Stop Komersialisasi Pendidikan

imm-malang.org, Malang – Pendidikan pada dasarnya adalah hak bagi semua masyarakat baik dari kalangan atas sampai pada kalangan bawah, sebagaimana diatur dalam uud tahun 1945 pada pasal 31 ayat 1-5 berisi tentang hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak, kewajiban belajar, sistem pendidikan nasional, dan peran pemerintah dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.

Menjadi suatu kewajiban konstitusi secara mutlak untuk menyelanggarakan pendidikan bagi seluruh rakyat indonesia, merupakan hak asasi manusia untuk mendapatkan pendidikan yang layak, hal tersebut dirincikan pada pasal 31 ayat 1 setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan” dan pada pasal 31 ayat 2 “setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dan pemerintah wajib membiyayainya” Menurut hemat penulis hal ini menjadi suatu hak masyarakat untuk mendapatkan seluruh fasilitas belajar yang layak, hak untuk dapat mengikuti proses pembelajaran didalam kelas, serta hak untuk mendaatkan perlindungan dalam hal keamanan dan kenyamanan dalam belajar.

Mengacu pada tujuan dari pada pendidikan itu sendiri, yaitu untuk mempersiapkan Sumber daya manusia yang mampu membangun peradaban manusia, serta mempersiapkan generasi yang kuat dalam menghadapi polemik polemik sosial yang acap kali terjadi dalam masyarakat kecil. Hal tersebut tentunya melalui proses pendidikan yang masif diselenggarakan pada seluruh kalangan. Pada dasarnya pendidikan merupakan peroses menuju suatu peradaban manusia, Dalam ilmu sosial budaya, manusia diistilahkan sebagai makhluk yang harus di didik atau Animal Education dan makhluk yang dapat didik Animal Educable, yaitu makhluk yang berpendidikan dan perlu didik.

Generasi yang baik tergantung pada bagaimana membangun individu yang baik, individu yang baik merupakan buah hasil dari proses pendidikan yang baik, menurut muhibin syah pendidikan merupakan sebuah proses dengan methode methode tertentu sehingga orang akan mendapatkan pengetahuan, pemahaman, serta bertingkah laku sesuai dengan kebutuhan, sedangkan menurut azyumardi azzra pendidikan merupakan suatu proses pemindahan nilai nilai dari generasi ke generasi berikutnya.
Jadi menurut penulis, dari pemaparan pengertian dari pendidikan dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu prosespemindahan nilai nilai budaya, pengetahuan, pemahaman dari generasi ke generasi berikutnya melalui methode methode yang tersisitematis sehingga dapat bertingkah laku sesuai dengan kebutuhan.

Maraknya komersialisasi dalam tubuh pendidikan indonesia merupakan sebuah bias dari nilai nilai pendidikan yang kita miliki, nilai yang kita bangun dari semenjak dahulu dicederai oleh para politikus pendidikan yang tak bertangung jawab, maka sudah barang tertentu hal tersebut merupakan bentuk pelanggaran terhadap niali niali dari pendidikan itu sendiri . Komersialisasi pendidikan bisa terbilang suatu tindakan yang berbahaya, disamping akan menimbulkan suatu persepsi bahwa pendidikan yang semakin mahal, disamping itu pula akan merusak generasi masa depan bangsa serta akan terbentuknya generasi tak berkualitas.
Wabah dari adanya komersialisasi pendidikan mewarnai dinamika dari budaya materialistik, terbangunnya suatu paradigma masyarakat bahwa semakin mahal pendidikan semakin berkualitas lembag pendidikan, mendorong masyarakat untuk berbondong bondong untuk memasukan anaknya ke lembaga pendidikan tersebut dengan cara apapun, akhirnya terjadi sogok menyogok, dan sebaliknya semakin murah lembaga pendidikan maka semakin tak mempunyai nilai serta kulitas lembaga pendidikan dari kuantitas yang ada,hal ini merupakan suatu persepsi yang salah kerena menurut hemat penulis kuantitas tak menjamin kualitas individu, belum lagi kasusus jual beli ijazah, karena sulitnya masyarakat mendapatkan lapangan pekerjaan, memaksakan mereka untuk membeli ijazah dengan harga berappun demi mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan.

Belum lagi dengan paradigma diskriminasi antara sekolah swasta dan sekolah negri, hal tersebit memicu suatu kelas kelas sosial yang ada dimasyarakat. Dalam islam pun dijelaskan dalam surat Al-baqarah ayat 188 Allah Swt bersabda “ dan janganlah kamu memakan harta diantara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahuinya.”
Banyaknya kasus yang penulis jelaskan diatas berdampak pada mental serta karakter dari generasi kita, semakin masyarakat terjerumus dalam wabah tersebut maka akan semakin tak berkualitas generasi bangsa ini. dengan realitas seperti ini apakah generasi kita akan mampu menuruskan estafet perjuangan para pahlawan pemberantas kebodohan yang notabennya sebagai pahlawan kemerdekaan terdahlu kita atau justru sebaliknya?

Maka, sudah barang tertentu hal ini menjadi suatu kewajiban konstitusi dan pihak pihak sekolah dalam menanggapi maraknya komersialisasi dalam tubuh penddikan kita ini, dalam menanggapi hal tersebut seyogyanya lembaga pendidikan dapat mengambil kebijakan kebijakan yang secara masif diberlakukan oleh seluruh kalangan, karena pendidikan pada dasarnya merupakan hak masyarakat untuk merasakannya, sehingga dapat menghapuskan persepsi bahwa pendidikan itu berlaku hanya untuk orang orang yang mampu, sedangkan yang tidak mampu tidak dapat mersakan pendidikan secara formal.
Jika melihat dari kacamata sejarah, sudah saatnya pendidikan terutama diindonesia kemabali pada asas yang dibangun oleh para pejuang pemberantas kebodohan bangsa kita ini, sebut saja Ki Hajar Dewantara dengan taman sisiwa, KH Ahmad dahlan dengan mendirikan Muhammadiyah, serta KH Hasyim Asyari dengan mendirikan Nahdatul ulama, mereka para pioneer pendidikan yang jasanya dapat kita rasakan. Masih ingatkah kejadian dua kota besar jepang yang dipora pondakan oleh skutu dengan menjatuhkan bom atom, apa yang mereka cari pertama kali? Yaitu guru guru, sekarang bisa kita lihat jepang menjadi salah satu negara yang tingakat sumber daya manusianya terbilang mampu bersaing dikancah internasional.

Hal tersebut tak lain adalah kesadaran guru dalam membangun bangsa. Untuk itu, perlunya kesadaran guru dalam membangun dan membina bangsa ini, seperti makna guru semestinya yaitu digugu dan ditiru, karena majunya suatu bangsa dilihat dari bagaimna pendidikan itu diselengarakan, dan diselenggarakannya pendidikan yang baik itu bergantung bagaimana guru mengelola pendidikan tersebut secara profesional.

*Baiturrahman (Ketua Bidang RPK IMM Tamaddun FAI)

Share This Post

Tinggalkan Balasan