Mewujudkan Media Digital yang Beradab

Perkembangan media sosial (medsos) yang sangat pesat memberikan banyak dampak bagi kehidupan umat manusia. Disamping memberikan kemudahkan, dengan adanya medsos manusia juga bisa mendapatkan informasi dari sumber manapun dengan lebih cepat. Kehadiran medsos juga mempermudah interaksi sosial antar sesama tanpa terbatasi oleh jarak. Kehadiran medsos bisa dikatakan merevolusi kebiasaan manusia yang tradisional menjadi modern.

Meskipun memiliki kelebihan, bukan berarti medsos tidak memberikan dampak yang negatif bagi manusia. Justru dengan hadirnya medsos potensi seseorang untuk melakukan tindakan tidak etis semakin terbuka lebar. Tindakan-tindakan seperti melanggar norma sosial, fitnah, hingga praktik tindakan kriminal seperti penipuan dan pencurian semua bisa dilakukan di medsos. Salah satu yang paling terlihat jelas dewasa ini adalah medsos sering dijadikan sebagai media untuk menyebarkan narasi kebencian dan berita bohong (hoax).  Tujuannya tidak lain adalah untuk memecah belah persatuan dan kesatuan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Mirisnya, tindakan serupa juga sudah masuk di area sensitif masyarakat, yaitu agama.

Banyak orang yang dengan sengaja menjadikan agama sebagai alat untuk membenarkan segala tindakan yang dilakukan di medsos. Sehingga medsos menjadi arena pertempuran sekaligus persebaran narasi kebencian dan hoax. Kondisi ini diperparah lagi dengan ketidakmampuan masyarakat untuk menfiltrasi setiap informasi yang di dapatkan, sehingga dengan mudah percaya dan bahkan ikut menjadi pendukung dari aksi-aksi tersebut. Minimnya literasi media juga menjadi faktor utama yang membuat masyarakat sangat akrab dengan narasi kebencian dan hoax.

Generasi milenial menjadi generasi yang paling banyak disoroti dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini. Sebabnya adalah, generasi milenial telah memiliki pengaruh besar terhadap berbagai aspek kehidupan, baik secara personal maupun publik seperti sosial, budaya, ekonomi dan politik. Diantara yang paling terasa adalah peran generasi milenial sebagai penggerak utama dalam memainkan medsos. Medsos merupakan senjata utama bagi generasi milenial dalam berekspresi di dunia publik, termasuk generasi milenial yang berasal dari kalangan umat Islam.

Teori-teori tentang generasi milenial sangat banyak diulas oleh kalangan peneliti dan ilmuan, beberapa diantaranya diulas dalam buku karangan William Strauss dan Neil Howe, yakni Millenial Rising: The Great Next Generation (2000). Selain itu, ada nama Shelina Zahra Janmohammed yang menulis buku Generation M: Young Muslims Changing the World (2016). Mereka menjelaskan bahwa generasi milenial adalah mereka yang lahir pada tahun 1882-2002.  Artinya, generasi milenial adalah mereka yang saat ini memasuki usia 16-36 tahun. Teori ini dibahas pada pendahuluan buku Muslim Milenial.

Di Indonesia, pertumbuhan generasi milenial masuk sebagai salah satu generasi yang terbesar, yakni sekitar 50 persen dari jumlah keseluruhan penduduk Indonesia. Dengan jumlah tersebut, bukan sesuatu yang mustahil jika dalam beberapa tahun kedepan generasi milenial memiliki peran yang sangat strategis bagi keberlanjutan bangsa ini.  Khususnya generasi milenial dikalangan Muslim, yang hari ini menjadi harapan untuk menunjukkan wajah tersenyum Islam Indonesia yang telah hilang karena situasi sosial-politik yang selalu menyajikan narasi kebencian sebagai jalan untuk mencapai suatu tujuan.

Kehadiran buku Muslim Milenial tentunya menjadi pencerah bagi umat Islam di Indonesia, yang hari sedang dijerat berbagi masalah. Buku Muslim Milenial banyak bercerita tentang peran penting Muslim Milenial Indonesia dalam menekan narasi kebencian yang banyak tersebar di medsos. Narasi kebencian yang datang dengan berbagai macam ekspresi, seperti ujaran-ujaran, argumentasi, komentar-komentar yang bersifat visual dan verbal merupakan kekeliruan yang harus mendapat perhatian. Di dalam buku ini dijelaskan bahwa Muslim Milenial Indonesia bisa menghadirkan narasi tandingan melalui viralisasi kebajikan dengan menggunakan medsos sebagai media utama.

