantungkan hidupnya pada orangtua. Melihat hal yang demikian, saya memandanga ada dua hal yang salah, pertama pemerintah dan kedua orientasi pemudanya. Pemerintah jelas-jelas bersalah dalam hal ini karena tidak mampu menyelesaikan persoalan pemberdayaan manusia secara efektif.

Faktanya sangat jelas kewajiban mereka untuk mensejahterakan rakyat tidak dijalankan semestinya lantaran mereka melakukan kesejahteraan pribadi (korupsi). Hal ini turut mempengaruhi stabilitas ekonomi dalam sektor ketenagakerjaan. Selain itu rendahnya apresiasi pemerintah terhadap kreatifitas generasi muda, hal ini sudah sering terjadi, bahkan sejak zamannya Pak Habibi. Maka wajar jika hari ini pemerintah masih bersalah dan rakyat wajib menyalahkan.

Selain itu orientasi para pemuda saat ini dapat dikatakan tidak jelas arahnya, jika melihat potret mahasiswa sekarang sangat jauh dari kata ”ngeri”. bangku perkuliahan yang seharusnya mereka jadikan tempat mengembangkan diri, nyatanya hanya menjadi tempat duduk yang enak untuk ditempati tanpa melakukan aktivitas apapun selain duduk manis dan mendengarkan dosen. Maka wajar jika selepas itu mereka kehilangan arah sehingga terjerumus dalam perangkat yang bernama ”pengangguran”.

Melalui momentum Sumpah Pemuda ini, adalah saat yang tepat bagi para pemuda untuk merasa galau sedalam-dalamnya. Jika pemuda tidak galau, maka eksistensinya sebagai pemuda patut dipertanyakan. Galau yang saya maksud disini ialah, galau dalam arti keluar dari zona nyaman kita. Jika bangsa ini sedang carut marut, maka sudah sepatutnya kita galau untuk memperbaiki. Jika angka pengangguran semakin meningkat, maka sudah seharusnya kitalah yang menciptakan lapangan pekerjaan.

Menarik untuk dicontoh wujud dari rasa kegalauan seorang pemuda seperti halnya Mark Zuckerberg. Mark merupakan seorang mahasiswa di Harvard University, di tahun 2004 ia sempat menggegerkan dunia dengan inovasi yang ia lakukan yakni dengan membuat jejaring sosial berupa Facebook. Tentu masih banyak cara untuk berinovasi dan berkreasi sebagaimana Mark yakni dengan melalui kegalauan-kegalauan kecil untuk hal yang  besar. Selamat Hari Sumpah Pemuda. 28 Oktober 1928 – 28 Oktober 2018.

*Oleh : Ayu Wilatika (Kader IMM Tamaddun FAI 2017)

Share This Post

Tinggalkan Balasan