Buku yang menceritakan banyak kisah inspirasi dari berbagai penulis ini bisa menjadi rujukan bagi generasi muslim milenial, secara umum bagi generasi muda, untuk menjadi agen-agen perubahan di dunia digital. Caranya dengan menghadirkan narasi tandingan yang bernuansa islami, mengajak pada perdamaian, literasi media, dan konten menarik lainnya yang bertolak belakang dengan narasi kebencian yang hari ini viral.

Dengan banyaknya narasi kebencian saat ini hadir di medsos seperti Instagram, You Tube, Facebook, Twitter dan Whatsapp yang notabenenya adalah tempat generasi milenial berselancar dan menjelajahi dunia sangat berpotensi merasuki pemahaman negenrasi muda dan berprilaku sama dengan apa yang dilihatnya. Sehingga dengan menghadirkan narasi tandingan di tempat yang sama dengan konten yang dibuat oleh generasi muslim milenial adalah jalan satu-satunya untuk melawan. Hal inilah yang juga sekaligus menjadi tujuan utama terbitnya buku ini. Tentunya membawa harapan besar bagi generasi muslim milenial agar menjadi inspirasi dalam bergerak, dan tidak salah dalam menggunakan medsos.

Disamping itu, langkah ini juga menjadi upaya bagi Muslim Milenial untuk menghadirkan kembali wajah Islam di Indonesia, yaitu Islam dengan wajah tersenyum. Hal ini juga sekaligus menjawab pertanyaan Martin van Bruinessen yang dipaparkan dalam pendahuluan buku ini, yang mana dia dalam paper-nya menyampaikan keresahan yang sangat mendalam terhadap Muslim Indonesia yang tidak lagi menunjukkan wajah yang tersenyum dan identik dengan gerakan kemanusiaan. Sebaliknya, bagi Martin Muslim Indonesia hari ini terlihat lebih politis dan partisan.  Sehingga dia memunculkan pertanyaan apa yang terjadi dengan wajah Muslim Indonesia yang tersenyum itu?

Oleh sebab itu, buku ini ingin mengajak para pembaca, khususnya generasi milenial untuk menyelami pemikiran-pemikiran atau ide-ide kekinian yang masih segar dan bergizi. Di mana ide-ide tentang filantropi, medsos sebagai arena bermain, dakwah kekinian, strategi menyuarakan perdamaian hingga cita-cita Muslim Milenial dalam menghadapi tantangan dunia di masa mendatang. Ide-ide tersebut dibahas secara lugas oleh tokoh-tokoh milenial seperti Fadh Pahdepie, Oki Setiana Dewi, Irfan Amalee, Feby Indriani dan masih banyak lagi. Mereka adalah opinion leaders di era digital yang memiliki konsentrasi diberbagai bidang seperti kepenulisan, aktivis ormas, dai, pengamat, pendidik, dan peneliti.

Buku ini harus menjadi bacaan wajib bagi generasi Muslim Milenial di Indonesia, agar memilik wawasan untuk menghadapi realitas yang senantiasa berubah. Buku Muslim Milenial juga banyak memberikan inspirasi yang bisa megantarkan generasi milenial menjadi the great generation di masa mendatang. Gagasan-gagasan yang dituangkan juga terbilang inovatif, khususnya ketika membahas mengenai penggunaan medsos di berbagai lini kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama. Generasi milenial harus mampu menunjukkan karakter mudanya.

Dengan gaya bahasa yang ringan, mengalir dan khas milenial menjadi nilai tersendiri sehingga buku ini layak untuk dimiliki.

 

Resensi Buku Muslim Milenial

Judul Buku                   : Muslim Milenial

Pengarang                    : Subhan Setowara dkk.

Penerbit                         : Mizan

Tahun Terbit                : 2018

Tempat Terbit            : Bandung

Cetakan                        : Pertama

Ukuran                          : 14 cmx 21 cm

Jumlah Halaman      : 267 Halaman

ISBN                               : 978-602-411-063-6

Share This Post

Tinggalkan Balasan